E-Ticketing Busway Dinilai Terburu-buru
Rabu, 25 Februari 2015 - 13:19 WIB
E-Ticketing Busway Dinilai Terburu-buru
A
A
A
JAKARTA - Pemberlakuan sistem e-ticketing bus Transjakarta (busway) di seluruh koridor dinilai terburu-buru. Sebelum diterapkan, seharusnya ada peningkatan pelayanan bus dan sarana prasarana lainnya.
Peningkatan layanan seperti penambahan dan peremajaan bus, perbaikan dan sterilisasi jalur, serta renovasi halte yang lebih besar. Dengan begitu, pengguna Transjakarta tidak merasa keberatan menggunakan eticketing meski hanya sekali merogoh kocek sebesar Rp40.000 untuk kartu perdana e-ticketing.
”Sosialisasi boleh saja dilakukan, tapi jangan langsung diterapkan sebelum perbaikan pelayanan lainnya. Jadi kalau boleh, sediakan kembali loket karcis agar pengguna yang melakukan satu kali perjalanan tidak merasa terbebani,” ujar anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike kemarin. Menurut dia, penggunaan sistem pembayaran secara elektronik atau e-ticketing tidak menguntungkan penumpang Transjakarta, tetapi menguntungkanpihakbanksaja.
Diamenyarankan PT Transportasi Jakarta sebagai badan usaha milik daerah segera berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, kepolisian, dan DPRD untuk mempercepat peningkatan saranaprasarana, sehingga kejadiankejadian di lapangan seperti keluhan masyarakat terkait eticketing tidak kembali terjadi. ”Kalau memang tidak bersedia menyediakan loket karcis, PT Transportasi Jakarta harus segera memperbaiki sarana-prasarana lainnya.
Saya lihat banyak bus tua, jalan rusak, dan halte kumuh, jelas ini tidak menguntungkan pengguna,” kata Yuke. Humas PT Transportasi Jakarta Sri Ulina Pinem mengungkapkan, pihaknya tidak bisa menyediakan kembali loket karcis karena tahap awal peningkatan pelayanan dimulai dengan target penerapan sistem e-ticketing.
Menurutnya, pengguna tidak perlu takut mengeluarkan Rp40.000 dan hanya sekali memakai e-ticketing dalam perjalanan Transjakarta. Selain itu, kartu juga bisa digunakan untuk berbelanja di ritelritel yang hampir semuanya menyediakan pelayanan kartu berbayar elektronik. ”Kartu perdana Rp40.000 dengan saldo Rp20.000 itu kebijakan para bank yang sama sekali tidak masuk ke kami.
Ke depan, kami akan mengeluarkan kartu sendiri sehingga bisa dipakai hanya untuk satu kali perjalanan,” ujar Sri. Untuk meningkatkan pelayanan, PT Transportasi Jakarta, Juni, akan mendatangkan 51 bus merek Scania. Bahkan, para operator yang berada di bawah PT Transportasi Jakarta seperti Kopaja, Kopami, dan APTB juga akan mendatangkan ratusan bus secara bertahap.
Dengan demikian, pengguna bus Transjakarta hanya cukup menunggu kedatangan bus sekitar 5-10 menit. ”Peningkatan pelayanan melalui sistem e-ticketing sudah terselesaikan. Selanjutnya kedatangan bus dan seterusnya hingga renovasi halte,” ucapnya. Direktur PT Transportasi Jakarta Antonius Kosasih mengatakan, dengan penerapan eticketing terjadi penurunan antrean di halte busway sekitar 20- 25%. ”Ini tahap awal membuat antrean menjadi lebih pendek.
Antrean di loket sama sekali tidak ada,” tuturnya. Halte juga akan direnovasi agar mampu menampung 300.000 penumpang berikut perbaikan fasilitas penunjang lainnya. Rencana mengintegrasikan bus Transjakarta dengan moda transportasi umum lainnya, menurut Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit bisa terwujud pada tiga tahun mendatang, sebab masih banyak yang harus disiapkan Pemprov DKI.
”Terpenting yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah masalah investasi pada program tersebut,” ujarnya. Pemprov DKI harus menentukan apakah investasi itu akan dilakukan pihak pemerintah atau swasta. Tentunya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) siap mengucurkan anggaran, asalkan DPRD menyetujui.
