Jalur Utama Perekonomian yang Minim Perhatian
Senin, 16 Februari 2015 - 09:56 WIB
Jalur Utama Perekonomian yang Minim Perhatian
A
A
A
Hujan deras yang mengguyur wilayah Bogor selama dua pekan terakhir membuat kerusakan Raya Mayjen HE Sukma atau biasa disebut jalur Bogor- Ciawi-Sukabumi (Bocimi) semakin parah. Hal ini menimbulkan kemacetan luar biasa di kawasan tersebut.
Kemacetan akibat kerusakan jalan dipastikan merugikan masyarakat, baik dari segi waktu, ekonomi, produktivitas kerja, dan pemborosan bahan bakar kendaraan (BBM). Di jalur yang menghubungkan tiga wilayah yakni Kota Bogor- Kabupaten Bogor- Sukabumi tersebut saat ini terdapat ratusan lubang dengan diameter dan kedalaman bervariasi. Berdasarkan pantauan, sedikitnya terdapat sekitar 600 lubang di sepanjang ”jalur tengkorak” itu, baik dari arah Sukabumi maupun dari sebaliknya yakni Bogor atau Ciawi.
Lubang terbanyak terhampar di jalur dari arah Sukabumi, mulai dari perbatasan Kabupaten Bogor- Sukabumi hingga Ciawi yakni sebanyak 400 lubang. Sedangkan dari arah Bogor- Ciawi menuju Sukabumi sekitar 200 lubang dengan diameter mulai 50-100 cm dengan kedalamannya 10-30 cm. Kondisi buruk sepanjang jalur milik provinsi itu belum mendapat respons dari instansi terkait, baik Pemkab Bogor maupun Pemprov Jawa Barat.
Warga pun sering mengeluh karena kondisi jalan tersebut telah menghambat aktivitas, khususnya dari sisi perekonomian. Cepat rusaknya Jalan Mayjen HE Sukma karena selain sebagai penghubung tiga wilayah, jalur ini adalah jalur utama satu-satunya kawasan industri. Kendaraan yang melewati jalan ini didominasi oleh truk-truk besar seperti tronton, kontainer, dan tangki yang tentu memiliki tonase yang berlebihan.
”Waduh sudah dari dulu, jalur Bocimi ini sangat minim perhatian. Padahal jalur ini merupakan bagian dari denyut nadi perekonomian warga Bogor dan Sukabumi, karena sebagai jalur distribusi barang. Makanya saya selalu hati-hati setiap melintas karena tak jarang ada kecelakaan yang merenggut korban jiwa,” kata Dede Suhendar, 34, warga Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, kemarin.
Kecelakaan lalu lintas juga terjadi akibat minimnya penerangan jalan umum (PJU) yang sangat dibutuhkan pengguna jalan saat melintas di hari gelap. ”Kalau kurang hati-hati, bisabisa motor masuk lubang dan terjatuh. Masih mending hanya terjatuh, kalau truk besar melintas dipastikan korban tidak akan selamat,” ungkapnya.
Arif, 38, sopir angkot trayek 02 jurusan Cicurug-Bogor mengaku, harus sering berjalan zigzag untuk menghindari lubang sehingga dikeluhkan penumpang karena kenyamanan terganggu. ”Kadang-kadang saya kaget dan terpaksa harus banting setir kalau lalu lintas kosong meski sangat membahayakan,” terangnya.
Bedi Iriawan, Dekan Fakultas Ilmu Politik Sosial dan Komunikasi Universitas Djuanda, Ciawi, menuturkan, dulu jarak tempuh perjalanan dari Ciawi menuju Cigombong (batas Kabupaten Bogor-Sukabumi di Selatan) hanya 20-30 menit. Saat ini untuk melewati jalur yang sama membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 3 jam lamanya. ”Apalagi kalau sudah akhir pekan, ditambah lagi kerusakan jalan di jembatan Caringin yang sempat diperbaiki, semakin memperparah kemacetan,” tandasnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jalan dan Jembatan Wilayah Ciawi Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kabupaten Bogor Eko Sulistianto mengakui bahwa pihaknya sering mendapat keluhan dari warga. ”Keluhan tersebut banyak dilontarkan warga Ciawi dan Caringin yang meminta kita bertanggung jawab dan segera melakukan perbaikan. Tapi karena jalan tersebut milik provinsi, kita tidak bisa berbuat apaapa. Kewenangan perbaikan ada di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Jawa Barat,” ungkapnya.
