Janda Korban Perang Kini Bingung Akan Masa Depannya

Selasa, 23 Desember 2014 - 11:25 WIB
Janda Korban Perang...
Janda Korban Perang Kini Bingung Akan Masa Depannya
A A A
Ribuan orang terbunuh di wilayah administrasi India, Kashmir, sejak konflik menentang pemerintahan India meletus pada 1989. Konflik mereda pada 2000-an, tetapi duka yang disebabkan terasa hingga kini. Duka itu dirasakan para perempuan Kashmir, yang harus menjadi janda.

Karena perang perebutan wilayah, mereka yang awalnya hidup damai, kini jadi menderita. Salah satu janda korban konflik adalah Rafiqa Malik, yang bersuamikan Ghulam Nabi Malik, sempat menjadi militan anti-India. Kehidupan bahagianya berubah duka saat konflik meletus. Rafiqa bercerita, awalnya keluarga mereka hidup bahagia dengan penghasilan sekitar USD3 per hari (sekitar Rp37.500).

Mereka merasa sebagai sepasang suami-istri yang saling mencintai. Pada 1990-an, sentimen anti-India melanda dan gerakan militan mulai berkembang dan memasuki Lembah Kashmir. “Kampung kami, Bandipore, memiliki militan tiap rumahnya,” kata Rafiqa. Saat sentimen meledak, suaminya, Ghulam, menghilang pada 1990, sepuluh tahun setelah mereka menikah.

Rafiqa mencoba mencari tahu keberadaan suami. Salah seorang tetangga mengabarinya, sang suami telah menyeberang ke Pakistan untuk “pelatihan”. “Saya dengar dia bergabung ke dalam pasukan jihad anti- India. Saya mengiriminya pesan berkali-kali, memintanya kembali, tetapi tak pernah dijawab,” terang Rafiqa.

Setahun setelah kabar pelatihan didengar, Suami Rafiqa pulang. Akan tetapi keadaan jauh berubah. Ghulam, kata Rafiqa, menjadi jarang di rumah. Senjata juga selalu berada dalam genggaman. “Saya sampai meminta cerai karena kondisinya sangat menyakitkan,” tutur Rafiqa.

Petaka akhirnya menghampiri pada 25 September, saat Ghulam terbunuh dalam kontak senjata. “Karena saya sedang hamil saya tak diizinkan melihat tubuhnya untuk terakhir kali. Nasib serupa dialami juga Gulshan Akhtar, janda dari militer India, Abdul Hamid Chara. Keluarganya juga menjadi berantakan karena konflik.

Karena jiwa nasionalis sang suami, Gulshan merelakan dirinya menjadi janda. Sang suami tewas pada 2007 dalam tugas di Lembah Lolab, guna mengatasi serangan pemberontak Kashmir. “Padahal saat dia hendak bertugas, saya tengah mengandung anak keempat,” tutur Gulshan.

Pemerintah lalu memberikan lencana penghargaan atas pengorbanan dan dedikasinya demi bangsa dan negara. “Dia (Abdul Hamid) tewas untuk negaranya. Saya bangga dengannya. Tapi bagaimana masa depan saya dan anak-anak tanpanya?” ungkap Gulshan.

Sugeng Wahyudi
(ftr)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Zainal Arifin Usul Ambang...
Zainal Arifin Usul Ambang Batas Parlemen Dihitung Pakai Basis Kemenangan Partai di Daerah
Antisipasi El Nino Godzilla,...
Antisipasi El Nino Godzilla, Perlu Langkah Cepat Cegah Karhutla dengan Kampanye Masif
Prabowo Panggil Menhut...
Prabowo Panggil Menhut hingga Kepala BMKG, Bahas Karhutla Musim Kemarau
Soroti Pelemahan Rupiah...
Soroti Pelemahan Rupiah hingga Kenaikan Harga Minyak, Hary Tanoesoedibjo: Masyarakat Bawah Paling Terpukul
4 Kapolda Jebolan Akpol...
4 Kapolda Jebolan Akpol 1995 Teman Seangkatan Kadiv Propam Irjen Abdul Karim
Waketum PUI Dukung Sudaryono...
Waketum PUI Dukung Sudaryono Bersih-Bersih BGN, Integritas MBG Harus Jadi Prioritas
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved