Sejumlah Nama Masuk Bursa Ketua
Senin, 27 April 2015 - 10:13 WIB
Sejumlah Nama Masuk Bursa Ketua
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah kandidat calon ketua umum tanfidziyah dan rais aam syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bakal meramaikan Muktamar Ke-33 NU yang digelar 1-5 Agustus di Jombang, Jawa Timur.
Khatib Aam Syuriah PBNU Abdul Malik Madani membenarkan adanya sejumlah nama yang diwacanakan maju sebagai ketua umum tanfidziyah dan rais aam. Dari data yang dihimpun KORAN SINDO, mereka adalah Salahuddin Wahid (Gus Solah), Ketua Umum Tanfidziyah PBNU Said Aqil Siradj, Wakil Ketua Umum PBNU As’ad Said Ali, Wakil Rais Syuriah yang juga mantan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Muhammad Adnan, serta Ketua Laziznu Masruri Malik.
Adapun mereka yang diperkirakan maju sebagai kandidat ketua rais aam NU adalah Hasyim Muzadi dan Wakil Ketua Rais Aam Syuriah PBNU Mustofa Bisri, termasuk Rais Syuriah PWNU Jawa Timur Miftahul Akhyar.
”Nama-nama yang disebutkan memang dikabarkan maju, Salahuddin Wahid tampaknya maju sebagai ketua tanfidziyah dan Said Aqil Siradj katanya mau maju lagi. Semuanya serbamungkin dan punya peluang,” ungkap Abdul Malik di Jakarta kemarin. Hanya saja, sampai saat ini belum ada satu pun kandidat yang secara resmi mendeklarasikan pencalonannya.
Menurut Malik, proses pemilihan nantinya akan diserahkan kepada muktamirin. ”Saya belum bisa komentar terhadap nama-nama itu karena belum ada yang deklarasikan untuk maju. Nanti, tidak ada calon yang daftar melainkan muktamirin yang mengajukan calon-calonnya,” paparnya.
Bila masih mengacu pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) NU, kata Malik, pemilihan diserahkan sepenuhnya kepada muktamirin yang merupakan perwakilan dari 500 cabang di kabupaten/kota. Di mana masing- masing muktamirin mengajukan nama-nama calonnya dalam muktamar.
Namun, bila terjadi perubahan terhadap AD/ART, pemilihan ketua rais aam PBNU akan dipilih oleh ahlul halli wal aqdi, yakni kelompok kecil yang terdiri atas para tokoh ulama dan kiai sepuh. Jumlahnya sekitar tujuh sampai sembilan orang. Merekalah yang kemudian memilih siapa yang akan menjabat sebagai ketua umum tanfidziyah PBNU.
”Jadi rais aam adalah pemimpin tertinggi di syuriah PBNU, sedangkan ketua umum tanfidziyah PBNU adalah eksekutif di mana kebijakan yang dijalankan harus sejalan dengan syuriah. Pemilihan ketua umum tanfidziyah setelah rais aam terpilih. Bila disetujui, maka langsung maju dan dilantik. Kalau rais aam tidak setuju, maka tidak bisa maju,” ungkap Malik.
Ketua Steering Committe Muktamar NU Slamet Effendi Yusuf mempersilakan para kandidat untuk maju karena itu merupakan hak mereka. Namun Slamet meminta semua pihak agar tidak berkutat pada siapa yang akan menjadi rais aam dan ketua umum tanfidziyah PBNU, melainkan mengajak para pengurus cabang membahas konsep yang matang untuk meningkatkan peran NU secara global.
”Mereka pantas-pantas saja. Yang penting NU di bawah kepemimpinannya harus jalankan misi besar, yakni membuat Islam Indonesia yang moderat dan toleran menyebar ke se-luruh dunia. Muktamar NU akan menjadi sorotan masyarakat, bangsa, dan dunia,” katanya.
