Quo Vadis Ketahanan Pangan Kita?

Rabu, 11 Maret 2015 - 10:23 WIB
Quo Vadis Ketahanan...
Quo Vadis Ketahanan Pangan Kita?
A A A
ARI AKBAR DEVANANTA
Mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan,
Pengurus Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia Klaster Mahasiswa,
Universitas Gadjah Mada

Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang dapat menentukan kualitas sumber daya manusia di suatu negara baik dari aspek gizi, kesehatan, produktivitas, dan kecerdasan.

Oleh karena itu, persoalan pangan bagi Indonesia, dan juga bangsa-bangsa lainnya menjadi persoalan yang sangat mendasar, dan sangat menentukan nasib dari suatu bangsa. Hal ini disebabkan ketergantungan pangan dapat memicu terjadinya terbelenggunya kemerdekaan bangsa dan rakyat terhadap suatu kelompok, baik negara lain maupun kekuatan-kekuatan ekonomi lainnya.

Berbicara mengenai pangan Indonesia. Ketahanan pangan Indonesia berbanding terbalik dengan impor pangan yang justru semakin meningkat. Data statistik FAO tahun 2012 menunjukkan Indonesia adalah produsen dan konsumen terbesar ketiga dunia. Sedangkan di lingkup ASEAN, posisi Indonesia dalam indeks ketahanan pangan di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Selain itu, berdasar hasil sensus pertanian tahun 2013 yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS), ternyata impor pangan Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada 2003, impor pangan baru senilai USD3,34 miliar, tahun 2013 nilainya sudah mencapai USD14,9 miliar atau naik lebih dari 400% dalam kurun waktu 10 tahun. Tahun 2013, Vietnam menjadi pemasok terbesar beras impor Indonesia.

Dari total impor 472.000 ton beras senilai USD246 juta, Vietnam mendominasi dengan jumlah beras 171.286 ton atau senilai USD97,3 juta. Impor beras dari Vietnam menyumbang 36,3% dari total impor beras Indonesia tahun 2013. Akhirnya, untuk membangun sistem ketahanan pangan yang kuat, memang sangat diperlukan perhatian serius dan dukungan penuh dari berbagai pihak terkait seperti perlunya perhatian lebih ketenagakerjaan sektor pertanian, alokasi lahan untuk tanaman pangan, dan penguasaan lahan oleh petani.

Selain itu, pembangunan infrastruktur pertanian perlu mendapat perhatian khusus karena hal tersebut dapat menjamin kelancaran distribusi produk pertanian beserta input produksinya. Akan tetapi, apabila masih belum juga terwujud sinergitas dan soliditas yang apik dari berbagai pihak terkait, harapan petani untuk bisa hidup dengan sejahtera dan kembalinya Indonesia sebagai ”macan Asia” dalam bidang pangan masih sekadar mimpi belaka.
(bbg)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
KPK Sebut OTT Bupati...
KPK Sebut OTT Bupati Lombok Barat Naik ke Tahap Penyidikan
Rapat Paripurna DPR...
Rapat Paripurna DPR RI Hari Ini Sahkan RUU PFII hingga Tetapkan Anggota KPI
Evaluasi Program MBG,...
Evaluasi Program MBG, BGN Cek Ulang Validitas 63 Juta Penerima Manfaat-Insentif SPPG
Heboh Kipas Angin Rp1,8...
Heboh Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes, KPK Ingatkan Pengadaan Barang Titik Rawan Korupsi
Komisi I DPR Setujui...
Komisi I DPR Setujui Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi, Nurul Arifin: Perkuat Pertahanan dan Tingkatkan Daya Gentar
Hasil Perampasan Aset...
Hasil Perampasan Aset Diurus Badan Khusus, Komisi III DPR: Perlu Ada Tim Pengawasan
Infografis
Alasan RI Gabung BRICS,...
Alasan RI Gabung BRICS, Prabowo: Kita Mau Berada di Mana-mana
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved