Pendidikan Komunitas adalah Gerakan Pencerdasan

Senin, 04 Mei 2015 - 12:19 WIB
Pendidikan Komunitas...
Pendidikan Komunitas adalah Gerakan Pencerdasan
A A A
Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, kementerian sangat mengapresiasi sekaligus berterima kasih kepada yayasan nirlaba yang sudah menyelenggarakan pendidikan bagi anakanak jalanan dan terlantar.

Anies melihat, apa yang dilakukan itu adalah suatu hal yang positif karena mereka terlibat langsung untuk pendidikan. Sebab, dia memandang, masalah pendidikan tidak akan mungkin terselesaikan hanya dengan tangan pemerintah. Justru semua pihak harus terlibat, baik swasta maupun masyarakat, untuk memberikan akses pendidikan ke semua anak.

Oleh sebab itu, Anies mengatakan dalam pidato Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei, mengambil tema ”Pendidikan dan Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila ”. Kata kunci dari tema tersebut adalah gerakan.

Menurut dia, pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa. Karena itu, pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. ”Kita harus mendorong semua elemen masyarakat untuk terlibat,” katanya kepada KORAN SINDO.

Anies menuturkan, kita ingin mendorong pendidikan menjadi gerakan semesta, yakni yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Dengan tujuan masyarakat akan merasa memiliki, pemerintah memfasilitasi, dunia bisnis peduli, dan organisasi masyarakat atau LSM mengorganisasi. Berbeda dengan sekadar program yang perasaan memiliki atas kegiatan hanya terbatas pada para pelaksana program.

Sebaliknya, sebuah gerakan justru ingin menumbuhkan rasa memiliki kepada semua kalangan. ”Saya melihatnya positif dan mengapresiasi. Mudah-mudahan lebih banyak lagi yang mau terlibat. Jika kita melihat anak-anak, maka semua orang dewasa harus melihat mereka sebagai adik sendiri. Jika kita lihat ada adik yang aktivitasnya menyimpang, ya ditegur, disapa, diingatkan. Jika positif ya ditegur, disapa, didukung. Dengan begitu, kita mengawasi dan membina adik-adik kita,” sebutnya.

Penggagas Indonesia Mengajar ini mengatakan, meski anak-anak yang bersekolah di yayasan nirlaba itu nonformal, mereka bisa memperoleh pendidikan melalui Kejar Paket A, B, atau C. Bahkan, pemerintah kini melalui program Indonesia Pintar menjaring anak jalanan dan terlantar agar bisa bersekolah. Mereka yang masih dalam usia sekolah diberikan kartu sakti berisi subsidi biaya pendidikan antara Rp400.000 hingga Rp1 juta.

Sesdirjen Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Ditjen Paudni) Kemendikbud Ella Yulaelawati juga mengapresiasi apa yang dikerjakan yayasan nirlaba tersebut. Sebab, mereka mempunyai pola pendidikan yang memahami jam berapa anakanak tersebut bersekolah dan di lokasi mana mereka dapat dijangkau. ”Di dalam UU Sisdiknas, tanggung jawab pendidikan ada di pemerintah dan masyarakat,” katanya.

Ella mengatakan, meski kementerian mengapresiasi, Kemendikbud tidak menutup diri jika seandainya diperlukan kehadiran pemerintah. Kemendikbud memandang positif apa yang dilakukan pendidikan komunitas tersebut dan menjadi lecutan bagi pemerintah untuk mencari menu yang cocok untuk membantu mereka.

Sebab, di dunia melalui UNESCO sudah mengubah gerakan global pendidikan Education For All menjadi Long Life Learning for All . Hal ini berarti, program pendidikan memang bisa terakses, namun pembelajaran sepanjang hayat itu lebih berguna bagi kehidupan. Ella mengatakan, metode pengajaran bagi anak yang tidak tersentuh pendidikan formal memang harus dibedakan.

Jika sekolah umumnya menggunakan sistem pedagogic di mana tujuan pembelajaran, kurikulum, dan materi itu ditetapkan oleh guru dan murid hanya menerima materinya, maka sebaliknya harus diterapkan metode andragogy , yakni tujuan belajar dan isinya bisa ditetapkan bersama dengan mereka. ”Jadi, guru itu harus bertanya kamu mau belajar apa hari ini. Lalu metodenya harus lebih partisipatori,” katanya.

Menurut Ella, pendidikan bagi mereka sebaiknya diselipkan pendidikan kehidupan yang melatih kecakapan hidup. Sebab dalam beberapa hal mereka sudah lebih dewasa daripada anak-anak lain. Pelajaran mengenai musik, menurut dia, sangat baik diajarkan karena baus untuk tambahan pengetahuan bagi pengamen. Atau bisa juga melatih mereka berbagai kerajinan agar bisa berwirausaha.

Di samping itu, pendidikan kesehatan dan seksual juga penting. Sebab, kehidupan mereka lebih banyak di jalan dan terpapar polusi. Mereka juga rentan pelecehan seksual sehingga antisipasi dari para predator harus diwaspadai.

Neneng zubaidah
(ftr)
Berita Terkait
Jabatan Apa pun yang...
Jabatan Apa pun yang Diemban, Milenial Harus Punya Integritas
Puasa di Tengah Pandemi...
Puasa di Tengah Pandemi Covid-19, Jaga Gizi Seimbang dan Berpikir Positif
iPhone Bakal Dibekali...
iPhone Bakal Dibekali Kamera Periskop di 2020
Menghadapi Ujian pada...
Menghadapi Ujian pada Hari Kemenangan
New Normal, Kebutuhan...
New Normal, Kebutuhan Alat Olah Raga Baru Meningkat
Bertahan di Tengah Pandemi,...
Bertahan di Tengah Pandemi, Pengusaha Dituntut Kreatif untuk Survive
Berita Terkini
Jalur Medan-Berastagi...
Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai
Perompak Somalia Sandera...
Perompak Somalia Sandera 4 WNI, DPR Minta TNI dan Kemlu Bikin Contingency Plan
Imam Shalat, Piala Dunia,...
Imam Shalat, Piala Dunia, dan Tempat Muktamar
Perjuangkan Hak Daerah,...
Perjuangkan Hak Daerah, Komisi XI DPR Upayakan TKD Tak Berkurang
1.000 Taruna Akmil Bakal...
1.000 Taruna Akmil Bakal Latih Siswa Sekolah Rakyat
Cerita Roy Suryo Tidak...
Cerita Roy Suryo Tidak Ditahan Kejaksaan: Tak Ada Larangan Tampil di Podcast
Infografis
Riwayat Pendidikan Ahmad...
Riwayat Pendidikan Ahmad Sahroni, Anggota DPR yang Jadi Sorotan Publik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved