Soal Utang IMF, Jokowi dan Istana Diminta Introspeksi
Kamis, 30 April 2015 - 23:04 WIB
Soal Utang IMF, Jokowi dan Istana Diminta Introspeksi
A
A
A
JAKARTA - Pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebutkan Indonesia masih memiliki utang kepada International Monetary Fund (IMF) dalam Peringtan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika beberapa waktu lalu, menjadi polemik.
Polemik itu bermula saat mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengoreksi pernyataan Jokowi. Melalui media sosial, SBY menegaskan Indonesia sudah melunasi utangnya pada 2006.
Persoalan ini memancing reaksi berbagai kalangan, bahkan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tubagus Hasanuddin mempertanyakan kompetensi pejabat di Istana dalam memberikan data kepada Presiden.
Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan menilai kesalahan data terkait utang IMF sebagai sesuatu yang fatal.
Menurut dia, kesalahan itu tidak bisa dilepaskan dari Jokowi. Dia mengatakan seharusnya Jokowi mengkritisi setiap data yang disajikan para anak buahnya.
"Ini juga menjadi warning buat Jokowi agar jangan hanya membaca. Kalau Jokowi mau mengkritisi isi pidatonya saya pikir sedikit banyak akan mengetahui isinya," ujar Bakir saat dihubungi Sindonews, di Jakarta, Kamis (30/4/2015).
Dia berharap Jokowi untuk selalu mencermati semua teks pidato berkaitan dengan kebijakan strategis yang disuguhkan orang-orang di lingkungan istana.(Baca: Menkeu Tanggapi Kritik SBY Soal IMF)
Menurut dia, kasus salah data yang disampaikan Jokowi harus menjadi evaluasi dua arah yakni evaluasi untuk Jokowi dan buat pembantu-pembantunya di Istana.
Kendati begitu, Bakir tidak meragukan kapasitas orang di sekitar Jokowi, seperti Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto. (Baca: Permalukan Jokowi, PDIP Semprot Seskab Andi)
Dia hanya mengingatkan agar jangan lagi ada kesalahan terkait kebijakan strategis. Tidak dipungkiri, hal itu akan menimbulkan persepektif buruk dari publik.
"Mereka secara akademik berkualitas. orang seperti Andi Widjajanto kan orang kepercayaan Jokowi. Enggak mungkin kalau enggak dipercaya dipilih posisi stratgis sebagai Seskab," tukasnya.
Polemik itu bermula saat mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengoreksi pernyataan Jokowi. Melalui media sosial, SBY menegaskan Indonesia sudah melunasi utangnya pada 2006.
Persoalan ini memancing reaksi berbagai kalangan, bahkan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tubagus Hasanuddin mempertanyakan kompetensi pejabat di Istana dalam memberikan data kepada Presiden.
Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan menilai kesalahan data terkait utang IMF sebagai sesuatu yang fatal.
Menurut dia, kesalahan itu tidak bisa dilepaskan dari Jokowi. Dia mengatakan seharusnya Jokowi mengkritisi setiap data yang disajikan para anak buahnya.
"Ini juga menjadi warning buat Jokowi agar jangan hanya membaca. Kalau Jokowi mau mengkritisi isi pidatonya saya pikir sedikit banyak akan mengetahui isinya," ujar Bakir saat dihubungi Sindonews, di Jakarta, Kamis (30/4/2015).
Dia berharap Jokowi untuk selalu mencermati semua teks pidato berkaitan dengan kebijakan strategis yang disuguhkan orang-orang di lingkungan istana.(Baca: Menkeu Tanggapi Kritik SBY Soal IMF)
Menurut dia, kasus salah data yang disampaikan Jokowi harus menjadi evaluasi dua arah yakni evaluasi untuk Jokowi dan buat pembantu-pembantunya di Istana.
Kendati begitu, Bakir tidak meragukan kapasitas orang di sekitar Jokowi, seperti Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto. (Baca: Permalukan Jokowi, PDIP Semprot Seskab Andi)
Dia hanya mengingatkan agar jangan lagi ada kesalahan terkait kebijakan strategis. Tidak dipungkiri, hal itu akan menimbulkan persepektif buruk dari publik.
"Mereka secara akademik berkualitas. orang seperti Andi Widjajanto kan orang kepercayaan Jokowi. Enggak mungkin kalau enggak dipercaya dipilih posisi stratgis sebagai Seskab," tukasnya.
(dam)