Figur SBY Tak Lagi Jadi Penentu Suara Demokrat
Jum'at, 08 Mei 2015 - 08:40 WIB
Figur SBY Tak Lagi Jadi Penentu Suara Demokrat
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak lagi menjadikan faktor penentu utama Partai Demokrat kembali mendulang suara pada Pemilu 2019 nanti.
Ketokohan SBY berbeda dengan Pemilu 2004 dan 2009 lalu. Pengamat dan juga peneliti politik Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes mengatakan pendukung salah menilai jika masih menganggap SBY sebagai magnet elektoral partai. ”Masa keemasannya sudah berlalu,” kata di Gedung DPR kemarin. Dia mengatakan indikatornya terlihat secara prinsip pemilih Demokrat tidak loyal dan cenderung mengambang.
Hal itu terbukti pada Pileg 2014 banyak pendukung yang kabur dan mengalihkan dukungannya kepada partai politik dengan platform yang sama, seperti Partai Golkar, PDIP, atau PAN. Menurutnya, jika elite Demokrat masih mempertahankan SBY sebagai patron, bukan tidak mungkin kedekatan pendukung dengan Demokrat justru akan semakin melemah.
Pendukung akar rumput menilai Demokrat tidak lagi demokratis dengan tidak terbukanya calon lain yang maju dalam bursa kongres nanti. Dengan demikian, jalan yang paling mudah untuk menjaga loyalitas pendukung partai dengan tetap membuka peluang calon ketua umum lain yang bertanding dalam kongres yang akan digelar Senin depan (11/5) di Surabaya.
”Demokrat harus membuka peluang yang sama kepada semua kadernya,” tandasnya. Arya mengatakan, dari hasil penelitian yang dilakukan, perolehan suara Demokrat dalam Pemilu 2014 berasal dari pemilih yang memilih gambar caleg, bukan mencoblos gambar Demokrat. Melorotnya ketokohan SBY pada pemilih Demokrat disebabkan ketidakmampuan menjaga kepercayaan pemilih.
”Harus diakui SBY tidak mampu menjaga para pemilihnya. Jadi kalau masih ada yang berpikir SBY mampu mengerek suara Demokrat saat Pileg 2019, itu pandangan yang harus diperbaiki,” tukasnya. Hal senada diungkapkan peneliti politik dari Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro yang menyatakan Demokrat harus menampilkan kontestasi dalam pemilihan ketua umum. ”Dengan demikian, itu menunjukkan demokrat mengembangkan proses demokrasi,” beber dia.
Sementara itu, politikus Partai Demokrat I Gede Pasek Suardika yang akan maju menjadi bakal calon ketua umum mengakui bahwa upaya tersebut tidak mudah karena harus berhadapan dengan SBY. Namun, dirinya tetap bertekad maju sebagai calon penantang SBY di kongres. Senator asal Bali itu menyatakan sudah mendapat dukungan dari sejumlah kader di daerah yang memiliki hak suara. Namun, dia belum mau mengungkapkannya karena khawatir kader pendukungnya justru akan dipecat.
”Yang jelas, saat ini sudah ada keberanian dari sejumlah kader di daerah. Itu yang kita dorong terus,” ucapnya kemarin. Dia mengatakan tidak akan menyerah meski sampai hari ini tidak mendapat undangan menghadiri kongres. Diundang atau tidak, sebagai kader Demokrat, Pasek akan tetap datang ke arena kongres.
Mula akmal
Ketokohan SBY berbeda dengan Pemilu 2004 dan 2009 lalu. Pengamat dan juga peneliti politik Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes mengatakan pendukung salah menilai jika masih menganggap SBY sebagai magnet elektoral partai. ”Masa keemasannya sudah berlalu,” kata di Gedung DPR kemarin. Dia mengatakan indikatornya terlihat secara prinsip pemilih Demokrat tidak loyal dan cenderung mengambang.
Hal itu terbukti pada Pileg 2014 banyak pendukung yang kabur dan mengalihkan dukungannya kepada partai politik dengan platform yang sama, seperti Partai Golkar, PDIP, atau PAN. Menurutnya, jika elite Demokrat masih mempertahankan SBY sebagai patron, bukan tidak mungkin kedekatan pendukung dengan Demokrat justru akan semakin melemah.
Pendukung akar rumput menilai Demokrat tidak lagi demokratis dengan tidak terbukanya calon lain yang maju dalam bursa kongres nanti. Dengan demikian, jalan yang paling mudah untuk menjaga loyalitas pendukung partai dengan tetap membuka peluang calon ketua umum lain yang bertanding dalam kongres yang akan digelar Senin depan (11/5) di Surabaya.
”Demokrat harus membuka peluang yang sama kepada semua kadernya,” tandasnya. Arya mengatakan, dari hasil penelitian yang dilakukan, perolehan suara Demokrat dalam Pemilu 2014 berasal dari pemilih yang memilih gambar caleg, bukan mencoblos gambar Demokrat. Melorotnya ketokohan SBY pada pemilih Demokrat disebabkan ketidakmampuan menjaga kepercayaan pemilih.
”Harus diakui SBY tidak mampu menjaga para pemilihnya. Jadi kalau masih ada yang berpikir SBY mampu mengerek suara Demokrat saat Pileg 2019, itu pandangan yang harus diperbaiki,” tukasnya. Hal senada diungkapkan peneliti politik dari Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro yang menyatakan Demokrat harus menampilkan kontestasi dalam pemilihan ketua umum. ”Dengan demikian, itu menunjukkan demokrat mengembangkan proses demokrasi,” beber dia.
Sementara itu, politikus Partai Demokrat I Gede Pasek Suardika yang akan maju menjadi bakal calon ketua umum mengakui bahwa upaya tersebut tidak mudah karena harus berhadapan dengan SBY. Namun, dirinya tetap bertekad maju sebagai calon penantang SBY di kongres. Senator asal Bali itu menyatakan sudah mendapat dukungan dari sejumlah kader di daerah yang memiliki hak suara. Namun, dia belum mau mengungkapkannya karena khawatir kader pendukungnya justru akan dipecat.
”Yang jelas, saat ini sudah ada keberanian dari sejumlah kader di daerah. Itu yang kita dorong terus,” ucapnya kemarin. Dia mengatakan tidak akan menyerah meski sampai hari ini tidak mendapat undangan menghadiri kongres. Diundang atau tidak, sebagai kader Demokrat, Pasek akan tetap datang ke arena kongres.
Mula akmal
(ars)