Bacaleg Partai Perindo Ceritakan Asal Mula Fenomena Klitih Yogyakarta
Minggu, 22 Januari 2023 - 20:09 WIB
"Cuman ketika di tahun 2016 sasarannya bukan pertikaian antar geng tetapi lebih kepada orang umum, masyarakat umum. Nah itu yang yang sekarang itu menjadi sorotan untuk kita semua, jadi random, jadi tidak apa pun ada mereka sekumpulan nih naik motor, ya kumpulan terus kemudian lewat di sebuah jalan di depannya kemudian ada motor lain pengendara lain, nah mereka anggap menghalangi jalan mereka, itu langsung di ini, dianiaya," ungkap Tato.
Soal kenapa muncul fenomena Klitih, Tato menjelaskan, ada beberapa faktor penyebabnya, yang salah satu paling utama adalah lingkungan dan keluarga. Jadi kebanyakan, anak-anak yang suntuk di dalam keluarganya akhirnya mereka mencari-cari kegiatan, karena di rumahnya merasa tidak nyaman.
Jadi mereka mencari kegiatan di luar akhirnya berkumpul dengan teman-temannya yang akhirnya bisa bersifat positif dan juga negatif. "Yang positif itu kalau misalkan mereka tugas belajar, nah yang negatifnya adalah ketika mereka berkumpul terus kemudian menggunakan seperti narkoba atau minum-minuman keras," paparnya.
Dari efek negatif itu, lanjut Tato, saat keadaan anak-anak itu di bawah pengaruh alkohol dan narkoba, akhirnya mereka berkumpul jalan dengan menggunakan sepeda motor, kemudian secara sembarangan mencari korban dam membawa senjata tajam. Klitih ini tidak mengambil barang melainkan menyakiti orang lain secara acak, demi eksistensi dirinya di kelompok mereka. Baca juga: Survei LSI: Elektabilitas Partai Perindo Tembus 4,8%, Salip PKB, PPP, dan PAN
"Nah dari hasil analisa pun juga bahwa mereka melakukan hal itu sebenarnya untuk mencari eksistensi gitu. Jadi ketika mereka berhasil melukai orang, banyak orang, mereka bangga dan menjadi di kelompoknya itu semakin naik kelas istilahnya gitu, bisa semakin berkembang ini, ya gengsi-gengsian ya," pungkasnya.
Soal kenapa muncul fenomena Klitih, Tato menjelaskan, ada beberapa faktor penyebabnya, yang salah satu paling utama adalah lingkungan dan keluarga. Jadi kebanyakan, anak-anak yang suntuk di dalam keluarganya akhirnya mereka mencari-cari kegiatan, karena di rumahnya merasa tidak nyaman.
Jadi mereka mencari kegiatan di luar akhirnya berkumpul dengan teman-temannya yang akhirnya bisa bersifat positif dan juga negatif. "Yang positif itu kalau misalkan mereka tugas belajar, nah yang negatifnya adalah ketika mereka berkumpul terus kemudian menggunakan seperti narkoba atau minum-minuman keras," paparnya.
Dari efek negatif itu, lanjut Tato, saat keadaan anak-anak itu di bawah pengaruh alkohol dan narkoba, akhirnya mereka berkumpul jalan dengan menggunakan sepeda motor, kemudian secara sembarangan mencari korban dam membawa senjata tajam. Klitih ini tidak mengambil barang melainkan menyakiti orang lain secara acak, demi eksistensi dirinya di kelompok mereka. Baca juga: Survei LSI: Elektabilitas Partai Perindo Tembus 4,8%, Salip PKB, PPP, dan PAN
"Nah dari hasil analisa pun juga bahwa mereka melakukan hal itu sebenarnya untuk mencari eksistensi gitu. Jadi ketika mereka berhasil melukai orang, banyak orang, mereka bangga dan menjadi di kelompoknya itu semakin naik kelas istilahnya gitu, bisa semakin berkembang ini, ya gengsi-gengsian ya," pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :