Jepang Kembali Picu Kemarahan China
Jum'at, 24 April 2015 - 09:04 WIB
Jepang Kembali Picu Kemarahan China
A
A
A
TOKYO - Hanya berselang sehari setelah Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe duduk bersama dengan Presiden China Xi Jinping saat menghadiri Peringatan ke-60 Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Jakarta, tiga menteri Jepang malah memicu ketegangan baru.
Kemarin tiga menteri Jepang, yakni Kepala Komisi Keselamatan Publik Nasional Eriko Yamatani, Menteri Pemberdayaan Perempuan Haruko Arimura, dan Menteri Dalam Negeri Sanae Takaichi mengunjungi kuil perang Yasukuni di Tokyo, yang oleh Beijing dianggap sebagai simbol kekejaman masa lalu Jepang.
Kunjungan ketiga menteri perempuan Jepang tersebut berpotensi memperkeruh hubungan kedua negara yang mulai ada tanda-tanda membaik setelah pemimpin nasionalis mereka duduk bersama dengan Jinping di sela-sela pertemuan puncak KAA di Jakarta.
”Saya memberikan penghargaan yang tulus untuk orangorang yang berjuang dan mengorbankan hidup mereka demi harga diri bangsa,” ujar Eriko kepada wartawan setelah mengunjungi kuil perang, dikutip AFP. ”Saya berjanji upaya untuk membangun negara yang damai,” tutur Eriko.
Sebelumnya lebih dari 100 anggota parlemen Jepang juga ke kuil tersebut pada Rabu (22/4), bertepatan dengan festival musim semi, meskipun pada saat bersamaan para pejabat Jepang sedang mengatur pertemuan kedua Jinping dan Abe setelah sebelumnya keduanya bertemu di Beijing pada November lalu saat pertemuan forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).
Padahal dilaporkan Jiji Press, sebelumnya Abe sudah berpesan agar para menterinya tidak mengunjungi kuil tersebut sebelum pembicaraan kedua kepala negara terjadi. Pada Rabu lalu, kedua kepala negara yang punya sejarah pahit perang dan masalah sengketa teritorial, bertatap muka di Jakarta selama sekitar 30 menit.
Peristiwa tersebut mengundang perhatian para jurnalis karena kedua negara selalu bersitegang. Dalam pertemuan di Jakarta tersebut, keduanya terlihat sedikit lebih rileks dibandingkan saat pertemuan pertama keduanya di Beijing yang terlihat canggung dan kaku. Kepada wartawan, Abe mengatakan bahwa dirinya baru saja melakukan pertemuan yang sangat berarti dan membuat hubungan bilateral kedua negara membaik.
Di Tokyo, Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengatakan bahwa kunjungan ketiga menteri tersebut tidak perlu dikaitkan dengan memanasnya hubungan kedua negara. ”Saya tidak berpikir akan ada dampak apa pun karena kunjungan ini dilakukan dalam kapasitas pribadi,” ungkapnya.
Pendapat berbeda disampaikan ahli sejarah diplomatik Jepang dari Universitas Keio, Profesor Masaru Ikei yang mengatakan bahwa kunjungan ketiga anggota kabinet Abe ke kuil perang tersebut tidak dapat dielakkan akan memicu ketegangan, namun tidak sampai merusak hubungan kedua negara. ”Akan lebih baik jika menteri kabinet dan juga perdana menteri tidak pergi ke kuil perang,” katanya.
Tapi menurut Masaru, Abe tidak dapat menahan keinginan para menterinya untuk bepergian dalam urusan pribadi. Menurut Ikei, ada penolakan yang cukup besar dari orang-orang China yang percaya Jepang membuat terlalu banyak konsesi sejarah. Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei mengatakan, China sangat menentang kunjungan para petinggi Jepang ke kuil perang tersebut karena sejarah kelam peperangan.
”Saya ingin tegaskan bahwa hanya dengan memiliki rasa penyesalan mendalam atas sejarah masa lalu agresi dan berhenti berhubungan dengan militerisme, hubungan China-Jepang akan stabil,” katanya. Kuil Yasukuni adalah tempat suci untuk menghormati orang-orang yang berjuang dan mati untuk Jepang.