Slamet berharap, muktamar kali ini menghasilkan tokoh baru dan pemikiran baru. Karena itu, orang yang memiliki kapasitas keilmuan sangat penting bagi seseorang untuk menjadi rais aam.
Sucipto
Khatib Aam Syuriah PBNU Abdul Malik Madani membenarkan adanya sejumlah nama yang diwacanakan maju sebagai ketua umum tanfidziyah dan rais aam. Dari data yang dihimpun KORAN SINDO, mereka adalah Salahuddin Wahid (Gus Solah), Ketua Umum Tanfidziyah PBNU Said Aqil Siradj, Wakil Ketua Umum PBNU As’ad Said Ali, Wakil Rais Syuriah yang juga mantan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Muhammad Adnan, serta Ketua Laziznu Masruri Malik.
Adapun mereka yang diperkirakan maju sebagai kandidat ketua rais aam NU adalah Hasyim Muzadi dan Wakil Ketua Rais Aam Syuriah PBNU Mustofa Bisri, termasuk Rais Syuriah PWNU Jawa Timur Miftahul Akhyar.
”Nama-nama yang disebutkan memang dikabarkan maju, Salahuddin Wahid tampaknya maju sebagai ketua tanfidziyah dan Said Aqil Siradj katanya mau maju lagi. Semuanya serbamungkin dan punya peluang,” ungkap Abdul Malik di Jakarta kemarin. Hanya saja, sampai saat ini belum ada satu pun kandidat yang secara resmi mendeklarasikan pencalonannya.
Menurut Malik, proses pemilihan nantinya akan diserahkan kepada muktamirin. ”Saya belum bisa komentar terhadap nama-nama itu karena belum ada yang deklarasikan untuk maju. Nanti, tidak ada calon yang daftar melainkan muktamirin yang mengajukan calon-calonnya,” paparnya.
Bila masih mengacu pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) NU, kata Malik, pemilihan diserahkan sepenuhnya kepada muktamirin yang merupakan perwakilan dari 500 cabang di kabupaten/kota. Di mana masing- masing muktamirin mengajukan nama-nama calonnya dalam muktamar.
Namun, bila terjadi perubahan terhadap AD/ART, pemilihan ketua rais aam PBNU akan dipilih oleh ahlul halli wal aqdi, yakni kelompok kecil yang terdiri atas para tokoh ulama dan kiai sepuh. Jumlahnya sekitar tujuh sampai sembilan orang. Merekalah yang kemudian memilih siapa yang akan menjabat sebagai ketua umum tanfidziyah PBNU.
”Jadi rais aam adalah pemimpin tertinggi di syuriah PBNU, sedangkan ketua umum tanfidziyah PBNU adalah eksekutif di mana kebijakan yang dijalankan harus sejalan dengan syuriah. Pemilihan ketua umum tanfidziyah setelah rais aam terpilih. Bila disetujui, maka langsung maju dan dilantik. Kalau rais aam tidak setuju, maka tidak bisa maju,” ungkap Malik.
Ketua Steering Committe Muktamar NU Slamet Effendi Yusuf mempersilakan para kandidat untuk maju karena itu merupakan hak mereka. Namun Slamet meminta semua pihak agar tidak berkutat pada siapa yang akan menjadi rais aam dan ketua umum tanfidziyah PBNU, melainkan mengajak para pengurus cabang membahas konsep yang matang untuk meningkatkan peran NU secara global.
”Mereka pantas-pantas saja. Yang penting NU di bawah kepemimpinannya harus jalankan misi besar, yakni membuat Islam Indonesia yang moderat dan toleran menyebar ke se-luruh dunia. Muktamar NU akan menjadi sorotan masyarakat, bangsa, dan dunia,” katanya.
Slamet berharap, muktamar kali ini menghasilkan tokoh baru dan pemikiran baru. Karena itu, orang yang memiliki kapasitas keilmuan sangat penting bagi seseorang untuk menjadi rais aam.
Sucipto
(ftr)