Namun, dia menilai sebaiknya pemerintah pusat yang melakukan investasi mengingat kondisi ruang fiskal mereka lebih besar. ”Kalau investasi sudah tidak ada kendala, selanjutnya melakukan perbaikan infrastruktur yakni infrastruktur pejalan kakilah yang pertama kali harus dibenahi,” kata Danang.
Bima setiyadi
Peningkatan layanan seperti penambahan dan peremajaan bus, perbaikan dan sterilisasi jalur, serta renovasi halte yang lebih besar. Dengan begitu, pengguna Transjakarta tidak merasa keberatan menggunakan eticketing meski hanya sekali merogoh kocek sebesar Rp40.000 untuk kartu perdana e-ticketing.
”Sosialisasi boleh saja dilakukan, tapi jangan langsung diterapkan sebelum perbaikan pelayanan lainnya. Jadi kalau boleh, sediakan kembali loket karcis agar pengguna yang melakukan satu kali perjalanan tidak merasa terbebani,” ujar anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike kemarin. Menurut dia, penggunaan sistem pembayaran secara elektronik atau e-ticketing tidak menguntungkan penumpang Transjakarta, tetapi menguntungkanpihakbanksaja.
Diamenyarankan PT Transportasi Jakarta sebagai badan usaha milik daerah segera berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, kepolisian, dan DPRD untuk mempercepat peningkatan saranaprasarana, sehingga kejadiankejadian di lapangan seperti keluhan masyarakat terkait eticketing tidak kembali terjadi. ”Kalau memang tidak bersedia menyediakan loket karcis, PT Transportasi Jakarta harus segera memperbaiki sarana-prasarana lainnya.
Saya lihat banyak bus tua, jalan rusak, dan halte kumuh, jelas ini tidak menguntungkan pengguna,” kata Yuke. Humas PT Transportasi Jakarta Sri Ulina Pinem mengungkapkan, pihaknya tidak bisa menyediakan kembali loket karcis karena tahap awal peningkatan pelayanan dimulai dengan target penerapan sistem e-ticketing.
Menurutnya, pengguna tidak perlu takut mengeluarkan Rp40.000 dan hanya sekali memakai e-ticketing dalam perjalanan Transjakarta. Selain itu, kartu juga bisa digunakan untuk berbelanja di ritelritel yang hampir semuanya menyediakan pelayanan kartu berbayar elektronik. ”Kartu perdana Rp40.000 dengan saldo Rp20.000 itu kebijakan para bank yang sama sekali tidak masuk ke kami.
Ke depan, kami akan mengeluarkan kartu sendiri sehingga bisa dipakai hanya untuk satu kali perjalanan,” ujar Sri. Untuk meningkatkan pelayanan, PT Transportasi Jakarta, Juni, akan mendatangkan 51 bus merek Scania. Bahkan, para operator yang berada di bawah PT Transportasi Jakarta seperti Kopaja, Kopami, dan APTB juga akan mendatangkan ratusan bus secara bertahap.
Dengan demikian, pengguna bus Transjakarta hanya cukup menunggu kedatangan bus sekitar 5-10 menit. ”Peningkatan pelayanan melalui sistem e-ticketing sudah terselesaikan. Selanjutnya kedatangan bus dan seterusnya hingga renovasi halte,” ucapnya. Direktur PT Transportasi Jakarta Antonius Kosasih mengatakan, dengan penerapan eticketing terjadi penurunan antrean di halte busway sekitar 20- 25%. ”Ini tahap awal membuat antrean menjadi lebih pendek.
Antrean di loket sama sekali tidak ada,” tuturnya. Halte juga akan direnovasi agar mampu menampung 300.000 penumpang berikut perbaikan fasilitas penunjang lainnya. Rencana mengintegrasikan bus Transjakarta dengan moda transportasi umum lainnya, menurut Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit bisa terwujud pada tiga tahun mendatang, sebab masih banyak yang harus disiapkan Pemprov DKI.
”Terpenting yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah masalah investasi pada program tersebut,” ujarnya. Pemprov DKI harus menentukan apakah investasi itu akan dilakukan pihak pemerintah atau swasta. Tentunya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) siap mengucurkan anggaran, asalkan DPRD menyetujui.
Namun, dia menilai sebaiknya pemerintah pusat yang melakukan investasi mengingat kondisi ruang fiskal mereka lebih besar. ”Kalau investasi sudah tidak ada kendala, selanjutnya melakukan perbaikan infrastruktur yakni infrastruktur pejalan kakilah yang pertama kali harus dibenahi,” kata Danang.
Bima setiyadi
(ars)