Maritim dan Perekonomian Kita

Selasa, 18 November 2014 - 12:31 WIB
Maritim dan Perekonomian...
Maritim dan Perekonomian Kita
A A A
GHIFANI AZHAR
Mahasiswi Jurusan Ekonomi dan Administrasi Fakultas Ekonomi,
Anggota Lembaga Kajian Mahasiswa UNJ,
Universitas Negeri Jakarta


Saat Joko Widodo berpidato pertama kali seusai mengucap sumpah sebagai presiden Republik Indonesia, beliau mengutip moto TNI AL, Jalesveva Jayamahe , yang berarti ”justru di laut kita jaya”. Jalesveva Jayamahe merupakan mentalitas semboyan nenek moyang di masa lalu.

Presiden Joko Widodo yakin Indonesia kembali menjadi poros maritim dunia dan mendatangkan kemakmuran rakyat. Potensi pada poros maritim Indonesia harus dioptimalkan. Tantangan hadir sebagai kenyataan. Hingga saat ini perekonomian Indonesia masih bertumpu pada industri pengolahan, pertambangan dan kehutanan, pertanian dan peternakan, serta semua yang berbasis di daratan.

Hilmar Farid dalam pidato kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki mengatakan tumpuan ini dikarenakan Indonesia terlalu lama memunggungi laut. Gerak memunggungi laut membuat pekik-sorak, jerit-pahit, dan dentuman ombak dari perairan menjadi samar.

Kita bisa belajar dari kisah jatuh-bangun kerajaan maritim di Nusantara sebagai akar dari gerak memunggungi laut. Sejarah berbicara kala runtuhnya Majapahit hingga sepinya Tuban, Kerajaan Banten yang dihapuskan dan Pelabuhan Banten yang diambil alih Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) .

Hal serupa terjadi pada pelabuhan Makasar yang menjadi awal kegiatan pemunggungan laut. Dalam narasi novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer disebutkan ukuran kapal suatu negara menunjukkan kebesaran negara tersebut. Kapal besar hanya dirangkai kerajaan besar.

Berbeda dengan kapal dan kerajaan kecil yang menyebabkan arus tidak bergerak ke utara. Hasilnya karena atas angin lebih unggul dan membawa segalanya ke Pulau Jawa, termasuk penghancuran, penindasan, dan penipuan. Tentunya kita harus melebarkan negara kita agar tetap memiliki sejumlah kapal besar yang melintas di lautan luas Nusantara.

Sejumlah kapal besar milik bangsa harus tetap berjaya, meramaikan, dan menjaga laut sebagai potensi perekonomian bangsa. Terlebih kita akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Kita patut bersyukur Presiden Joko Widodo serta Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti terus menggaungkan mentalitas perekonomian mesti kembali ke laut.

Membalikkan kembali tubuh masyarakat menghadap laut sehingga kita tak melulu gagap terhadap pencurian ikan, pelanggaran wilayah, penyelundupan, dan sengketa wilayah di perairan.
(bbg)
Berita Terkait
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Dharma Pongrekun Minta...
Dharma Pongrekun Minta MK Kaji Ulang UU Kesehatan Demi Jaga Kedaulatan Bangsa
Selain Penjara 4,5 Tahun,...
Selain Penjara 4,5 Tahun, Eks Wamenaker Noel Diminta Bayar Uang Pengganti Rp3,4 Miliar
Ribuan Pekerja Rokok...
Ribuan Pekerja Rokok Tembakau Tolak Rancangan Aturan Kemasan Kemenkes
Divonis 4,5 Tahun Penjara...
Divonis 4,5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Ganti Pengganti Rp3,4 Miliar, Noel: Saya Menerima Hukuman Itu
GREAT Institute Dorong...
GREAT Institute Dorong Program MBG Tetap Berjalan dan Semakin Berkualitas
Silmy Karim Ditahan...
Silmy Karim Ditahan KPK, Yusril Ungkap Modus 'Permainan' di Jajaran Imigrasi
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved