Riset LSI Denny JA: Pandemi Covid-19 Diprediksi Berakhir Juni
Rabu, 29 April 2020 - 16:45 WIB
Negara Kategori C (penanganan kambat) antara lain Kolumbia, Bahrain, Argentina, dan Qatar. Kategori cepat lambat itu tak seluruhnya berarti tingkat kemampuan negara menangani virus Corona. Melainkn juga ditentukan oleh lebih awal atau lebih belakangan virus corona menyebar ke negara itu.
"Yang dimaksud dengan 99 persen tuntas adalah situasi dimana penambahan kasus baru hari per hari menunjukkan grafik yang konsisten menurun. Tidak berarti tak ada lagi korban baru yang terpapar virus. Namun jumlahnya dilihat dari grafik sudah sangat menurun," urainya.
Klaim 100% virus Corona dianggap tuntas hanya dilakukan ketika vaksin ditemukan. University of Singapore memprediksi 100% tercapai pada Desember 2020. Hanya dua negara yang 100% tuntas pada Feb-April 2021. Namun prediksi itu dilakukan semata berdasarkan proyeksi data.
Berbeda dengan Univesity of Singapore, LSI Denny JA mendasarkan 100% tuntas itu pada penemuan vaksin. Khusus 100% tuntas itu tidak dikembangkan dari model proyeksi data.
LSI Denny JA mengelaborasi banyak negara dan perusahan besar yang berlomba menemukan vaksin untuk virus corona. Diprediksi vaksin pertama yang bisa dipakai luas terjadi sekitar Mei-Juli 2021. Saat itulah 100% virus corona tidak menjadi masalah bagi manusia.
Walau prediksi yang dibuat LSI Denny JA berdasarkan metode ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan, namun model itu dibangun dengan aneka asumsi. "Dengan sendirinya jika asumsi itu dilanggar, prediksi tak terjadi," kata Denny JA.
Asumsi yang utama adalah protokol kesehatan yang ditetapkan WHO, aneka pemerintahan, termasuk pemerintah Indonesia, dipatuhi. Protokol kesehatan itu antara lain social distancing, physical distancing, menggunakan masker, mencuci tangan, dan lain sebagainya.
Asumsi lain, vaksin ditemukan pertengahan tahun depan jika kecepatan penelitian labolatorium sama seperti yang sekarang terjadi. Tidak pula lahir mutasi baru virus corona yang kembali menyerang. Ini asumsi berikutnya.
"Jik asumsi di atas terlanggar, dengan sendirinya aneka prediksi di atas tak berlaku. Pembaca diharap memberlakukan prediksi itu dengan hati-hati," katanya.
Menurut dia, Covid-19 menjadi ujian bagi peradaban modern. "Betapa kita sudah mampu terbang ke planet lain. Senjata nuklir kita bisa memusnahkan bumi berkali- kali. Artificial inteligence bisa mengalahkan otak manusia. Namun ternyata peradaban kita tak siap dengan serangan virus yang sangat kecil," katanya.
Kendati begitu, pandemi virus corona bakal berakhir dengan happy ending. Kehidupan sosial banyak negara, termasuk Indonesia bisa normal kembali sebelum vaksin ditemukan.
Untuk Indonesia, seminggu-dua minggu setelah Lebaran, jika protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dipatuhi, di bulan Juni 2020, kehidupan kembali hampir normal. "Saat itu pengusaha dan pekerja dapat kembali ke kantor. Politisi dapat kembali menggelar rapat. Rakyat dapat berkumpul di kafe. Para penyair dapat membacakan puisi di berbagai mimbar," tuturnya.
"Yang dimaksud dengan 99 persen tuntas adalah situasi dimana penambahan kasus baru hari per hari menunjukkan grafik yang konsisten menurun. Tidak berarti tak ada lagi korban baru yang terpapar virus. Namun jumlahnya dilihat dari grafik sudah sangat menurun," urainya.
Klaim 100% virus Corona dianggap tuntas hanya dilakukan ketika vaksin ditemukan. University of Singapore memprediksi 100% tercapai pada Desember 2020. Hanya dua negara yang 100% tuntas pada Feb-April 2021. Namun prediksi itu dilakukan semata berdasarkan proyeksi data.
Berbeda dengan Univesity of Singapore, LSI Denny JA mendasarkan 100% tuntas itu pada penemuan vaksin. Khusus 100% tuntas itu tidak dikembangkan dari model proyeksi data.
LSI Denny JA mengelaborasi banyak negara dan perusahan besar yang berlomba menemukan vaksin untuk virus corona. Diprediksi vaksin pertama yang bisa dipakai luas terjadi sekitar Mei-Juli 2021. Saat itulah 100% virus corona tidak menjadi masalah bagi manusia.
Walau prediksi yang dibuat LSI Denny JA berdasarkan metode ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan, namun model itu dibangun dengan aneka asumsi. "Dengan sendirinya jika asumsi itu dilanggar, prediksi tak terjadi," kata Denny JA.
Asumsi yang utama adalah protokol kesehatan yang ditetapkan WHO, aneka pemerintahan, termasuk pemerintah Indonesia, dipatuhi. Protokol kesehatan itu antara lain social distancing, physical distancing, menggunakan masker, mencuci tangan, dan lain sebagainya.
Asumsi lain, vaksin ditemukan pertengahan tahun depan jika kecepatan penelitian labolatorium sama seperti yang sekarang terjadi. Tidak pula lahir mutasi baru virus corona yang kembali menyerang. Ini asumsi berikutnya.
"Jik asumsi di atas terlanggar, dengan sendirinya aneka prediksi di atas tak berlaku. Pembaca diharap memberlakukan prediksi itu dengan hati-hati," katanya.
Menurut dia, Covid-19 menjadi ujian bagi peradaban modern. "Betapa kita sudah mampu terbang ke planet lain. Senjata nuklir kita bisa memusnahkan bumi berkali- kali. Artificial inteligence bisa mengalahkan otak manusia. Namun ternyata peradaban kita tak siap dengan serangan virus yang sangat kecil," katanya.
Kendati begitu, pandemi virus corona bakal berakhir dengan happy ending. Kehidupan sosial banyak negara, termasuk Indonesia bisa normal kembali sebelum vaksin ditemukan.
Untuk Indonesia, seminggu-dua minggu setelah Lebaran, jika protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dipatuhi, di bulan Juni 2020, kehidupan kembali hampir normal. "Saat itu pengusaha dan pekerja dapat kembali ke kantor. Politisi dapat kembali menggelar rapat. Rakyat dapat berkumpul di kafe. Para penyair dapat membacakan puisi di berbagai mimbar," tuturnya.
(dam)
Lihat Juga :