Aspek Penunjang Pendidikan Tinggi

Selasa, 24 Februari 2015 - 10:01 WIB
Aspek Penunjang Pendidikan...
Aspek Penunjang Pendidikan Tinggi
A A A
Masih hangat di ingatan kita, Oktober lalu, pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) baru saja memenangkan pesta demokrasi tertinggi di Indonesia yakni pemilihan presiden (pilpres) yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali.

Dalam kepemimpinannya kali ini, mereka mengangkat empat menteri yang tergabung dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Di antaranya Menteri Koordinator Pembangunan Manusia Puan Maharani, Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar, dan Menengah Anies Baswedan, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise.

Terpisahnya pendidikan tinggi dan kebudayaan pada pembentukan kementerian kali ini menimbulkan polemik baru. Dalam kasus ini, seolah kebudayaan tidak ada kaitannya dengan pendidikan tinggi. Perihal kebudayaan merupakan persoalan yang cukup pelik. Tak hanya itu, kebudayaan bukanlah hal sepele yang dengan mudahnya dapat disampingkan.

Wajar saja jika banyak yang menganggap pemisahan antara kebudayaan dan pendidikan tinggi pada kementerian kali ini menjadi hal yang aneh. Namun, penggabungan antara pendidikan tinggi, riset, dan teknologi dalam satu kementerian yang sama membuat permasalahan di atas dapat sedikit ditoleransi.

Penggabungan tiga aspek tersebut dapat meningkatkan daya saingpendidikantinggi dalammenghasilkanlulusan dan riset yang mendukung pembangunan bangsa. Seperti diketahui, pendidikan tinggi di Indonesia masih jauh untuk mencapai world class university (WCU). Salah satu syarat untuk mencapai hal tersebut dilihat dari pengembangan riset dan penggunaan teknologi di dalamnya.

Karena itu, penggabungan antara pendidikan tinggi, riset, dan teknologi dalam satu kementerian diharapkan dapat membuat pendidikan tinggi di Indonesia mencapai WCU. Semua aspek tersebut sesungguhnya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Antara kebudayaan, pendidikan tinggi, riset, dan teknologi saling memengaruhi.

Pembentukan kementerian pada era kepemimpinan Jokowi-JK saat ini mungkin sudah dipertimbangkan secara matang sebelumnya. Karena semua aspek tersebut sangat penting, alangkah baiknya jika menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi, serta menteri koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan bisa saling melengkapi.

Ini bertujuan memperbaiki hambatanhambatan yang selama ini menjadi kendala dalam kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia.

Aci Sutanti
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(ftr)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
PAMA Group Tanam 2.000...
PAMA Group Tanam 2.000 Bibit Mangrove di Pesisir Semarang: 'Jadi Benteng Alami dari Perubahan Iklim'
Buku Sang Arsitek Presisi...
Buku Sang Arsitek Presisi Polri Ulas Kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo
Dokter Tifa: Dakwaan...
Dokter Tifa: Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Berisi Pasal Lemah
Dokter Tifa Mulai Disidang...
Dokter Tifa Mulai Disidang 2 Juli: Insya Allah Kami Siap
Gus Yaqut Sakit, KPK...
Gus Yaqut Sakit, KPK Bantarkan Penahanannya ke RS Polri Kramatjati
1 Lagi Calon Manajer...
1 Lagi Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Dunia saat Latsarmil, Total 3 Orang
Infografis
10 Negara dengan Tingkat...
10 Negara dengan Tingkat Pendidikan Tertinggi di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved