Pemerintah Diminta Lakukan Inovasi Bantuan Pangan
Jum'at, 22 Desember 2023 - 11:50 WIB
Arief menjelaskan program bantuan pangan juga diterapkan oleh negara lain di dunia, tidak hanya Indonesia saja. Dia pun menceritakan sejumlah kendala yang dihadapi. Dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, maka jauh lebih sulit untuk mendistribusikan bantuan pangan tersebut. Kondisi ini dikatakan Arief sangat berbeda dengan negara lain.
“Di Indonesia lebih unik lagi karena negara kepulauan. Lebih dari 17.000 pulau ini kita sudah lakukan bantuan pangan di lebih dari 1,5 juta titik GPM (Gerakan Pangan Murah) dan ini memang satu-satunya di dunia karena negara lain nggak bisa serentak kaya di kita,” jelas Arief.
Mantan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini juga menjelaskan pemerintah terus melakukan inovasi terkait bantuan pangan agar bisa memberikan efek berganda. Adapun lewat bantuan pangan ini, kata Arief, Presiden Jokowi ingin menyerap hasil panen petani dan peternak lokal untuk dibeli oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang pangan.
“Jadi ini bukan uang habis pakai, uang hilang. Dibeli dengan harga yang baik kemudian disimpan menjadi CPP atau Cadangan Pangan Pemerintah,” ungkapnya.
“Jadi teman-teman petani hari ini sangat happy setiap ke sawah dengan Pak Presiden membeli di atas Rp7.000 harganya gabah kering siap panen, sehingga bisa dilihat NTP (Nilai Tukar Pertanian) tinggi di atas 113 persen. Dulu 95,28%, sekarang 113-114%,” sambungnya.
“Di Indonesia lebih unik lagi karena negara kepulauan. Lebih dari 17.000 pulau ini kita sudah lakukan bantuan pangan di lebih dari 1,5 juta titik GPM (Gerakan Pangan Murah) dan ini memang satu-satunya di dunia karena negara lain nggak bisa serentak kaya di kita,” jelas Arief.
Mantan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini juga menjelaskan pemerintah terus melakukan inovasi terkait bantuan pangan agar bisa memberikan efek berganda. Adapun lewat bantuan pangan ini, kata Arief, Presiden Jokowi ingin menyerap hasil panen petani dan peternak lokal untuk dibeli oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang pangan.
“Jadi ini bukan uang habis pakai, uang hilang. Dibeli dengan harga yang baik kemudian disimpan menjadi CPP atau Cadangan Pangan Pemerintah,” ungkapnya.
“Jadi teman-teman petani hari ini sangat happy setiap ke sawah dengan Pak Presiden membeli di atas Rp7.000 harganya gabah kering siap panen, sehingga bisa dilihat NTP (Nilai Tukar Pertanian) tinggi di atas 113 persen. Dulu 95,28%, sekarang 113-114%,” sambungnya.
Lihat Juga :