Presiden Jinping meminta agar Jepang bisa menghormati dan mengerti keprihatinan tetangganya. ”Saya berharap Jepang dapat menganggap serius keprihatinan tetangganya di Asia,” kata Jinping dikutip CCTV News.
Ananda nararya
Kemarin tiga menteri Jepang, yakni Kepala Komisi Keselamatan Publik Nasional Eriko Yamatani, Menteri Pemberdayaan Perempuan Haruko Arimura, dan Menteri Dalam Negeri Sanae Takaichi mengunjungi kuil perang Yasukuni di Tokyo, yang oleh Beijing dianggap sebagai simbol kekejaman masa lalu Jepang.
Kunjungan ketiga menteri perempuan Jepang tersebut berpotensi memperkeruh hubungan kedua negara yang mulai ada tanda-tanda membaik setelah pemimpin nasionalis mereka duduk bersama dengan Jinping di sela-sela pertemuan puncak KAA di Jakarta.
”Saya memberikan penghargaan yang tulus untuk orangorang yang berjuang dan mengorbankan hidup mereka demi harga diri bangsa,” ujar Eriko kepada wartawan setelah mengunjungi kuil perang, dikutip AFP. ”Saya berjanji upaya untuk membangun negara yang damai,” tutur Eriko.
Sebelumnya lebih dari 100 anggota parlemen Jepang juga ke kuil tersebut pada Rabu (22/4), bertepatan dengan festival musim semi, meskipun pada saat bersamaan para pejabat Jepang sedang mengatur pertemuan kedua Jinping dan Abe setelah sebelumnya keduanya bertemu di Beijing pada November lalu saat pertemuan forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).
Padahal dilaporkan Jiji Press, sebelumnya Abe sudah berpesan agar para menterinya tidak mengunjungi kuil tersebut sebelum pembicaraan kedua kepala negara terjadi. Pada Rabu lalu, kedua kepala negara yang punya sejarah pahit perang dan masalah sengketa teritorial, bertatap muka di Jakarta selama sekitar 30 menit.
Peristiwa tersebut mengundang perhatian para jurnalis karena kedua negara selalu bersitegang. Dalam pertemuan di Jakarta tersebut, keduanya terlihat sedikit lebih rileks dibandingkan saat pertemuan pertama keduanya di Beijing yang terlihat canggung dan kaku. Kepada wartawan, Abe mengatakan bahwa dirinya baru saja melakukan pertemuan yang sangat berarti dan membuat hubungan bilateral kedua negara membaik.
Di Tokyo, Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengatakan bahwa kunjungan ketiga menteri tersebut tidak perlu dikaitkan dengan memanasnya hubungan kedua negara. ”Saya tidak berpikir akan ada dampak apa pun karena kunjungan ini dilakukan dalam kapasitas pribadi,” ungkapnya.
Pendapat berbeda disampaikan ahli sejarah diplomatik Jepang dari Universitas Keio, Profesor Masaru Ikei yang mengatakan bahwa kunjungan ketiga anggota kabinet Abe ke kuil perang tersebut tidak dapat dielakkan akan memicu ketegangan, namun tidak sampai merusak hubungan kedua negara. ”Akan lebih baik jika menteri kabinet dan juga perdana menteri tidak pergi ke kuil perang,” katanya.
Tapi menurut Masaru, Abe tidak dapat menahan keinginan para menterinya untuk bepergian dalam urusan pribadi. Menurut Ikei, ada penolakan yang cukup besar dari orang-orang China yang percaya Jepang membuat terlalu banyak konsesi sejarah. Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei mengatakan, China sangat menentang kunjungan para petinggi Jepang ke kuil perang tersebut karena sejarah kelam peperangan.
”Saya ingin tegaskan bahwa hanya dengan memiliki rasa penyesalan mendalam atas sejarah masa lalu agresi dan berhenti berhubungan dengan militerisme, hubungan China-Jepang akan stabil,” katanya. Kuil Yasukuni adalah tempat suci untuk menghormati orang-orang yang berjuang dan mati untuk Jepang.
Presiden Jinping meminta agar Jepang bisa menghormati dan mengerti keprihatinan tetangganya. ”Saya berharap Jepang dapat menganggap serius keprihatinan tetangganya di Asia,” kata Jinping dikutip CCTV News.
Ananda nararya
(bbg)