Dulu Jualan Kue Cucur di Tebet, Siapa Sangka Sosok Ini Jadi Lulusan Terbaik Akmil, Seskoad, dan Sesko TNI
Minggu, 26 Februari 2023 - 08:38 WIB
KSAD ke-29 Jenderal TNI Budiman dikenal sebagai sosok cerdas. Mantan Pangdam Diponegoro itu merupakan lulusan terbaik Akmil 1978, Seskoad 1994, dan Sesko TNI 2001. Foto-foto/TNI AD
JAKARTA - Lahir dan besar dari keluarga sangat sederhana mewarnai perjalanan hidup Jenderal TNI (Purn) Budiman . Keprihatinan semasa bocah itu telah menempanya menjadi sosok dengan tekad kuat dan pantang menyerah.
Banyak orang mengenal Budiman sebagai jenderal TNI AD bintang empat. Portofolio militernya juga dihiasi dengan catatan mentereng. Lulusan terbaik Akademi Militer 1978 ini pernah dipercaya sebagai KSAD. Namun tak banyak orang tahu dia pernah mengisi hari-harinya dengan berjualan kue cucur di Tebet, Jakarta Selatan. Baca juga: Dicurangi saat Masuk Tentara, Tak Disangka Karier Prajurit Ini Melejit Jadi Jenderal TNI
Budiman lahir pada Selasa Pon, 25 September 1956. Ayahnya, Sadeli Sunyoto, seorang guru SD yang kemudian kariernya meningkat jadi Kepala SDN Kebon Manggis 01 Matraman, Jakarta Timur. Ibunya, Titin Sumartini, ibu rumah tangga. Keluarga Sadeli hidup dalam kesederhanaan. Ekonomi mereka pas-pasan.
Selain mengajar, sang ayah juga berjualan soto untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Adapun sang ibu membantu dengan berjualan aneka panganan mulai bubur kacang hijau, kue cucur, comro, singkong goreng, dan lainnya. Budi merasakan betul hari-hari dalam suasana sulit itu. Namun dia tak berpangku tangan. Budi turut membantu dengan berjualan cucur keluar masuk kampung di Tebet, tempat mereka tinggal.
“Sejak kelas 1-4 SD, saya bagian yang menjual mulai jam 05.00-06.00 WIB. Kalau nggak laku, saya jual di sekolah,” ujar Budiman dalam buku biografi berjudul ‘Jenderal TNI Budiman, Kasad Peduli Kesejahteraan Prajurit’ yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, dikutip Minggu (26/2/2023).
Perjuangan hidup tak hanya dari sisi ekonomi keluarga. Tempat tinggal mereka juga terbilang sangat sederhana. Semula rumah Sadeli-Titin awalnya di tengah perkampungan padat penduduk di Kampung Bali Matraman. Pada 1968 ketika Budi lulus SD, orang tuanya menempati ‘rumah baru’ di Jalan Slamet Riyadi II/7B.
Rumah itu sebetulnya bekas bangunan WC sekolah. Setelah dirobohkan dibangun bangunan baru. Karena dibikin dengan bahan seadanya dan terburu-buru, ada bagian-bagian yang sekadar ditempel triplek bekas. Ketika panas menyengat, triplek itu ada yang melengkung sehingga membuat celah di dinding.
“Jika malam hari, angin dari luar masuk sehingga Budi dan saudara-saudaranya kedinginan,” tulis Disjarahad.
Menembus Lembah Tidar
Lulus SD, Budi menempuh pendidikan di SMP L (50) Jakarta. Setelahnya, dia melanjutkan pendidikan menengah di SMAN 8 Jakarta. Di kelas dua dia masuk penjurusan Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam (Paspal). Selama di sekolah, Budi aktif di OSIS dan berbagai kegiatan lain seperti pentas seni di radio serta televisi.
Lokasi SMAN 8 di Bukit Duri ketika itu termasuk daerah yang kerap kebanjiran. Situasi ini sedikit banyak memengaruhi karakter siswa. Mereka terbiasa untuk saling menolong dan tidak sombong. Begitu pula yang dirasakan Budiman.
“Masa-masa di SMP dan SMA telah membentuk karakter saya. Selain pendidikan formal, sekolah juga telah memberikan pendidikan budi pekerti sebagai bekal saya hingga kini,” tutur anak ke-2 dari sembilan bersaudara ini.
Lulus SMA, murid yang dikenal cerdas ini memutuskan untuk berkarier sebagai tentara. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ayahnya telah berujar hanya mampu mengantar pendidikan hingga SMA. Jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan, maka anak-anaknya diminta mencari beasiswa.
Terdorong situasi itu Budiman pun menjajal mengikuti seleksi Akabri Darat (kini Akmil) di Kodam Jaya pada 1974. Semua persyaratan hingga tes dia jalani dengan tekad kuat dan kesabaran. Pada akhirnya, lolos lah dia menuju Lembah Tidar, Magelang.
Banyak orang mengenal Budiman sebagai jenderal TNI AD bintang empat. Portofolio militernya juga dihiasi dengan catatan mentereng. Lulusan terbaik Akademi Militer 1978 ini pernah dipercaya sebagai KSAD. Namun tak banyak orang tahu dia pernah mengisi hari-harinya dengan berjualan kue cucur di Tebet, Jakarta Selatan. Baca juga: Dicurangi saat Masuk Tentara, Tak Disangka Karier Prajurit Ini Melejit Jadi Jenderal TNI
Budiman lahir pada Selasa Pon, 25 September 1956. Ayahnya, Sadeli Sunyoto, seorang guru SD yang kemudian kariernya meningkat jadi Kepala SDN Kebon Manggis 01 Matraman, Jakarta Timur. Ibunya, Titin Sumartini, ibu rumah tangga. Keluarga Sadeli hidup dalam kesederhanaan. Ekonomi mereka pas-pasan.
Selain mengajar, sang ayah juga berjualan soto untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Adapun sang ibu membantu dengan berjualan aneka panganan mulai bubur kacang hijau, kue cucur, comro, singkong goreng, dan lainnya. Budi merasakan betul hari-hari dalam suasana sulit itu. Namun dia tak berpangku tangan. Budi turut membantu dengan berjualan cucur keluar masuk kampung di Tebet, tempat mereka tinggal.
“Sejak kelas 1-4 SD, saya bagian yang menjual mulai jam 05.00-06.00 WIB. Kalau nggak laku, saya jual di sekolah,” ujar Budiman dalam buku biografi berjudul ‘Jenderal TNI Budiman, Kasad Peduli Kesejahteraan Prajurit’ yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, dikutip Minggu (26/2/2023).
Perjuangan hidup tak hanya dari sisi ekonomi keluarga. Tempat tinggal mereka juga terbilang sangat sederhana. Semula rumah Sadeli-Titin awalnya di tengah perkampungan padat penduduk di Kampung Bali Matraman. Pada 1968 ketika Budi lulus SD, orang tuanya menempati ‘rumah baru’ di Jalan Slamet Riyadi II/7B.
Rumah itu sebetulnya bekas bangunan WC sekolah. Setelah dirobohkan dibangun bangunan baru. Karena dibikin dengan bahan seadanya dan terburu-buru, ada bagian-bagian yang sekadar ditempel triplek bekas. Ketika panas menyengat, triplek itu ada yang melengkung sehingga membuat celah di dinding.
“Jika malam hari, angin dari luar masuk sehingga Budi dan saudara-saudaranya kedinginan,” tulis Disjarahad.
Menembus Lembah Tidar
Lulus SD, Budi menempuh pendidikan di SMP L (50) Jakarta. Setelahnya, dia melanjutkan pendidikan menengah di SMAN 8 Jakarta. Di kelas dua dia masuk penjurusan Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam (Paspal). Selama di sekolah, Budi aktif di OSIS dan berbagai kegiatan lain seperti pentas seni di radio serta televisi.
Lokasi SMAN 8 di Bukit Duri ketika itu termasuk daerah yang kerap kebanjiran. Situasi ini sedikit banyak memengaruhi karakter siswa. Mereka terbiasa untuk saling menolong dan tidak sombong. Begitu pula yang dirasakan Budiman.
“Masa-masa di SMP dan SMA telah membentuk karakter saya. Selain pendidikan formal, sekolah juga telah memberikan pendidikan budi pekerti sebagai bekal saya hingga kini,” tutur anak ke-2 dari sembilan bersaudara ini.
Lulus SMA, murid yang dikenal cerdas ini memutuskan untuk berkarier sebagai tentara. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ayahnya telah berujar hanya mampu mengantar pendidikan hingga SMA. Jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan, maka anak-anaknya diminta mencari beasiswa.
Terdorong situasi itu Budiman pun menjajal mengikuti seleksi Akabri Darat (kini Akmil) di Kodam Jaya pada 1974. Semua persyaratan hingga tes dia jalani dengan tekad kuat dan kesabaran. Pada akhirnya, lolos lah dia menuju Lembah Tidar, Magelang.
Lihat Juga :