Dunia Politik dan Agraris

Senin, 02 Maret 2015 - 10:12 WIB
Dunia Politik dan Agraris
Dunia Politik dan Agraris
A A A
Dian Dwi Jayanto
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP, Aktivis HMI. UNAIR Surabaya

Dewasa ini dunia politik mengalami degradasi persepsi yang luar biasa. Politik dipandang sebagai arena tidak terhormat untuk dimasuki.

Asumsi demikian merupakan konsekuensi logis dari perilaku elite politik kita. Meskipun alergi dengan politik, kita tidak akan bisa memisahkan berbagai aspek kehidupan dari dunia tersebut. Subaspek politik dalam hubungan kekuasaan meliputi interaksi antara unsur masyarakat dan unsur negara dalam proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik; bagaimana kebijakan publik dirumuskan dan diimplementasikan dan bagaimana implementasi kebijakan publik dievaluasi dan sebagainya.

Di sinilah terdapat relasinya dengan pertanian. Sebagai contoh, apakah Anda setuju jika bahan pokok itu murah? Pastinya Anda akan setuju. Permasalahannya pemerintah juga setuju dengan Anda. Jika bahan pokok tetap murah, berarti para petani penghasilannya akan tetap kecil. Jika petani berani menaikkan harga beras hasil produksinya, sering sekali pemerintah mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam, kemudian disubsidi secara besar-besaran dan ditawarkan ke pasar.

Dengan perbandingan harga bahan pokok yang lebih murah, berarti mau tidak mau petani akan menurunkan kembali harga produksinya. Sehebat apa pun etos kerja para petani, mereka tidak akan berkembang pesat tanpa ada keseriusan pemerintah untuk memperhatikan nasib mereka. Terkadang kemiskinan bukan karena malas bekerja atau karena nasib, melainkan terdapat sistem pemiskinan secara struktural.

Keadaan demikian dimungkinkan akan tetap berlanjut karena watak sosiologis para petani cenderung berpikir pragmatis, kurang rasional dan mudah pasrah. Sejak kecil, kita sudah diberi asupan pemahaman bahwa negara Indonesia adalah negara agraris. Mengapa pemerintah tidak memfokuskan obyek kerja untuk menggarap sektor tersebut?

Kenapa malah menyibukkan diri dengan membuat kerja sama bisnis mengenai mobil nasional dan sebagainya? Taruhlah China, Jepang, Amerika, dan negara-negara maju lainnya terkenal akan kecanggihan teknologi yang diproduksi, mengapa Indonesia tidak mendayagunakan identitas agrarisnya secara maksimal sehingga menjadi branding tersendiri bagi perkembangan ekonomi negara?

Semoga Bapak Andi Maran Sulaiman, menteri Pertanian Kabinet Kerja, mau dan mampu secara serius melaksanakan instruksi presiden untuk menghentikan impor beras, gula, dan kedelai dalam beberapa tahun ke depan. Sudah saatnya jabatan politik bukan sekadar dipahami sebagai kekuasaan dan kewenangan semata, namun sebagai fungsi dan sarana untuk melayani warga negara.
(ars)
Berita Terkait
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
3 Pati dan Pamen Dimutasi...
3 Pati dan Pamen Dimutasi Kapolri ke Kortastipidkor, Ada Irjen hingga Kombes Pol
7 Terdakwa Kasus Suap...
7 Terdakwa Kasus Suap Sertifikasi K3 Kemnaker Dihukum 4 hingga 6,5 Tahun Penjara
Survei Poltracking:...
Survei Poltracking: 42,4% Publik Setuju MK Hapus Presidential Threshold
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved