Jelang Pilpres, Pemilih Harus Lawan Intimidasi
Selasa, 08 Juli 2014 - 06:18 WIB
Jelang Pilpres, Pemilih Harus Lawan Intimidasi
A
A
A
JAKARTA - Pilpres 2014 menjadi kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menentukan nasib bangsa ke depan. Untuk itu, masyarakat didorong untuk tidak tunduk pada intimidasi dan teror.
Hal ini dikatakan Pengamat Politik yang juga Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Arie Sudjito, Senin (7/7/2014). "Beranilah ke bilik suara dan pilih sesuai hati nurani, sesuai apa kebenaran itu. Jangan pernah takut," imbau Arie.
"Kalau diintimidasi, negara kita negara hukum. Lawan itu, laporkan ke posko, ke Panwaslu, atau ke pihak yang nanti membantu kita. Bergandengan tanganlah rakyat melawan teror, percayalah itu bisa dihadapi kalau kita bersatu," kata Arie.
Pilpres 2014, menurutnya, adalah momentum untuk memilih pemimpin kredibel yang bisa mengubah pesimisme, yang bisa membawa Indonesia ke arah kemajuan. "Saya berharap masyarakat jangan menyia-nyiakan momentum pilpres ini. Jangan pragmatis ikut terlibat pemilu hanya karena duit. Tapi karena punya cita-cita dan punya harapan tadi. Jangan sia-siakan itu," kata Arie.
Menurut dia, masyarakat bebas memilih siapa saja dari dua pasangan calon yang ada untuk menjadi pemimpin perubahan itu. Dia mengatakan, bangsa Indonesia mempunyai problem kompleks dan tantangan besar, tapi punya harapan menjadi negara besar. Kunci menghadapi masalah itu adalah pemimpin yang mampu mengubah pesimisme jadi optimisme.
Hal ini dikatakan Pengamat Politik yang juga Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Arie Sudjito, Senin (7/7/2014). "Beranilah ke bilik suara dan pilih sesuai hati nurani, sesuai apa kebenaran itu. Jangan pernah takut," imbau Arie.
"Kalau diintimidasi, negara kita negara hukum. Lawan itu, laporkan ke posko, ke Panwaslu, atau ke pihak yang nanti membantu kita. Bergandengan tanganlah rakyat melawan teror, percayalah itu bisa dihadapi kalau kita bersatu," kata Arie.
Pilpres 2014, menurutnya, adalah momentum untuk memilih pemimpin kredibel yang bisa mengubah pesimisme, yang bisa membawa Indonesia ke arah kemajuan. "Saya berharap masyarakat jangan menyia-nyiakan momentum pilpres ini. Jangan pragmatis ikut terlibat pemilu hanya karena duit. Tapi karena punya cita-cita dan punya harapan tadi. Jangan sia-siakan itu," kata Arie.
Menurut dia, masyarakat bebas memilih siapa saja dari dua pasangan calon yang ada untuk menjadi pemimpin perubahan itu. Dia mengatakan, bangsa Indonesia mempunyai problem kompleks dan tantangan besar, tapi punya harapan menjadi negara besar. Kunci menghadapi masalah itu adalah pemimpin yang mampu mengubah pesimisme jadi optimisme.
(zik)