Polisi Buru Sindikat Warga China Lain
Sabtu, 09 Mei 2015 - 11:24 WIB
Polisi Buru Sindikat Warga China Lain
A
A
A
JAKARTA - Polda Metro Jaya terus memburu jaringan warga negara China yang terlibat sindikat penipuan internasional. Mereka diduga masih berkeliaran di wilayah Jakarta.
Sebanyak 33 warga China ditangkap di sebuah rumah mewah di Jalan Kenanga No 44, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/5) malam. Sindikat ini diduga masih berkeliaran di Indonesia. ”Kami menduga sindikatnya ada di sini, kami masih kembangkan,” ujar Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kemarin.
Kemungkinan tersebut didasarkan pada penyelidikan tim Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya yang dilakukan selama hampir 1 bulan. Selama kelompok warga China ini berada di rumah berlantai dua itu mereka sering didatangi empat hingga tujuh warga China. Mereka datang pagi-pagi untuk membuka laptop.
Orang-orang ini yang masih didalami. Seorang anggota yang ditugaskan memantau aktivitas sindikat penipuan internasional tersebut mengaku pernah melihat mobil masuk rumah pada pukul 04.00 WIB. ”Mobil itu sempat dibuntuti oleh anggota, namun hilang dalam perjalanan menuju Tanjung Priok, Jakarta Utara,” kata Herry.
Diberitakan sebelumnya, petugas Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya menggerebek sebuah rumah mewah yang berada di Jalan Kenanga, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (6/5) malam. Sebanyak 33 warga China ditangkap dan satu orang tewas karena berusaha kabur dengan cara loncat dari rumah berlantai dua tersebut.
Dari 33 warga yang ditangkap, 14 perempuan dan 19 pria. Seorang warga tewas diketahui bernama Siau Pei, 25. Penggerebekan tersebut berawal dari laporan masyarakat dan kecurigaan polisi terhadap aktivitas penghuni rumah itu. Benar saja, mereka melakukan kejahatan penipuan kartu kredit dengan sasaran para warga China yang berada di negaranya.
Mereka sehari-harinya berkomunikasi dengan target penipuan warga China. Ruang kerja mereka terdapat di salah satu sudut di lantai bawah berukuran sekitar 5x6 meter. ”Tak heran setiap jendela di ruangan tersebut ditutup rapat oleh peredam suara agar tidak terdengar tetangga, sebab telepon mereka berdering setiap hari,” ujar Herry Heryawan.
Selain itu, jendela setinggi 2 meter yang ada di lantai 2 ditutup rapat busa peredam suara. Sebagai sarana komunikasi bagi para warga China, sang bos menyediakan puluhan telepon PSTN, puluhan telepon seluler, sejumlah handy talky (HT), serta beberapa kalkulator. Di atas rumah juga ada sebuah tower satelit komunikasi, ucapnya. Rumah mewah yang digunakan untuk operasional penipuan disewa oleh seorang warga Indonesia yang diduga menjadi koordinator para warga China.
Rumah tersebut disewa Rp46 juta per tahun. Rumah dua lantai bercat putih itu memiliki kolam renang kecil terbuka yang berada di belakang rumah. Di setiap kamar dan ruangan tengah ada air conditioner (AC). Pejabat sementara (Pjs) Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Widjanarko mengatakan, selain melakukan tindak kriminal, mereka juga diduga melanggar aturan keimigrasian.
Bahkan, ada beberapa korban yang diduga menjadi korban trafficking. Para warga negara asing (WNA) ini melakukan penipuan cyber online dengan target warga negaranya sendiri yang berada di China,” ujarnya. Dari mereka, polisi menyita tujuh laptop, 14 iPad, 54 ponsel, 64 telepon satelit, 15 kalkulator, 36 port interface modem, 1 printer, 8 HT, serta 14 identity card.
Setelah ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan Imigrasi dan Kedutaan Besar Republik Rakyat China. Seluruh warga China sekarang sudah ditahan di Polda Metro Jaya, sementara korban tewas dievakuasi ke RS Kramatjati, katanya. Di tempat terpisah petugas Imigrasi Kota Tangerang mengamankan sembilan wanita dan enam pria asal China di Kompleks Tirta Golf BSD City, Blok F18,
Lengkong Karya, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, pada Kamis (7/5). ”Barang bukti dari semua WNA ini ada brankas, uang palsu pecahan Rp100.000, 12 unit komputer, dan tujuh unit telepon rumah,” kata Plh Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kota Tangerang Ari S kemarin.
