Ormas dan OKP Deklarasi Tolak ISIS di Indonesia

Senin, 11 Agustus 2014 - 19:29 WIB
Ormas dan OKP Deklarasi...
Ormas dan OKP Deklarasi Tolak ISIS di Indonesia
A A A
BANTEN - Sedikitnya 17 elemen organisasi msyarakat (Ormas) dan organisasi kepemudaan (OKP) se-Provinsi Banten mendeklarasikan penolakan Islamic State of Iraq dan Syria (ISIS) di Indonesia.

Bersamaan dengan deklarasi itu mereka mengeluarkan pernyataan sikap bahwa kehadiran ISIS di Indonesia sebagai gerakan yang bertentangan dengan UUD 1945, prinsip kebhinnekaan, dan mengancam keberadaan NKRI.

Bahkan kelompok-kelompok yang ingin menyebarkan gerakan, ideologi, dan paham ISIS di Indonesia dinilai sebagai salah satu gerakan subversif (makar). Untuk menolak kehadiran gerakan radikal ini, organisasi kepemudaan se-Banten ini akan melakukan langkah-langkah taktis strategis.

Misalnya, melakukan sosialisasi tentang bahaya ideologi dan paham ISIS bagi keutuhan NKRI kepada seluruh anggota dan jaringannya. Kemudian, mensosialisasikan bahaya ideologi dan paham ISIS kepada para pemuda, pelajar, dan mahasiswa.

"Juga melakukan sosialisasi melalui pengajian-pengajian, majelis ta’lim, mesjid, dan paguyuban-paguyuban yang ada," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay, dalam acara deklarasi yang diikuti diskusi publik di Tangerang, Provinsi Banten, Senin (11/8/2014).

17 elemen yang hadir dalam acara itu adalah, Pemuda Muhammadiyah, IMM, IPM, Nasyiatul Aisyiah (NA), HMI, IPNU, IPPNU, GPI, FKPPI, Bahu Nasdem, BM PAN, WJI, Gerakan Pramuka Banten, PMII, Garda Nasdem, PII dan KNPI.

Sementara narasumber yang hadir dalam acara itu, selain Saleh Partaonan Daulay juga hadir Rektor Univesitas Muhammadiyah Tangerang A Badawi dan Dubes Indonesia Untuk Swiss (2009-2014) Joko Susilo.

Sementara itu, Dubes Indonesia Untuk Swiss Joko Susilo menilai, pemerintah terlalu over-reactive menyikapi kehadiran ISIS di Indonesia. Reaksi berlebihan itu bisa jadi membuat ISIS merasa diperhitungkan. Semestinya pemerintah tidak menindaklanjuti secara berlebihan, walau diakui bahwa ISIS itu lambat laun tetap membahayakan.

“Ibarat mengusir nyamuk, ya cukup ditampar saja. Jangan diusir dengan meriam. Begitu juga dengan ISIS, cukup aparat kepolisian dan intelejen yang bergerak. Presiden tidak perlu turun tangan,” tandas Joko pada kesempatan yang sama.
(kur)
Berita Terkait
Panglima Tertinggi Negara...
Panglima Tertinggi Negara Islam di Irak Jassim Al-Mazrouei Tewas Terbunuh
Terungkap, Pengantin...
Terungkap, Pengantin ISIS Shamima Begum Diselundupkan ke Suriah oleh Mata-mata Kanada
Rusia Pulangkan 145...
Rusia Pulangkan 145 Anak Militan ISIS dari Suriah dan Irak
Profil Abu al-Hassan...
Profil Abu al-Hassan al-Hashemi al-Quraishi, Pemimpin ISIS yang Meledakkan Dirinya Saat Dikepung
Profil Jassim Al Mazrouei...
Profil Jassim Al Mazrouei Jenderal Tertinggi ISIS yang Berhasil Dibunuh Tentara Irak
Mengapa ISIS Tidak Berani...
Mengapa ISIS Tidak Berani Menyerang Israel? Ini Penyebabnya
Berita Terkini
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Revisi UU Pemilu Belum...
Revisi UU Pemilu Belum Dibahas, Golkar Usul Prabowo Kumpulkan Ketum Parpol
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved