Transfer Teknologi bagi Kemandirian Pertahanan
Senin, 11 September 2023 - 13:00 WIB
Berbagai upaya dalam meningkatkan kemitraan strategis melalui pembelian sejumlah alutsista ini setidaknya mampu menimbulkan efek “getar” bagi agresivitas China yang berpotensi menyeret Indonesia ke dalam konflik Laut China Selatan. Termasuk bagi negara lain yang berpotensi menyisakan persoalan bilateral dan geopolitik.
Sejumlah kebijakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ini juga mampu menjawab kontroversi sebelumnya terkait pembelian 12 pesawat tempur Mirage 2000-5 bekas dari Qatar. Meskipun Presiden pernah berpesan agar jangan membeli alutsista bekas, kemampuan pertahanan negara tetap harus ditingkatkan guna menghadapi berbagai kontestasi dalam sistem internasional yang anarki.
Berbagai ancaman tarik-menarik kekuatan global terkait perang Ukraina-Rusia, eskalasi konflik Laut China Selatan yang berpotensi menyeret Indonesia ke dalam pusaran konflik, ancaman di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar, serta upaya disintegrasi bangsa oleh pengaruh intervensi asing juga menjadi suatu persepsi ancaman tersendiri. Untuk itu, peningkatan kemampuan tempur melalui modernisasi alutsista sangat dibutuhkan dalam mempertahankan wilayah kedaulatan NKRI sebagai harga mati.
Berdasarkan existing condition saat ini, maka pembelian 12 Mirage bekas merupakan langkah paling realistis untuk mengisi celah kekuatan pertahanan udara Indonesia dalam lima tahun berikutnya. Meskipun bekas, penggunaan kemampuan teknologi Mirage yang mendekati generasi baru tentunya sangat bermanfaat sebagai transisi menuju penggunaan pesawat tempur Rafale.
Dapat dikatakan bahwa pembelian 12 unit Mirage ini bukan hanya penting bagi pemenuhan Kebutuhan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) yang ditargetkan mencapai 100 persen pada akhir 2024. Kepentingan yang lebih utama justru untuk memenuhi target Kebutuhan Pokok Pertahanan (Defensive Essential Force) secara menyeluruh demi kedaulatan bangsa.
Untuk itu, upaya Kementerian Pertahanan RI dalam memenuhi kebutuhan operasional matra udara ini sangat berguna sebagai pengganti sementara pesawat tempur Rafale yang kedatangannya masih sekitar lima tahun ke depan. Apalagi, kecanggihan teknologi tempur Mirage ini juga mengarah pada kecanggihan Rafale karena sama-sama diproduksi oleh pabrik Dassault Aviation.
Pemenuhan kebutuhan operasional ini sangat diperlukan dalam menopang minimnya ketersediaan matra udara. Pesawat tempur yang ada saat ini mayoritas sudah berusia tua dan membutuhkan perbaikan.
Ditambah dengan pesawat F5-E Tiger dan A4-Sky Hawk yang sudah pensiun. Berdasarkan minimnya jumlah dan kemampuan alutsista matra udara, maka pencapaian kekuatan udara adalah yang terendah di antara ketiga matra.
Kehadiran Mirage melalui kecanggihan teknologinya mampu menjawab kekhawatiran terhadap kegunaan pembelian pesawat tempur bekas. Mirage penting untuk mengisi kekosongan sementara waktu selama masa penantian kedatangan Rafale yang diperkirakan paling cepat baru datang sekitar tiga tahun ke depan. Dan jika ditotal dengan jangka waktu persiapan operasional penggunaannya, bahkan masih membutuhkan waktu sekitar lima tahun.
Pada masa tunggu inilah Mirage 2000-5 merupakan alutsista udara paling potensial dalam membangun kekuatan penangkal sementara (interim deterrent) untuk menggetarkan lawan. Nilai plus lainnya adalah jam terbangnya yang masih rendah, sehingga Mirage dari Qatar ini diprediksi masih bisa digunakan untuk 15 hingga 20 tahun mendatang.
