Tak Punya Sikap, Demokrat Dinilai Pengecut
Minggu, 28 September 2014 - 06:09 WIB
Tak Punya Sikap, Demokrat Dinilai Pengecut
A
A
A
JAKARTA - Kegagalan pilkada langsung melalui voting paripurna DPR tiga hari lalu mengundang polemik soal sikap Partai Demokrat dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Peneliti Senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menilai, sikap Demokrat yang seperti "banci" dengan mendesakkan pandangannya yang terangkum dalam 10 poin usulan sebagai syarat untuk menyatakan dukungannya pada pilkada langsung.
"Saat tiga fraksi pendukung opsi pilkada langsung menerima tawaran Demokrat, bukannya merasa semakin kuat di barisan pendukung tidak langsung, Demokrat malah memutuskan walkout," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Minggu (28/9/2014).
"Dengan demikian bisa dibaca sikap Demokrat yang tak punya sikap, ambigu, ragu-ragu, bahkan pengecut," sambungnya.
Menurutnya, penilaian di atas bukan tanpa dasar. Ia berpandangan, Demokrat seakan-akan mengejek forum paripurna dan seluruh rakyat yang menanti putusan sidang paripurna dengan sepenuh hati.
"Publik menonton dan fokus membelalakkan mata di depan TV demi menanti keputusan terbaik dari DPR terkait RUU Pilkada. Drama akhir ternyata tidak menarik," tandasnya.
Pasalnya, salah satu petarung menyatakan diri mundur dari gelanggang pertarungan memperjuangkan pilkada langsung atau tidak langsung.
"Petarung yang takut itu adalah Demokrat. Ini sangat memalukan," pungkasnya.
Peneliti Senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menilai, sikap Demokrat yang seperti "banci" dengan mendesakkan pandangannya yang terangkum dalam 10 poin usulan sebagai syarat untuk menyatakan dukungannya pada pilkada langsung.
"Saat tiga fraksi pendukung opsi pilkada langsung menerima tawaran Demokrat, bukannya merasa semakin kuat di barisan pendukung tidak langsung, Demokrat malah memutuskan walkout," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Minggu (28/9/2014).
"Dengan demikian bisa dibaca sikap Demokrat yang tak punya sikap, ambigu, ragu-ragu, bahkan pengecut," sambungnya.
Menurutnya, penilaian di atas bukan tanpa dasar. Ia berpandangan, Demokrat seakan-akan mengejek forum paripurna dan seluruh rakyat yang menanti putusan sidang paripurna dengan sepenuh hati.
"Publik menonton dan fokus membelalakkan mata di depan TV demi menanti keputusan terbaik dari DPR terkait RUU Pilkada. Drama akhir ternyata tidak menarik," tandasnya.
Pasalnya, salah satu petarung menyatakan diri mundur dari gelanggang pertarungan memperjuangkan pilkada langsung atau tidak langsung.
"Petarung yang takut itu adalah Demokrat. Ini sangat memalukan," pungkasnya.
(kri)