Meski demikian, pihaknya selalu proaktif melaporkan kondisi kerusakan jalan di jalur Bocimi itu kepada Dinas PU Jawa Barat. ”Kewenangan kami hanya memelihara atau memperbaiki jalan-jalan milik Kabupaten Bogor. Untuk jalan provinsi, kita hanya dimintai saran teknis saja jika ada perbaikan jalan atau jembatan,” kilahnya.
Haryudi
Bogor
Kemacetan akibat kerusakan jalan dipastikan merugikan masyarakat, baik dari segi waktu, ekonomi, produktivitas kerja, dan pemborosan bahan bakar kendaraan (BBM). Di jalur yang menghubungkan tiga wilayah yakni Kota Bogor- Kabupaten Bogor- Sukabumi tersebut saat ini terdapat ratusan lubang dengan diameter dan kedalaman bervariasi. Berdasarkan pantauan, sedikitnya terdapat sekitar 600 lubang di sepanjang ”jalur tengkorak” itu, baik dari arah Sukabumi maupun dari sebaliknya yakni Bogor atau Ciawi.
Lubang terbanyak terhampar di jalur dari arah Sukabumi, mulai dari perbatasan Kabupaten Bogor- Sukabumi hingga Ciawi yakni sebanyak 400 lubang. Sedangkan dari arah Bogor- Ciawi menuju Sukabumi sekitar 200 lubang dengan diameter mulai 50-100 cm dengan kedalamannya 10-30 cm. Kondisi buruk sepanjang jalur milik provinsi itu belum mendapat respons dari instansi terkait, baik Pemkab Bogor maupun Pemprov Jawa Barat.
Warga pun sering mengeluh karena kondisi jalan tersebut telah menghambat aktivitas, khususnya dari sisi perekonomian. Cepat rusaknya Jalan Mayjen HE Sukma karena selain sebagai penghubung tiga wilayah, jalur ini adalah jalur utama satu-satunya kawasan industri. Kendaraan yang melewati jalan ini didominasi oleh truk-truk besar seperti tronton, kontainer, dan tangki yang tentu memiliki tonase yang berlebihan.
”Waduh sudah dari dulu, jalur Bocimi ini sangat minim perhatian. Padahal jalur ini merupakan bagian dari denyut nadi perekonomian warga Bogor dan Sukabumi, karena sebagai jalur distribusi barang. Makanya saya selalu hati-hati setiap melintas karena tak jarang ada kecelakaan yang merenggut korban jiwa,” kata Dede Suhendar, 34, warga Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, kemarin.
Kecelakaan lalu lintas juga terjadi akibat minimnya penerangan jalan umum (PJU) yang sangat dibutuhkan pengguna jalan saat melintas di hari gelap. ”Kalau kurang hati-hati, bisabisa motor masuk lubang dan terjatuh. Masih mending hanya terjatuh, kalau truk besar melintas dipastikan korban tidak akan selamat,” ungkapnya.
Arif, 38, sopir angkot trayek 02 jurusan Cicurug-Bogor mengaku, harus sering berjalan zigzag untuk menghindari lubang sehingga dikeluhkan penumpang karena kenyamanan terganggu. ”Kadang-kadang saya kaget dan terpaksa harus banting setir kalau lalu lintas kosong meski sangat membahayakan,” terangnya.
Bedi Iriawan, Dekan Fakultas Ilmu Politik Sosial dan Komunikasi Universitas Djuanda, Ciawi, menuturkan, dulu jarak tempuh perjalanan dari Ciawi menuju Cigombong (batas Kabupaten Bogor-Sukabumi di Selatan) hanya 20-30 menit. Saat ini untuk melewati jalur yang sama membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 3 jam lamanya. ”Apalagi kalau sudah akhir pekan, ditambah lagi kerusakan jalan di jembatan Caringin yang sempat diperbaiki, semakin memperparah kemacetan,” tandasnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jalan dan Jembatan Wilayah Ciawi Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kabupaten Bogor Eko Sulistianto mengakui bahwa pihaknya sering mendapat keluhan dari warga. ”Keluhan tersebut banyak dilontarkan warga Ciawi dan Caringin yang meminta kita bertanggung jawab dan segera melakukan perbaikan. Tapi karena jalan tersebut milik provinsi, kita tidak bisa berbuat apaapa. Kewenangan perbaikan ada di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Jawa Barat,” ungkapnya.
Meski demikian, pihaknya selalu proaktif melaporkan kondisi kerusakan jalan di jalur Bocimi itu kepada Dinas PU Jawa Barat. ”Kewenangan kami hanya memelihara atau memperbaiki jalan-jalan milik Kabupaten Bogor. Untuk jalan provinsi, kita hanya dimintai saran teknis saja jika ada perbaikan jalan atau jembatan,” kilahnya.
Haryudi
Bogor
(ars)