Pengganti Premium Tak Disubsidi
Sabtu, 18 April 2015 - 10:48 WIB
Pengganti Premium Tak Disubsidi
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah tidak akan memberikan subsidi terhadap bahan bakar minyak (BBM) produk baru, pertalite, yang rencananya digunakan sebagai pengganti premium (RON 88). Pertalite akan dipasarkan dengan oktan di atas premium.
”Ini karena komoditas baru kan, bukan menyesuaikan, tapi menjual barang baru. Tidak pakai subsidi. Kalau yang disubsidi premium, tapi di bawah harga pertamax,” ujar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla di Jakarta kemarin. Dia menuturkan, selama ini banyak kritik lantaran kualitas premium yang rendah. Karena itu, Pertamina akan memasarkan produk BBM baru dengan kualitas lebih baik, namun harganya tetap di bawah pertamax.
Seperti diberitakan, PT Pertamina (persero) berencana menghapus penjualan bensin RON 88 atau premium di SPBU kota-kota besar mulai Mei 2015. Premium nantinya hanya akan dijual di SPBU pinggiran kota yang banyak dilalui angkutan umum. Sebagai gantinya, perseroan akan meluncurkan BBM jenis baru. Harga BBM jenis baru ini kemungkinan di tengah antara premium dan pertamax.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, pertalite sebagai pengganti premium sudah disosialisasikan secara informal kepada pemerintah. Premium ditargetkan dalam dua tahun mendatang sudah tidak digunakan sama sekali. ”Secara garis besar, ada dua bentuk tujuan terkait penghapusan penjualan RON 88, dari segi kebersihan dan impor,” ujarnya.
Hasil dari tinjauan, premium bukanlah energi yang bersih. Selain itu, praktik pengadaan premium juga mengundang kecurigaan terkait adanya kerja sama Pertamina dengan pemasok khusus. Diharapkan penjualan pertalite dapat menghapus stigma buruk tersebut. ”Nanti, untuk pemasok yang bekerja sama dengan Pertamina, akan dibuat terbuka,” ucapnya.
Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Djoko Siswanto menuturkan, penghapusan premium dimulai dari jalan tol. Ini lantaran tidak ada pengendara motor maupun angkutan umum yang melalui jalur tersebut. ”Secara berangsur, dimulai dari kota-kota besar terlebih dahulu, baru nanti pelanpelan RON 88 akan dihapus secara total,” katanya.
Dia menilai target penghapusan secara total premium dalam waktu dua tahun terlalu lama. Menurutnya, pertalite akan mudah diterima pengguna kendaraan karena kualitasnya lebih bagus. ”Berdasarkan hasil perhitungan, ada sekitar 200 kiloliter premium per hari yang dapat dihemat dari penghapusan penjualan RON 88 di jalan tol. Belum lagi ditambah dengan penghematan di beberapa titik kota besar lain,” ungkapnya.
Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rakhmat Samulo mengungkapkan, masalah penyesuaian subsidi bahan bakar sebenarnya sudah menjadi isu yang umum dan sudah dijalankan sejak tahun lalu. Isu tersebut bukan hal baru lagi bagi masyarakat dan industri automotif nasional. ”Sebenarnya semua pihak sudah mulai terbiasa dengan penyesuaianpenyesuaian yang ada.
Jadi kalau ada penyesuaian lagi, pasti dampaknya sangat kecil terutama di pasar automotif. Selama penyesuaian tersebut dilakukan secara hati-hati, bertahap dan tidak dilakukan secara drastis,” ujarnya. Jadi, lanjut Samulo, yang penting kalau ada perubahan harus diperhatikan prosesnya. Harus bertahap dan tahapan yang dijalankan harus transparan dan dikomunikasikan dengan baik ke masyarakat. ”Sehingga tidak ada gejolak akibat salah pengertian.
