Ekonomi di Era Jokowi Bakal Hadapi Tantangan Berat
Senin, 25 Agustus 2014 - 14:01 WIB
Ekonomi di Era Jokowi Bakal Hadapi Tantangan Berat
A
A
A
JAKARTA - Pemerintahan mendatang, di bawah Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dinilai akan menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan.
Hal demikian menurut Staf khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bidang ekonomi, yang juga pakar ekonomi, Firmanzah.
Selain dibayangi angka inflasi yang tinggi, kata Firmanzah, pemerintah juga perlu mewaspadai dan mengantisipasi normalisasi moneter dunia, dengan dinaikkannya suku bunga di Amerika Serikat yang direncanakan akan dilakukan tahun 2015, dan tentunya akan memiliki dampak bagi perekonomian nasional.
“Koordinasi dan bauran kebijakan baik di sektor fiskal, moneter dan riil perlu terus ditingkatkan sebagai manivestasi kedisipilinan serta kehati-hatian dalam pengelolaan kebijakan perekonomian nasional,” kata Firmanzah seperti dikutip dari situs resmi Sekretariat Kabinet, Senin (25/8/2014).
Oleh karena itu, menurut dia, Pemerintahan mendatang, Presiden terpilih Jokowi disarankan untuk memertahankan kebijakan ekonomi yang disiplin dan berhati-hati.
Hal ini, sambung dia, agar perekonomian nasional akan terus tumbuh kuat, berkualitas dan semakin bertenaga dalam mewujudkan pembangunan yang sedang berjalan.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu memaparkan, di tingkat global, saat ini ada kecenderungan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara di Eropa berada di bawah perkiraan Bank Sentral Eropa (ECB).
Bahkan, kata dia, secara rata-rata pertumbuhan PDB di kawasan Euro diperkirakan hanya mencapai 0.1 persen pada kuartal kedua, yang berati lebih rendah dari kuartal pertama sebesar 0,2 persen.
Ia menyebutkan, ekonomi Jerman berkontraksi 0.2 persen, Perancis melaporkan stagnasi pertumbuhan dengan ancaman defisit di atas 4 persen, sementara Italia kembali meneruskan tren kontraksi mengarah ke resesi yang telah dialami dalam beberapa kuartal terakhir.
Adapun di Eropa Timur khususnya Polandia, Ceko, dan Rumania juga menunjukkan perlambatan bahkan ekonomi Rumania dilaporkan berkontraksi 1 persen pada kuratal 2/2014.
Kondisi di atas juga diperburuk oleh situasi politik Zona Euro dengan perseteruan Rusia dan Ukraina yang menyebabkan potensi terhentinya bantuan Internasional ke kawasan ini.
Menurut Firmanzah, indeks kepercayaan konsumen di 18 negara yang tergabung dalam zona Euro juga mengalami pertumbuhan negatif yang semakin dalam.
“Pada bulan Agustus 2014, indeks kepercayaan konsumen terus merosot hingga minus 10 persen dari posisi Juli 2014 yang mencapai minus 8,4,” imbuhnya.
Karena itu, Firmanzah memahami jika Bank Sentral Eropa (ECB) pada Juli lalu mengumumkan, kawasan zona Euro kembali dibayang-bayangi risiko deflasi yang berpotensi menjerumuskan ekonomi kawasan tersebut.
Lebih lanjut Firmanzah mengatakan, Bank sentral Eropa (ECB) telah melaporkan inflasi yang sangat rendah bulan Juli lalu di level 0.4 persen, yang merupakan inflasi terlambat sejak tahun 2009.
Hal demikian menurut Staf khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bidang ekonomi, yang juga pakar ekonomi, Firmanzah.
Selain dibayangi angka inflasi yang tinggi, kata Firmanzah, pemerintah juga perlu mewaspadai dan mengantisipasi normalisasi moneter dunia, dengan dinaikkannya suku bunga di Amerika Serikat yang direncanakan akan dilakukan tahun 2015, dan tentunya akan memiliki dampak bagi perekonomian nasional.
“Koordinasi dan bauran kebijakan baik di sektor fiskal, moneter dan riil perlu terus ditingkatkan sebagai manivestasi kedisipilinan serta kehati-hatian dalam pengelolaan kebijakan perekonomian nasional,” kata Firmanzah seperti dikutip dari situs resmi Sekretariat Kabinet, Senin (25/8/2014).
Oleh karena itu, menurut dia, Pemerintahan mendatang, Presiden terpilih Jokowi disarankan untuk memertahankan kebijakan ekonomi yang disiplin dan berhati-hati.
Hal ini, sambung dia, agar perekonomian nasional akan terus tumbuh kuat, berkualitas dan semakin bertenaga dalam mewujudkan pembangunan yang sedang berjalan.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu memaparkan, di tingkat global, saat ini ada kecenderungan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara di Eropa berada di bawah perkiraan Bank Sentral Eropa (ECB).
Bahkan, kata dia, secara rata-rata pertumbuhan PDB di kawasan Euro diperkirakan hanya mencapai 0.1 persen pada kuartal kedua, yang berati lebih rendah dari kuartal pertama sebesar 0,2 persen.
Ia menyebutkan, ekonomi Jerman berkontraksi 0.2 persen, Perancis melaporkan stagnasi pertumbuhan dengan ancaman defisit di atas 4 persen, sementara Italia kembali meneruskan tren kontraksi mengarah ke resesi yang telah dialami dalam beberapa kuartal terakhir.
Adapun di Eropa Timur khususnya Polandia, Ceko, dan Rumania juga menunjukkan perlambatan bahkan ekonomi Rumania dilaporkan berkontraksi 1 persen pada kuratal 2/2014.
Kondisi di atas juga diperburuk oleh situasi politik Zona Euro dengan perseteruan Rusia dan Ukraina yang menyebabkan potensi terhentinya bantuan Internasional ke kawasan ini.
Menurut Firmanzah, indeks kepercayaan konsumen di 18 negara yang tergabung dalam zona Euro juga mengalami pertumbuhan negatif yang semakin dalam.
“Pada bulan Agustus 2014, indeks kepercayaan konsumen terus merosot hingga minus 10 persen dari posisi Juli 2014 yang mencapai minus 8,4,” imbuhnya.
Karena itu, Firmanzah memahami jika Bank Sentral Eropa (ECB) pada Juli lalu mengumumkan, kawasan zona Euro kembali dibayang-bayangi risiko deflasi yang berpotensi menjerumuskan ekonomi kawasan tersebut.
Lebih lanjut Firmanzah mengatakan, Bank sentral Eropa (ECB) telah melaporkan inflasi yang sangat rendah bulan Juli lalu di level 0.4 persen, yang merupakan inflasi terlambat sejak tahun 2009.
(maf)