SUN dan ORI Tetap Jadi Pilihan Aman

Senin, 11 Mei 2015 - 09:19 WIB
SUN dan ORI Tetap Jadi...
SUN dan ORI Tetap Jadi Pilihan Aman
A A A
Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah membuat investor cukup sulit untuk melakukan investasi. Meski begitu, investor tak perlu khawatir karena masih ada bentuk investasi yang relatif aman seperti Surat Utang Negara (SUN) dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI).

Siswa Rizali, Direktur Investasi PT AAA Asset Management, mengatakan, dari sisi investasi, area yang sulit untuk mencari keuntungan di saat IHSG melemah adalah spekulasi nilai tukar. ”Orang mungkin melihatnya mudah, dari angka Rp10.000 ke Rp13.000, masih dapat 30%. Namun, jika Anda masuk di posisi Rp13.000, apakah yakin bisa untung 30%? Jangan sampai justru rupiah menguat, berarti Anda rugi,” ujarnya.

Meski begitu, para investor tidak perlu khawatir dengan kondisi ini. Menurut Rizal, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencermati IHSG yang melemah. Pertama, tetap fokus pada fundamental instrumen investasi yang dituju, baik itu saham, obligasi, ataupun nilai tukar. Kedua, berani beli saham dengan valuasi yang murah.

”Contohnya seperti saham consumer yang relatif murah, tetapi dengan likuiditas kurang. Orang akan cenderung memilih saham consumer yang likuiditasnya tinggi karena market kapitalisasinya besar. Namun, biasanya sudah memiliki valuasi yang mahal,” ungkapnya. Ketiga, berani memperpanjang horizon investasinya. Salah satu cara yang masih dapat dijadikan lindung nilai (hedging) saat ini adalah investasi di Surat Utang Negara (SUN). Rizal berasumsi, jika saat ini SUN memiliki yield sekitar 8%, maka selama masa tunggu dalam setahun bisa mendapatkan 8%.

”Kalau kemudian harga pulih, kita dapat capital gain tambahan misalnya 3%, berarti total return-nya menjadi 11%,” tutur Rizal. Sebaliknya, kalau harga SUN ternyata mengalami koreksi lagi sekitar 5%, maka hanya akan mendapatkan 3%. Rizal menambahkan, meskipun SUN mengalami gejolak, jumlah investor yang datang untuk berinvestasi terus bertambah. Hal itu disebabkan karena adanya yield yang didapatkan selama menunggu kondisi membaik dan kemampuan pemerintah membayar utang.

Namun, semua itu tidak dapat diprediksi. Sebab, ketika kondisi bergejolak seperti ini, semua mendapatkan imbas seperti rupiah jatuh, saham jatuh, sampai harga SUN juga jatuh. ”Kita tidak bisa melakukan hedging dalam kondisi seperti ini. Kecuali jika bisa masuk di pasar derivatif. Tetapi, itu tidak dapat dilakukan di Indonesia. Misalnya di luar negeri bisa masuk ke pasar forward dan opsi. Sebab, hedging tidak dapat dilakukan karena tidak ada instrumen yang boleh ditransaksikan,” paparnya.

Rizal mengatakan, kondisi pasar seperti ini sudah terjadi selama empat tahun belakangan. ”Sekarang yang dapat dilakukan adalah ketika pasar bergejolak, instrumen yang fundamentalnya bagus akan mengalami koreksi harga. Dalam bahasa investasi adalah valuasinya jadi lebih murah sehingga potensi return-nya akan lebih tinggi,” katanya.

Jika sudah terjadi kondisi tersebut, tergantung apakah Anda berani masuk atau tidak. Artinya, harus berani ambil posisi untuk mendapat potensi return lebih baik di masa yang akan datang. ”Untuk menunggu return, tekniknya adalah, jika investasi di SUN dengan yield sekitar 8,5%. Kalau terjadi rally, contoh ketika rallySUN beberapa waktu lalu dari harga 95 menjadi 110. Berarti rally yang didapat 15%, kemudian ditambah dengan yield-nya 8,5%, jadi total returnnya mencapai 20% lebih,” ungkapnya.

Namun, jika skenarionya adalah SUN mengalami koreksi lagi sekitar 5%, maka masih akan mendapatkan return yang positif. Pada saat IHSG melemah, pakar keuangan Budi Frensidy mengakui itu bukan menjadi waktu yang tepat dan aman untuk melakukan investasi. Risiko yang masih besar ke depan karena penurunan dari laba dan pendapatan emiten sedang terjadi di kuartal I. ”Maka, bagi yang sedang berinvestasi, ada baiknya melakukan rebalancing atau pemindahan dari emiten yang mengalami penurunan laba. Kondisi akan lebih parah kalau masih punya utang dalam valuta asing,” ujarnya.

Pada saat seperti ini, Budi biasanya memberikan rekomendasi untuk investasi pada obligasi pemerintah yang memiliki potensi jangka panjang dengan kisaran yield8%. ”Walaupun tidak terlalu besar, keuntungan akan tetap di atas deposito. Jadi bisa dengan investasi di SUN atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI),” ujarnya. Hanya, ketika memutuskan investasi pada obligasi pemerintah, sebaiknya harus mengetahui untung dan risikonya. Budi menjelaskan, keuntungan obligasi pemerintah adalah karena mendapatkan kupon yang tetap dibayarkan secara periodik setiap enam bulan sekali untuk SUN dan setiap bulan untuk ORI.

”Selain itu, ada kemungkinan jika inflasi turun bunga BI juga turun sehingga investor akan meminta yield yang lebih rendah terhadap obligasi pemerintah. Maka, harga pasar obligasi akan naik,” ungkapnya. Adapun risiko dari obligasi negara adalah jika terjadi kenaikan inflasi dan BI rate, maka yield obligasi ikut naik sehingga akan menekan harga pasar obligasi yang ada. Untuk melakukan investasi juga perlu melihat kondisi yang baik.

Jika kondisi ekuitas sudah pulih, maka dapat dipertimbangkan untuk masuk lagi ke pasar saham. Dengan membeli obligasi seperti yang dijelaskan sebelumnya, secara tidak langsung dapat mempertahankan daya beli melalui kupon tetap yang diperoleh. ”Kalau kita tidak mendapatkan return dari uang kita, maka akan ada penurunan daya beli terdampak oleh inflasi. Jadi, ini akan menjadi salah satu alternatif agar daya beli kita tidak turun,” ungkapnya.

Budi menambahkan, sebenarnya ada beberapa saham yang masih bisa memberikan keuntungan di atas obligasi, yaitu dengan return mencapai 10- 15%. ”Masalahnya kita benar-benar harus selektif memilih. Perlu melihat laporan keuangan dan pengaruh nilai tukar,” katanya. Budi menambahkan, kenyataannya sebagian besar justru tidak mengalami peningkatan laba. Justru tertekan karena biaya utang yang meningkat.

Dengan kondisi seperti ini juga sulit untuk berspekulasi nilai tukar. Sebab, tidak ada kepastian untung meskipun menunggu hingga enam bulan, apakah rupiah akan terus stabil di angka Rp13.000. ”Faktor yang berat adalah nilai tukar. Kalau begini terus, saya khawatir karena banyak yang tertekan,” ujarnya.

Dina angelina
(ars)
Berita Terkait
Jabatan Apa pun yang...
Jabatan Apa pun yang Diemban, Milenial Harus Punya Integritas
Puasa di Tengah Pandemi...
Puasa di Tengah Pandemi Covid-19, Jaga Gizi Seimbang dan Berpikir Positif
iPhone Bakal Dibekali...
iPhone Bakal Dibekali Kamera Periskop di 2020
Menghadapi Ujian pada...
Menghadapi Ujian pada Hari Kemenangan
Bertahan di Tengah Pandemi,...
Bertahan di Tengah Pandemi, Pengusaha Dituntut Kreatif untuk Survive
New Normal, Kebutuhan...
New Normal, Kebutuhan Alat Olah Raga Baru Meningkat
Berita Terkini
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Pengadilan Tinggi Singapura...
Pengadilan Tinggi Singapura Tolak Gugatan Paulus Tanos, Menkum Koordinasi KPK dan Polri
Eks Wakil Kepala BGN...
Eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Masih Syok setelah Jadi Tersangka Korupsi
Bahas RUU Polri, Habiburokhman...
Bahas RUU Polri, Habiburokhman Soroti Polisi Aktif di Ormas
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved