IPW Nilai Oknum Polisi Terlibat Narkoba Bukan Hal Baru
Senin, 01 September 2014 - 01:35 WIB
IPW Nilai Oknum Polisi Terlibat Narkoba Bukan Hal Baru
A
A
A
JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) menilai adanya oknum kepolisian yang bermain-main dengan narkoba bukanlah hal baru. Sebab setiap tahun Mabes Polri rata-rata memecat 200 anggotanya yang terlibat narkoba.
Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, para pimpinan Polri perlu makin memperketat dan mencermati bawahannya, terutama yang bersentuhan dengan tugas-tugas di bidang narkoba.
Kemudian pengawasan internal dari atas ke bawah harus diperkuat. Atasan harus peduli dengan semua dinamika yang ada di jajarannya. "Tindakan tegas harus dilakukan agar kasus serupa tidak terulang," katanya kepada SINDO, Minggu (31/8/2014).
Selain itu, lanjutnya, jika memang terjadi kasus ini membuktikan bangsa Indonesia semakin dipecundangi narkoba, sehingga aparatnya terlalu gampang diperbudak narkoba. Dia menilai, gurihnya uang dari hasil bisnis narkoba telah menutup akal sehat banyak orang, terutama oknum aparat.
Dari pantauan IPW, selama ini narkoba yang masuk ke wilayah tersebut sangat deras dan dalam jumlah besar. Hampir setiap minggu narkoba dari Malaysia masuk ke Indonesia melalui berbagai daerah perbatasan.
Menurutnya, perlu diselidiki apakah penangkapan kedua aparat Polda Kalbar itu oleh Polisi Malaysia saat hendak memasukkan narkoba ke dalam negeri atau tidak.
Jika keduanya terlibat memasukkan narkoba ke Indonesia berarti jaringan mafia narkoba Internasional sudah berhasil memperalat anggota kepolisian untuk memperlancar bisnisnya di wilayah Kalbar. Kondisi ini perlu dicermati Polri.
"Sebab bukan mustahil ada oknum polisi lain, baik di wilayah Kalbar ataupun wilayah lain yang sudah bermain mata dengan mafia internasional. Sehingga arus narkoba dari Malaysia yang masuk ke Indonesia kian deras," jelasnya.
Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, para pimpinan Polri perlu makin memperketat dan mencermati bawahannya, terutama yang bersentuhan dengan tugas-tugas di bidang narkoba.
Kemudian pengawasan internal dari atas ke bawah harus diperkuat. Atasan harus peduli dengan semua dinamika yang ada di jajarannya. "Tindakan tegas harus dilakukan agar kasus serupa tidak terulang," katanya kepada SINDO, Minggu (31/8/2014).
Selain itu, lanjutnya, jika memang terjadi kasus ini membuktikan bangsa Indonesia semakin dipecundangi narkoba, sehingga aparatnya terlalu gampang diperbudak narkoba. Dia menilai, gurihnya uang dari hasil bisnis narkoba telah menutup akal sehat banyak orang, terutama oknum aparat.
Dari pantauan IPW, selama ini narkoba yang masuk ke wilayah tersebut sangat deras dan dalam jumlah besar. Hampir setiap minggu narkoba dari Malaysia masuk ke Indonesia melalui berbagai daerah perbatasan.
Menurutnya, perlu diselidiki apakah penangkapan kedua aparat Polda Kalbar itu oleh Polisi Malaysia saat hendak memasukkan narkoba ke dalam negeri atau tidak.
Jika keduanya terlibat memasukkan narkoba ke Indonesia berarti jaringan mafia narkoba Internasional sudah berhasil memperalat anggota kepolisian untuk memperlancar bisnisnya di wilayah Kalbar. Kondisi ini perlu dicermati Polri.
"Sebab bukan mustahil ada oknum polisi lain, baik di wilayah Kalbar ataupun wilayah lain yang sudah bermain mata dengan mafia internasional. Sehingga arus narkoba dari Malaysia yang masuk ke Indonesia kian deras," jelasnya.
(kri)