Antisipasi Perang Hibrida, Pengamat Militer: Waspadai Fenomena Post Truth
Senin, 23 Oktober 2023 - 16:04 WIB
Berbeda dengan peperangan konvensional atau tradisional yang berfokus untuk mengalahkan kekuatan militer suatu negara dan mengisolasi masyarakat sipil dari perang, kata Nuning, peperangan hibrida cenderung berfokus untuk memengaruhi populasi suatu negara yang bertujuan mendapatkan atau mengikis dukungan masyarakat terhadap suatu pemerintahan, serta meningkatkan atau membuat tidak relevan penggunaan kekuatan militer.
Sehingga, perang hibrida seringkali digambarkan sebagai population-centric conflict karena yang menjadi target adalah menciptakan konflik dalam populasi suatu negara yang berujung pada instabilitas kemanan nasional suatu negara. ”Fenomena post-truth politik di sosial media yang mengancam demokrasi hingga dapat bereskalasi mengganggu stabilitas kemanan nasional,” ujar Nuning, sapaan akrabnya.
Baca juga: Fakta Perang Hibrida Amerika Serikat-Rusia
Mantan anggota Komisi I DPR ini menjelaskan, post-truth merupakan sebuah kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Kondisi post truth mendapat tempat dalam momentum politik untuk memperkuat sebuah narasi propaganda.
”Dalam hal ini, seobjektif apa pun sebuah informasi, jika tidak memenuhi harapan emosional sebagian golongan publik maka akan disingkirkan (truth decay),” katanya.
Sehingga, perang hibrida seringkali digambarkan sebagai population-centric conflict karena yang menjadi target adalah menciptakan konflik dalam populasi suatu negara yang berujung pada instabilitas kemanan nasional suatu negara. ”Fenomena post-truth politik di sosial media yang mengancam demokrasi hingga dapat bereskalasi mengganggu stabilitas kemanan nasional,” ujar Nuning, sapaan akrabnya.
Baca juga: Fakta Perang Hibrida Amerika Serikat-Rusia
Mantan anggota Komisi I DPR ini menjelaskan, post-truth merupakan sebuah kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Kondisi post truth mendapat tempat dalam momentum politik untuk memperkuat sebuah narasi propaganda.
”Dalam hal ini, seobjektif apa pun sebuah informasi, jika tidak memenuhi harapan emosional sebagian golongan publik maka akan disingkirkan (truth decay),” katanya.
Lihat Juga :