Helmi syarif/ Sindonews
Sebanyak 33 warga China ditangkap di sebuah rumah mewah di Jalan Kenanga No 44, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/5) malam. Sindikat ini diduga masih berkeliaran di Indonesia. ”Kami menduga sindikatnya ada di sini, kami masih kembangkan,” ujar Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kemarin.
Kemungkinan tersebut didasarkan pada penyelidikan tim Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya yang dilakukan selama hampir 1 bulan. Selama kelompok warga China ini berada di rumah berlantai dua itu mereka sering didatangi empat hingga tujuh warga China. Mereka datang pagi-pagi untuk membuka laptop.
Orang-orang ini yang masih didalami. Seorang anggota yang ditugaskan memantau aktivitas sindikat penipuan internasional tersebut mengaku pernah melihat mobil masuk rumah pada pukul 04.00 WIB. ”Mobil itu sempat dibuntuti oleh anggota, namun hilang dalam perjalanan menuju Tanjung Priok, Jakarta Utara,” kata Herry.
Diberitakan sebelumnya, petugas Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya menggerebek sebuah rumah mewah yang berada di Jalan Kenanga, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (6/5) malam. Sebanyak 33 warga China ditangkap dan satu orang tewas karena berusaha kabur dengan cara loncat dari rumah berlantai dua tersebut.
Dari 33 warga yang ditangkap, 14 perempuan dan 19 pria. Seorang warga tewas diketahui bernama Siau Pei, 25. Penggerebekan tersebut berawal dari laporan masyarakat dan kecurigaan polisi terhadap aktivitas penghuni rumah itu. Benar saja, mereka melakukan kejahatan penipuan kartu kredit dengan sasaran para warga China yang berada di negaranya.
Mereka sehari-harinya berkomunikasi dengan target penipuan warga China. Ruang kerja mereka terdapat di salah satu sudut di lantai bawah berukuran sekitar 5x6 meter. ”Tak heran setiap jendela di ruangan tersebut ditutup rapat oleh peredam suara agar tidak terdengar tetangga, sebab telepon mereka berdering setiap hari,” ujar Herry Heryawan.
Selain itu, jendela setinggi 2 meter yang ada di lantai 2 ditutup rapat busa peredam suara. Sebagai sarana komunikasi bagi para warga China, sang bos menyediakan puluhan telepon PSTN, puluhan telepon seluler, sejumlah handy talky (HT), serta beberapa kalkulator. Di atas rumah juga ada sebuah tower satelit komunikasi, ucapnya. Rumah mewah yang digunakan untuk operasional penipuan disewa oleh seorang warga Indonesia yang diduga menjadi koordinator para warga China.
Rumah tersebut disewa Rp46 juta per tahun. Rumah dua lantai bercat putih itu memiliki kolam renang kecil terbuka yang berada di belakang rumah. Di setiap kamar dan ruangan tengah ada air conditioner (AC). Pejabat sementara (Pjs) Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Widjanarko mengatakan, selain melakukan tindak kriminal, mereka juga diduga melanggar aturan keimigrasian.
Bahkan, ada beberapa korban yang diduga menjadi korban trafficking. Para warga negara asing (WNA) ini melakukan penipuan cyber online dengan target warga negaranya sendiri yang berada di China,” ujarnya. Dari mereka, polisi menyita tujuh laptop, 14 iPad, 54 ponsel, 64 telepon satelit, 15 kalkulator, 36 port interface modem, 1 printer, 8 HT, serta 14 identity card.
Setelah ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan Imigrasi dan Kedutaan Besar Republik Rakyat China. Seluruh warga China sekarang sudah ditahan di Polda Metro Jaya, sementara korban tewas dievakuasi ke RS Kramatjati, katanya. Di tempat terpisah petugas Imigrasi Kota Tangerang mengamankan sembilan wanita dan enam pria asal China di Kompleks Tirta Golf BSD City, Blok F18,
Lengkong Karya, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, pada Kamis (7/5). ”Barang bukti dari semua WNA ini ada brankas, uang palsu pecahan Rp100.000, 12 unit komputer, dan tujuh unit telepon rumah,” kata Plh Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kota Tangerang Ari S kemarin.
Helmi syarif/ Sindonews
(bbg)