Denny JA Bicara Potensi Memudarnya Peran Ulama, Pendeta, dan Biksu
Kamis, 23 Maret 2023 - 06:05 WIB
Denny JA menjelaskan di era seperti ini memang sudah cukup matang bagi individu untuk mencari jalan kebenaran secara mandiri. Individu tak lagi memerlukan otoritas spiritual yang seolah menjadi juru bicara Nabi atau Tuhan.
Maka di titik inilah, peran ulama, pendeta, dan biksu memudar. Agama berevolusi ke tahap zaman yang lebih mengagungkan kedaulatan individu untuk urusan spiritual. Namun, yang dibutuhkan setiap individu di era ini hanyalah kawan untuk diskusi, bertukar pengalaman, dan pemahaman.
Apalagi, kata Denny JA, saat ini era di mana setiap individu dilindungi hak asasinya yang bisa memilah sendiri dan memilih dari 4.300 agama yang ada, serta puluhan tafsir yang ada yang sesuai dengan gaya hidup dan selera berpikirnya.
Menurut Denny JA, dua individu dalam agama yang sama juga tak perlu berujung pada pemahaman agama yang sama. Sebab, riwayat hidup dan cetak batin setiap individu juga tak sama. Mereka pun menghadapi kondisi sosial yang tak sama.
“Mengapa pula mereka harus memiliki tafsir agama yang sama? Tapi, bukankah setiap komunitas agama memerlukan organisasi? Benar!” terangnya.
Meski begitu, yang dibutuhkan komunitas itu lebih sebagai manajemen dan administrasi modern, di mana pengurusnya dipilih secara berkala oleh komunitasnya sendiri. Posisi para pemimpin agama ini bisa berjenjang dari tingkat komunitas kecil, hingga nasional dan internasional.
Organisasi jenis ini cukup hanya memiliki otoritas manajemen tapi tak punya otoritas spiritual. Pada tingkat individu itulah otoritas spiritual berada.
“Agama Bahai sendiri sudah berjalan selama 180 tahun. Dalam doktrin agama mereka, memang secara sengaja mereka tak memberi tempat kepada perantara, seperti ulama, pendeta, dan biksu. Tak ada sejenis ulama, pendeta, atau biksu dalam agama Bahai. Agama lain di luar Bahai pada waktunya juga akan mengarah ke sini,” ungkap Denny JA.
Denny JA menambahkan kedaulatan individu kini sudah didukung oleh teknologi informasi yang tinggi yang sudah menyediakan ekosistem bagi kemandirian individu soal agama sekalipun.
Saat ini, kemungkinan manusia tengah memasuki bab terakhir dari sejarah agama yang perlahan tapi pasti tak memerlukan otoritas spiritual itu lagi. Ulama, pendeta, dan biksu akan tetap hadir tapi peran mereka tak lagi signifikan seperti di era sebelumnya.
“Hari ini bersama kita merayakan Hari Raya Nawruz, tahun baru yang dirayakan penganut Bahai. Selaku agama yang sangat baru, usianya belum 200 tahun, agama Bahai menyebarluaskan banyak gagasan yang bahkan sangat maju bagi telinga abad ke-21,” terangnya.
Baca juga: Tukang Daging Ateis Ini Masuk Islam, Merasa Menemukan Sesuatu yang Hilang
Denny JA menyebut dalam beberapa isu, agama Bahai memiliki ajaran yang kontras, misalnya dengan agama Islam meski setiap agama tak harus sama. “Walau berbeda, kita meyakini bahwa kita bisa disatukan oleh esensi yang sama dari setiap agama, yaitu seruan kepada kebajikan, keadilan, dan compassion. Zaman terus berubah. Berubah pula cara kita memahami hidup. Berubah pula cara kita beragama,” tutupnya.
Maka di titik inilah, peran ulama, pendeta, dan biksu memudar. Agama berevolusi ke tahap zaman yang lebih mengagungkan kedaulatan individu untuk urusan spiritual. Namun, yang dibutuhkan setiap individu di era ini hanyalah kawan untuk diskusi, bertukar pengalaman, dan pemahaman.
Apalagi, kata Denny JA, saat ini era di mana setiap individu dilindungi hak asasinya yang bisa memilah sendiri dan memilih dari 4.300 agama yang ada, serta puluhan tafsir yang ada yang sesuai dengan gaya hidup dan selera berpikirnya.
Menurut Denny JA, dua individu dalam agama yang sama juga tak perlu berujung pada pemahaman agama yang sama. Sebab, riwayat hidup dan cetak batin setiap individu juga tak sama. Mereka pun menghadapi kondisi sosial yang tak sama.
“Mengapa pula mereka harus memiliki tafsir agama yang sama? Tapi, bukankah setiap komunitas agama memerlukan organisasi? Benar!” terangnya.
Meski begitu, yang dibutuhkan komunitas itu lebih sebagai manajemen dan administrasi modern, di mana pengurusnya dipilih secara berkala oleh komunitasnya sendiri. Posisi para pemimpin agama ini bisa berjenjang dari tingkat komunitas kecil, hingga nasional dan internasional.
Organisasi jenis ini cukup hanya memiliki otoritas manajemen tapi tak punya otoritas spiritual. Pada tingkat individu itulah otoritas spiritual berada.
“Agama Bahai sendiri sudah berjalan selama 180 tahun. Dalam doktrin agama mereka, memang secara sengaja mereka tak memberi tempat kepada perantara, seperti ulama, pendeta, dan biksu. Tak ada sejenis ulama, pendeta, atau biksu dalam agama Bahai. Agama lain di luar Bahai pada waktunya juga akan mengarah ke sini,” ungkap Denny JA.
Denny JA menambahkan kedaulatan individu kini sudah didukung oleh teknologi informasi yang tinggi yang sudah menyediakan ekosistem bagi kemandirian individu soal agama sekalipun.
Saat ini, kemungkinan manusia tengah memasuki bab terakhir dari sejarah agama yang perlahan tapi pasti tak memerlukan otoritas spiritual itu lagi. Ulama, pendeta, dan biksu akan tetap hadir tapi peran mereka tak lagi signifikan seperti di era sebelumnya.
“Hari ini bersama kita merayakan Hari Raya Nawruz, tahun baru yang dirayakan penganut Bahai. Selaku agama yang sangat baru, usianya belum 200 tahun, agama Bahai menyebarluaskan banyak gagasan yang bahkan sangat maju bagi telinga abad ke-21,” terangnya.
Baca juga: Tukang Daging Ateis Ini Masuk Islam, Merasa Menemukan Sesuatu yang Hilang
Denny JA menyebut dalam beberapa isu, agama Bahai memiliki ajaran yang kontras, misalnya dengan agama Islam meski setiap agama tak harus sama. “Walau berbeda, kita meyakini bahwa kita bisa disatukan oleh esensi yang sama dari setiap agama, yaitu seruan kepada kebajikan, keadilan, dan compassion. Zaman terus berubah. Berubah pula cara kita memahami hidup. Berubah pula cara kita beragama,” tutupnya.
(kri)
Lihat Juga :