Pentingnya Transfer Teknologi
Terdapat dua hal penting terkait pembelian Rafale dan F-15. Pertama, term pembayarannya terhadap tagihan sekitar Rp300 triliun diharapkan berjalan lancar dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi perekonomian domestik. Kedua, kontrak perjanjian transfer teknologinya harus diimplementasikan dengan benar agar menguntungkan Indonesia.
Sejumlah kebijakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ini juga mampu menjawab kontroversi sebelumnya terkait pembelian 12 pesawat tempur Mirage 2000-5 bekas dari Qatar. Meskipun Presiden pernah berpesan agar jangan membeli alutsista bekas, kemampuan pertahanan negara tetap harus ditingkatkan guna menghadapi berbagai kontestasi dalam sistem internasional yang anarki.
Berbagai ancaman tarik-menarik kekuatan global terkait perang Ukraina-Rusia, eskalasi konflik Laut China Selatan yang berpotensi menyeret Indonesia ke dalam pusaran konflik, ancaman di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar, serta upaya disintegrasi bangsa oleh pengaruh intervensi asing juga menjadi suatu persepsi ancaman tersendiri. Untuk itu, peningkatan kemampuan tempur melalui modernisasi alutsista sangat dibutuhkan dalam mempertahankan wilayah kedaulatan NKRI sebagai harga mati.
Berdasarkan existing condition saat ini, maka pembelian 12 Mirage bekas merupakan langkah paling realistis untuk mengisi celah kekuatan pertahanan udara Indonesia dalam lima tahun berikutnya. Meskipun bekas, penggunaan kemampuan teknologi Mirage yang mendekati generasi baru tentunya sangat bermanfaat sebagai transisi menuju penggunaan pesawat tempur Rafale.
Dapat dikatakan bahwa pembelian 12 unit Mirage ini bukan hanya penting bagi pemenuhan Kebutuhan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) yang ditargetkan mencapai 100 persen pada akhir 2024. Kepentingan yang lebih utama justru untuk memenuhi target Kebutuhan Pokok Pertahanan (Defensive Essential Force) secara menyeluruh demi kedaulatan bangsa.
Untuk itu, upaya Kementerian Pertahanan RI dalam memenuhi kebutuhan operasional matra udara ini sangat berguna sebagai pengganti sementara pesawat tempur Rafale yang kedatangannya masih sekitar lima tahun ke depan. Apalagi, kecanggihan teknologi tempur Mirage ini juga mengarah pada kecanggihan Rafale karena sama-sama diproduksi oleh pabrik Dassault Aviation.
Pemenuhan kebutuhan operasional ini sangat diperlukan dalam menopang minimnya ketersediaan matra udara. Pesawat tempur yang ada saat ini mayoritas sudah berusia tua dan membutuhkan perbaikan.
Ditambah dengan pesawat F5-E Tiger dan A4-Sky Hawk yang sudah pensiun. Berdasarkan minimnya jumlah dan kemampuan alutsista matra udara, maka pencapaian kekuatan udara adalah yang terendah di antara ketiga matra.
Kehadiran Mirage melalui kecanggihan teknologinya mampu menjawab kekhawatiran terhadap kegunaan pembelian pesawat tempur bekas. Mirage penting untuk mengisi kekosongan sementara waktu selama masa penantian kedatangan Rafale yang diperkirakan paling cepat baru datang sekitar tiga tahun ke depan. Dan jika ditotal dengan jangka waktu persiapan operasional penggunaannya, bahkan masih membutuhkan waktu sekitar lima tahun.
Pada masa tunggu inilah Mirage 2000-5 merupakan alutsista udara paling potensial dalam membangun kekuatan penangkal sementara (interim deterrent) untuk menggetarkan lawan. Nilai plus lainnya adalah jam terbangnya yang masih rendah, sehingga Mirage dari Qatar ini diprediksi masih bisa digunakan untuk 15 hingga 20 tahun mendatang.
Pentingnya Transfer Teknologi
Terdapat dua hal penting terkait pembelian Rafale dan F-15. Pertama, term pembayarannya terhadap tagihan sekitar Rp300 triliun diharapkan berjalan lancar dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi perekonomian domestik. Kedua, kontrak perjanjian transfer teknologinya harus diimplementasikan dengan benar agar menguntungkan Indonesia.
Lihat Juga :