Kalau semua ini dilakukan dengan baik, mudah- mudahan semua perubahan tidak menimbulkan dampak negatif di masyarakat. Begitu juga terhadap pasar automotif nasional,” katanya. Sementara itu, 4W Deputy Managing Director PT Indomobil Suzuki Sales Davy Tuilan mengatakan bahwa penghapusan premium bersubsidi tak akan berpengaruh terhadap penjualan mobil.
”Permintaan kendaraan tetap tinggi. Perubahan harga BBM sedikit itu tidak akan membuat orang mengurungkan niatnya membeli mobil,” ujarnya. Yang berubah adalah perilaku para pemilik mobil. ”Misalnya membatasi intensitas menggunakan mobil pribadi,” sebutnya. Davy meyakini dampak yang dirasakan hanya berlangsung dua bulan. ”Setelah itu, penjualan lancar lagi. Saya yakin konsumen akan tetap membeli mobil,” lanjutnya.
Apalagi, kata dia, di negaranegara berkembang termasuk Indonesia, mobil adalah bagian dari status sosial seseorang. Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Eka Sari Lorena mengatakan, penghapusan premium akan memberatkan kalangan usaha angkutan darat. Pasalnya, angkutan perkotaan saat ini sebagian besar menggunakan premium.
”Tentu ini akan memberatkan, apalagi di daerah perkotaan yang didominasi angkutan kota yang memanfaatkan bahan bakar premium. Otomatis harganya kan diprediksi lebih tinggi dibanding premium meski di bawah harga pertamax. Dan itu kami nilai cukup berat,” ujarnya. Dia juga mengatakan belum adanya insentif fiskal bagi pengusaha angkutan akan memberatkan, terutama dari sisi biaya operasional.
Eka Sari juga mengeluhkan perubahan kebijakan terkait BBM, yang dinilainya membingungkan kalangan pengusaha angkutan umum. Dia menyebut perubahan harga premium beberapa waktu lalu yang terlalu cepat dan tanpa sosialisasi. ”Karena itu, kami hanya berharap kalau premium diganti harus dipikirkan sektor angkutan umum. Karena pastinya pertalite ini harganya di atas premium. Caranya berikan insentif sektor ini. Misalnya ada jaminan suku cadang dan sebagainya,” ucap dia.
Sementara itu, Pertamina memastikan akan meluncurkan bensin varian baru dengan nomor oktan (RON) di antara premium (RON 88) dan pertamax (RON 92) pada akhir April. Meski begitu, rencana tersebut tidak serta-merta membuat perusahaan pelat merah ini menghapus premium. ”Dari sisi produk, ini perpanjangan merek Pertamina dalam menyediakan pilihan yang beragam kepada masyarakat,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro.
Dia menegaskan, Pertamina tetap menyediakan premium meski bensin jenis baru ini nantinya dipasarkan. Pertamina akan mengkaji bensin yang dikabarkan beroktan 90 ini dari sisi penjualan di lapangan. ”Premium masih ada. Kita juga belum melakukan pengurangan volume premium. Kita lihat nanti konsumsinya berat di mana. Nanti kita evaluasi lagi,” ujar dia.
Wianda mengatakan, berdasarkan data konsumsi BBM nasional, premium saat ini lebih banyak dikonsumsi oleh angkutan umum dan angkutan kota. Dari data itu, Pertamina sudah memperhitungkan daya beli masyarakat saat memutuskan mengeluarkan bensin jenis baru yang diberi nama pertalite tersebut. ”Terbukti, sejak subsidi premium dihapus, konsumsi pertamax meningkat. Ini artinya animo masyarakat cukup besar (mengonsumsi pertamax),” imbuhnya.
Wianda mengatakan, untuk tahap awal, bensin jenis baru ini hanya akan tersedia di Jakarta. Pertamina saat ini sedang melakukan pemetaan terhadap SPBU di Jakarta yang akan menjual bensin jenis baru ini. ”Kami sedang siapkan logistik dan persiapan distribusi,” ujarnya. Selain itu, dia mengaku pihaknya sudah berkomunikasi dengan pemerintah ihwal rencana meluncurkan pertalite. Sementara masalah izin spesifikasi RON, saat ini dalam tahap pengurusan di Ditjen Migas Kementerian ESDM.
