Politik Saling Sandera Jokowi-DPR

Rabu, 26 November 2014 - 11:28 WIB
Politik Saling Sandera...
Politik Saling Sandera Jokowi-DPR
A A A
JAKARTA - Situasi politik di Tanah Air sedang tidak menentu. Belum tuntas perseteruan antara dua kubu jdi DPR, kini muncul persoalan baru.

Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto telah menerbitkan surat edaran yang mengimbau para menteri dan anggota kabinet menunda untuk menghadiri rapat dengan DPR.

Alhasil, kebijakan yang didasarkan atas arahan Presiden Jokowi itu pun menjadi perdebatan.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat menyesalkan sikap pemerintah yang melarang sementara Kabinet Kerja untuk tidak datang dalam setiap rapat dengar pendapat (RDP) di DPR.

“Sikap itu justru menghambat kinerja dan fungsi DPR,” ujar Cecep di Kota Depok, Jawa Barat, Selasa 25 November 2014.

Dia menilai apa yang ditunjukkan Pemerintah Jokowi-JK terkesan hanya saling sandera antara dua kubu yakni Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). Cecep.

“Ini sangat disayangkan. Publik bisa menekan kepada DPR maupun presiden. Ini kan jadi saling sandera. Kalau Jokowi menyurati semua menterinya berarti ia menunjukan power-nya, seolah kan enggak mau kerja sama kalau DPR tidak merangkul KIH," ungkapnya.

Sebaiknya, kata Cecep, Jokowi harus mengikuti aturan legal formal yang sejak awal sudah ditetapkan yakni Koalisi Merah Putih (KMP). Dengan begitu, fungsi legislasi akan bisa berjalan.

"Ikuti saja legal formalnya, siapa alat kelengkapan Dewannya, siapa komisinya. Soal pembagian dan mekanisme biarkan saja, ikuti yang legal sejak awal," tukasnya.

Surat edaran Seskab itu menyatakan penundaan menteri untuk memenuhi undangan rapat dengan DPR, sampai DPR benar-benar solid.

Seperti diketahui, persoalan ini merupakan buntut dari perseteruan antara KMP dan KIH dalam perebutan kursi-kursi strategis di DPR.

KIH kecewa dengan KMP karena dianggap telah mendominasi kursi ketua dan wakil ketua komisi dan alat kelengkapan Dewan.

Kekecewaan itu ditunjukkan dengan membentuk DPR tandingan. Dualisme tidak berlangsung lama, keduanya sepakat untuk berdamai. Salah satu poinnya adalah memberikan KIH kursi pemimpin di dalam komisi.

KIH pun meminta agar adanya revisi sejumlah pasal dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2014 tentang MPR DPR DPD DPRD (MD3).
(dam)
Berita Terkait
Daftar Lengkap 580 Anggota...
Daftar Lengkap 580 Anggota DPR yang Dilantik Hari Ini
SDI Sebut Sangat Berlebihan...
SDI Sebut Sangat Berlebihan Kinerja DPR RI Sekarang Dianggap Terburuk di Era Reformasi
Dua Fraksi DPR Enggan...
Dua Fraksi DPR Enggan Laporkan Kasus Corona Anggotanya
Ketua DPR Ajak Gotong...
Ketua DPR Ajak Gotong Royong Atasi Pandemi Corona
DPR Batasi Tamu yang...
DPR Batasi Tamu yang Masuk ke Kompleks Senayan
Sidang Pertama DPR 2020-2021...
Sidang Pertama DPR 2020-2021 Dihadiri 98 Anggota Secara Fisik, 231 Virtual
Berita Terkini
Eks Waka BGN Sony Sonjaya...
Eks Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan JC, Sebut 20 Nama Besar Diduga Terlibat Korupsi
Majelis Etik Ungkap...
Majelis Etik Ungkap Hery Susanto Perintahkan Pegawai Ombudsman Tak Sentuh Program MBG
OTT di Muara Enim, KPK...
OTT di Muara Enim, KPK Tangkap 10 Orang Termasuk Bupati Edison
Tangis Nanik S Deyang...
Tangis Nanik S Deyang Pecah setelah Dilantik Prabowo sebagai Kepala BGN
Anwar Abbas Apresiasi...
Anwar Abbas Apresiasi Kejagung Tangkap Petinggi BGN: Bukti Hukum Tidak Pandang Bulu
Bupati Muara Enim Edison...
Bupati Muara Enim Edison Terjaring OTT KPK
Infografis
4 Perempuan yang Mengguncang...
4 Perempuan yang Mengguncang Politik Global Sepanjang 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved