Pengamat: Kabinet Jokowi Masih Terkesan Tak Kompak
Minggu, 11 Januari 2015 - 18:33 WIB
Pengamat: Kabinet Jokowi Masih Terkesan Tak Kompak
A
A
A
JAKARTA - Jelang 100 hari kerja pemerintahan Jokowi-JK, Kabinet Kerja masih tampak terbelah. Mereka terlihat masih bekerja sendiri-sendiri dan belum bersinergi sebagai sebuah tim Kabinet Kerja.
“Kabinet Kerja belum menunjukkan sinergi sebagai suatu tim. Kerja-kerja yang dilakukan oleh berbagai kementerian masih terkesan parsial (sendiri-sendiri),” kata Peneliti dari Indonesian Institute for Development and Democracy (INDED) Arif Susanto dalam diskusi yang bertajuk “Politik 2015: Berpihak Kepada Siapa?” di Dre’s Kopitiam Sabang, Jakarta, Minggu (11/1/2015).
Menurut Arif, belum nampak keterkaitan dan kerja sama antara kementerian untuk menangani sejumlah masalah yang sifatnya kompleks. Serta, belum terkoordinasinya kementerian dari kabinet kerja sehingga, masih terjadi perebutan bidang kerja antara institusi yang berbeda.
“Sebut saja urusan desa yang diperebutkan oleh Kemendagri dan Kementerian Desa,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Arif, kerja menteri-menteri Jokowi masih sebatas permukaan masalah saja, belum masuk ke level akar masalah. Bahkan, menteri Jokowi lebih sering menimbulkan kegaduhan-kegaduhan di media massa yang sifatnya pencitraan, ketimbang menyelesaikan akar persoalan yang sesungguhnya.
“Seperti misalnya masalah illegal fishing malah ngebom kapal, masalah tenaga kerja menterinya lompat pagar,” tandasnya.
“Kabinet Kerja belum menunjukkan sinergi sebagai suatu tim. Kerja-kerja yang dilakukan oleh berbagai kementerian masih terkesan parsial (sendiri-sendiri),” kata Peneliti dari Indonesian Institute for Development and Democracy (INDED) Arif Susanto dalam diskusi yang bertajuk “Politik 2015: Berpihak Kepada Siapa?” di Dre’s Kopitiam Sabang, Jakarta, Minggu (11/1/2015).
Menurut Arif, belum nampak keterkaitan dan kerja sama antara kementerian untuk menangani sejumlah masalah yang sifatnya kompleks. Serta, belum terkoordinasinya kementerian dari kabinet kerja sehingga, masih terjadi perebutan bidang kerja antara institusi yang berbeda.
“Sebut saja urusan desa yang diperebutkan oleh Kemendagri dan Kementerian Desa,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Arif, kerja menteri-menteri Jokowi masih sebatas permukaan masalah saja, belum masuk ke level akar masalah. Bahkan, menteri Jokowi lebih sering menimbulkan kegaduhan-kegaduhan di media massa yang sifatnya pencitraan, ketimbang menyelesaikan akar persoalan yang sesungguhnya.
“Seperti misalnya masalah illegal fishing malah ngebom kapal, masalah tenaga kerja menterinya lompat pagar,” tandasnya.
(kri)