Anton c/ rahmat fiansyah/ ichsan amin/ rabia edra/ant
”Ini karena komoditas baru kan, bukan menyesuaikan, tapi menjual barang baru. Tidak pakai subsidi. Kalau yang disubsidi premium, tapi di bawah harga pertamax,” ujar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla di Jakarta kemarin. Dia menuturkan, selama ini banyak kritik lantaran kualitas premium yang rendah. Karena itu, Pertamina akan memasarkan produk BBM baru dengan kualitas lebih baik, namun harganya tetap di bawah pertamax.
Seperti diberitakan, PT Pertamina (persero) berencana menghapus penjualan bensin RON 88 atau premium di SPBU kota-kota besar mulai Mei 2015. Premium nantinya hanya akan dijual di SPBU pinggiran kota yang banyak dilalui angkutan umum. Sebagai gantinya, perseroan akan meluncurkan BBM jenis baru. Harga BBM jenis baru ini kemungkinan di tengah antara premium dan pertamax.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, pertalite sebagai pengganti premium sudah disosialisasikan secara informal kepada pemerintah. Premium ditargetkan dalam dua tahun mendatang sudah tidak digunakan sama sekali. ”Secara garis besar, ada dua bentuk tujuan terkait penghapusan penjualan RON 88, dari segi kebersihan dan impor,” ujarnya.
Hasil dari tinjauan, premium bukanlah energi yang bersih. Selain itu, praktik pengadaan premium juga mengundang kecurigaan terkait adanya kerja sama Pertamina dengan pemasok khusus. Diharapkan penjualan pertalite dapat menghapus stigma buruk tersebut. ”Nanti, untuk pemasok yang bekerja sama dengan Pertamina, akan dibuat terbuka,” ucapnya.
Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Djoko Siswanto menuturkan, penghapusan premium dimulai dari jalan tol. Ini lantaran tidak ada pengendara motor maupun angkutan umum yang melalui jalur tersebut. ”Secara berangsur, dimulai dari kota-kota besar terlebih dahulu, baru nanti pelanpelan RON 88 akan dihapus secara total,” katanya.
Dia menilai target penghapusan secara total premium dalam waktu dua tahun terlalu lama. Menurutnya, pertalite akan mudah diterima pengguna kendaraan karena kualitasnya lebih bagus. ”Berdasarkan hasil perhitungan, ada sekitar 200 kiloliter premium per hari yang dapat dihemat dari penghapusan penjualan RON 88 di jalan tol. Belum lagi ditambah dengan penghematan di beberapa titik kota besar lain,” ungkapnya.
Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rakhmat Samulo mengungkapkan, masalah penyesuaian subsidi bahan bakar sebenarnya sudah menjadi isu yang umum dan sudah dijalankan sejak tahun lalu. Isu tersebut bukan hal baru lagi bagi masyarakat dan industri automotif nasional. ”Sebenarnya semua pihak sudah mulai terbiasa dengan penyesuaianpenyesuaian yang ada.
Jadi kalau ada penyesuaian lagi, pasti dampaknya sangat kecil terutama di pasar automotif. Selama penyesuaian tersebut dilakukan secara hati-hati, bertahap dan tidak dilakukan secara drastis,” ujarnya. Jadi, lanjut Samulo, yang penting kalau ada perubahan harus diperhatikan prosesnya. Harus bertahap dan tahapan yang dijalankan harus transparan dan dikomunikasikan dengan baik ke masyarakat. ”Sehingga tidak ada gejolak akibat salah pengertian.
Kalau semua ini dilakukan dengan baik, mudah- mudahan semua perubahan tidak menimbulkan dampak negatif di masyarakat. Begitu juga terhadap pasar automotif nasional,” katanya. Sementara itu, 4W Deputy Managing Director PT Indomobil Suzuki Sales Davy Tuilan mengatakan bahwa penghapusan premium bersubsidi tak akan berpengaruh terhadap penjualan mobil.
