Hadirkan Eks Teroris, BNPT Ungkap Bahaya Situs Radikal
Senin, 06 April 2015 - 05:49 WIB
Hadirkan Eks Teroris, BNPT Ungkap Bahaya Situs Radikal
A
A
A
JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Polisi Saud Usman Nasution menghadirkan seorang mantan teroris dalam acara diskusi yang membahas pemblokiran 22 situs Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).
Saud mengungkapkan alasannya mengikutsertakan mantan teroris yang bernama Abdurrahman Ayyub itu. Dia berharap Ayyub dapat memberi gambaran menyeluruh mengenai bayang-bayang terorisme yang sudah mengintai perdamaian negeri ini.
"Banyak yang sudah kooperatif. Kadang masyarakat kita enggak yakin. Bagaimana dulu dia diproses dibaiat dan diberikan pemahaman dalam kelompok, dia menjelaskan seperti itu. Umumnya mereka paham berjihad di luar agama Islam, ada semua di situs. Bikin bom tahu dari situs," ujar Saud di Kantor AJI, Jakarta Selatan, Minggu 5 April 2015.
Ayyub pun berbagi cerita seputar pengalamannya selama menjadi teroris. Dia mengungkapkan proses perekrutan menjadi teroris saat ini berkembang pesat melalui situs-situs radikal.
"Sekarang kita lihat dan menarik pemuda dengan baiat itu paling efektif. Abu Bakar Ba'asyir yang di Nusakambangan menyatakan baiat melalui situsnya. Sekarang lebih canggih, jadi lebih mudah merekrut anak muda," ungkap Ayyub.
Dia juga menceritakan pengalamannya selama tergabung dalam sebuah kelompok teroris. Ayyub mengaku pernah dikirim ke Afganistan untuk mengikuti latihan militer.
"Saya pernah punya cita-cita memporakporandakan NKRI makanya saya pernah dibaiat dengan NII, Afganistan," ucapnya.
Di Afghanistan kata dia, dirinya dilatih militer untuk perang melawan NKRI. "NKRI dianggap kafir kecuali dibaiat dengan NII atau sekarang dikenal JI. Ini pengalaman saya. Saya pernah tinggalkan keluarga saya lima tahun dengan alasan jihad, terus lima tahun lagi dengan alasan jihad," tandasnya.
Dari kiri ke kanan, Ketua Komite Hukum Dewan Pers Yosep, Ketua BNPT Komisaris Jenderal Polisi Saud Usman, Abdurrahman Ayyub, Pemimpin Redaksi Hidayatullah.com Mahladi (Alfani Roosy Andinni/Sindonews)
Saud mengungkapkan alasannya mengikutsertakan mantan teroris yang bernama Abdurrahman Ayyub itu. Dia berharap Ayyub dapat memberi gambaran menyeluruh mengenai bayang-bayang terorisme yang sudah mengintai perdamaian negeri ini.
"Banyak yang sudah kooperatif. Kadang masyarakat kita enggak yakin. Bagaimana dulu dia diproses dibaiat dan diberikan pemahaman dalam kelompok, dia menjelaskan seperti itu. Umumnya mereka paham berjihad di luar agama Islam, ada semua di situs. Bikin bom tahu dari situs," ujar Saud di Kantor AJI, Jakarta Selatan, Minggu 5 April 2015.
Ayyub pun berbagi cerita seputar pengalamannya selama menjadi teroris. Dia mengungkapkan proses perekrutan menjadi teroris saat ini berkembang pesat melalui situs-situs radikal.
"Sekarang kita lihat dan menarik pemuda dengan baiat itu paling efektif. Abu Bakar Ba'asyir yang di Nusakambangan menyatakan baiat melalui situsnya. Sekarang lebih canggih, jadi lebih mudah merekrut anak muda," ungkap Ayyub.
Dia juga menceritakan pengalamannya selama tergabung dalam sebuah kelompok teroris. Ayyub mengaku pernah dikirim ke Afganistan untuk mengikuti latihan militer.
"Saya pernah punya cita-cita memporakporandakan NKRI makanya saya pernah dibaiat dengan NII, Afganistan," ucapnya.
Di Afghanistan kata dia, dirinya dilatih militer untuk perang melawan NKRI. "NKRI dianggap kafir kecuali dibaiat dengan NII atau sekarang dikenal JI. Ini pengalaman saya. Saya pernah tinggalkan keluarga saya lima tahun dengan alasan jihad, terus lima tahun lagi dengan alasan jihad," tandasnya.
Dari kiri ke kanan, Ketua Komite Hukum Dewan Pers Yosep, Ketua BNPT Komisaris Jenderal Polisi Saud Usman, Abdurrahman Ayyub, Pemimpin Redaksi Hidayatullah.com Mahladi (Alfani Roosy Andinni/Sindonews)
(dam)