Seni Mengelola Emosi

Senin, 27 Februari 2023 - 07:58 WIB
Meskipun demikian, menurut Priatno H Martokoesoemo, emosi negatif yang intens, baik yang meluap ke dalam pikiran sadar ataupun yang terus terpendam dalam pikiran bawah sadar, dapat tetap memicu LoSA (Law of Spritual Attraction) untuk hal-hal yang negatif. Jika hal ini tidak diproses dengan baik, emosi-emosi negatif tersebut akan mengganggu aktivitas-aktivitas positif Anda.

Bagaimana cara menghadapi emosi negatif yang bersemayam dalam diri kita? Pertanyaan semacam ini mungkin pernah terbetik di benak banyak orang. Hal ini sangatlah wajar, karena setiap orang pernah berhadapan pada situasi-situasi yang membuatnya terpicu oleh rasa amarah atau kesal pada seseorang sehingga membuatnya selalu ingin meluapkan amarahnya tersebut.

Salah satu cara mengelola emosi negatif adalah berusaha mengendalikan diri dan mengingat-ingat berbagai dampak buruk yang kerap ditimbulkan dari pelampiasan emosi negatif tersebut. Dampak buruk yang dimaksudkan misalnya terputusnya hubungan pertemanan atau persaudaraan dan menurunnya ketahanan tubuh sehingga rentan terserang virus penyakit.

Tidak sedikit orang yang menyesal setelah melakukan tindakan fatal, seperti mengamuk atau merusak sesuatu yang dipicu oleh kemarahan yang tak terkendali. Terkadang, pelakunya sendiri tidak mengerti mengapa ia dapat melakukan tindakan yang tak pantas tersebut. Oleh karena itu, marah merupakan salah satu bentuk emosi yang harus diwaspadai (halaman 48).

Hal yang selanjutnya penting kita waspadai bahwa emosi negatif dapat merangsang munculnya virus penyakit. Dalam buku ini diungkapkan, banyak penelitian medis yang telah membuktikan bahwa erat kaitannya antara sifat suka marah terhadap kesehatan seseorang. Mulai dari darah tinggi, jantung, hingga stroke, semuanya adalah konsekuensi logis dari orang yang gampang tersulut emosinya.

Dampak negatif marah terhadap jantung adalah sebuah fakta yang tidak bisa dibantah lagi. Sebuah penelitian di AS menunjukkan bahwa pria yang bertemperamen keras lebih sering mengalami sakit jantung dini dibanding pria yang lebih kalem.

Studi yang melibatkan lebih dari seribu responden ini juga mengungkapkan fakta bahwa orang yang selalu dalam situasi marah, mudah tersinggung, dan tertekan akan cenderung mengalami peningkatan risiko gangguan jantung sampai tiga kali lipat (halaman 56).

Sementara itu, Dr Elaine Eaker, pimpinan peneliti dan presiden Eaker Epidemiology Enterprises, mengemukakan bahwa marah dapat membantu percepatan pembuatan atrial fibrillation yang berpengaruh pada percepatan denyut jantung. Atrial fibrillation inilah yang dapat memicu timbulnya stroke karena dua rahang dalam jantung menjadi kewalahan memompa darah keluar (halaman 57).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!