”Permintaan kendaraan tetap tinggi. Perubahan harga BBM sedikit itu tidak akan membuat orang mengurungkan niatnya membeli mobil,” ujarnya. Yang berubah adalah perilaku para pemilik mobil. ”Misalnya membatasi intensitas menggunakan mobil pribadi,” sebutnya. Davy meyakini dampak yang dirasakan hanya berlangsung dua bulan. ”Setelah itu, penjualan lancar lagi. Saya yakin konsumen akan tetap membeli mobil,” lanjutnya.
Apalagi, kata dia, di negaranegara berkembang termasuk Indonesia, mobil adalah bagian dari status sosial seseorang. Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Eka Sari Lorena mengatakan, penghapusan premium akan memberatkan kalangan usaha angkutan darat. Pasalnya, angkutan perkotaan saat ini sebagian besar menggunakan premium.
”Tentu ini akan memberatkan, apalagi di daerah perkotaan yang didominasi angkutan kota yang memanfaatkan bahan bakar premium. Otomatis harganya kan diprediksi lebih tinggi dibanding premium meski di bawah harga pertamax. Dan itu kami nilai cukup berat,” ujarnya. Dia juga mengatakan belum adanya insentif fiskal bagi pengusaha angkutan akan memberatkan, terutama dari sisi biaya operasional.
Eka Sari juga mengeluhkan perubahan kebijakan terkait BBM, yang dinilainya membingungkan kalangan pengusaha angkutan umum. Dia menyebut perubahan harga premium beberapa waktu lalu yang terlalu cepat dan tanpa sosialisasi. ”Karena itu, kami hanya berharap kalau premium diganti harus dipikirkan sektor angkutan umum. Karena pastinya pertalite ini harganya di atas premium. Caranya berikan insentif sektor ini. Misalnya ada jaminan suku cadang dan sebagainya,” ucap dia.
Sementara itu, Pertamina memastikan akan meluncurkan bensin varian baru dengan nomor oktan (RON) di antara premium (RON 88) dan pertamax (RON 92) pada akhir April. Meski begitu, rencana tersebut tidak serta-merta membuat perusahaan pelat merah ini menghapus premium. ”Dari sisi produk, ini perpanjangan merek Pertamina dalam menyediakan pilihan yang beragam kepada masyarakat,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro.
Dia menegaskan, Pertamina tetap menyediakan premium meski bensin jenis baru ini nantinya dipasarkan. Pertamina akan mengkaji bensin yang dikabarkan beroktan 90 ini dari sisi penjualan di lapangan. ”Premium masih ada. Kita juga belum melakukan pengurangan volume premium. Kita lihat nanti konsumsinya berat di mana. Nanti kita evaluasi lagi,” ujar dia.
Wianda mengatakan, berdasarkan data konsumsi BBM nasional, premium saat ini lebih banyak dikonsumsi oleh angkutan umum dan angkutan kota. Dari data itu, Pertamina sudah memperhitungkan daya beli masyarakat saat memutuskan mengeluarkan bensin jenis baru yang diberi nama pertalite tersebut. ”Terbukti, sejak subsidi premium dihapus, konsumsi pertamax meningkat. Ini artinya animo masyarakat cukup besar (mengonsumsi pertamax),” imbuhnya.
Wianda mengatakan, untuk tahap awal, bensin jenis baru ini hanya akan tersedia di Jakarta. Pertamina saat ini sedang melakukan pemetaan terhadap SPBU di Jakarta yang akan menjual bensin jenis baru ini. ”Kami sedang siapkan logistik dan persiapan distribusi,” ujarnya. Selain itu, dia mengaku pihaknya sudah berkomunikasi dengan pemerintah ihwal rencana meluncurkan pertalite. Sementara masalah izin spesifikasi RON, saat ini dalam tahap pengurusan di Ditjen Migas Kementerian ESDM.
Anton c/ rahmat fiansyah/ ichsan amin/ rabia edra/ant
(bbg)