Pilpres, Perang Media Sosial Rusak Pertemanan

Sabtu, 05 Juli 2014 - 12:25 WIB
Pilpres, Perang Media...
Pilpres, Perang Media Sosial Rusak Pertemanan
A A A
JAKARTA - Jelang pemilu 2014, ajang kampanye ternyata mendorong tak sedikit orang mencabut perkawanannya dengan beberapa teman di media sosial. Beberapa merasa terganggu dengan pandangan politik kawannya yang bertentangan.

Sementara yang lain tak nyaman karena linimasanya dipenuhi hiruk-pikuk kampanye. Hal ini ditemukan Prapancha Research (PR) dari hasil pantauan terbarunya di jejaring sosial.

"Kami tidak memperoleh jumlah pasti unfriend. Namun ada
peningkatan perbincangan tentang unfriend yang signifikan jelang pemilu ini," ujar Peneliti PR Adi Ahdiat, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Sabtu (05/07/2014).

Peningkatan perbincangan ini diasumsikan menunjukkan adanya peningkatan jumlah pencabutan perkawanan. Dari pantauan antara 4 Juni-4 Juli 2014, PR menemukan perbincangan unfriend, unfollow, block, dan unshare seputar pemilu meningkat sampai sekitar 3.513 di Twitter dari yang sebelum pilpres tidak ada sama sekali.

Salah satunya adalah dari akun @imasnuriah. "Wadooow kacau baca twit pada saling hina gegara pemilu. Wajib unfollow yang bahasanya kasar."

Tren yang juga berkembang adalah unfollow atau unfriend sementara. Setelah pemilu, akun-akun berkenaan menyampaikan akan berkawan lagi dengan akun yang mereka blokir.

"Udah deket mau pemilu makin banyak aja yang kampanye hitam. Unfollow dulu aja deh ya, nanti abis pemilu baru di follow lagi,"
ungkap akun @hadi_siders.

Hal ini, kata Adi, juga menunjukkan bahwa kampanye di media sosial yang serampangan malah berpotensi kontraproduktif terhadap citra kandidat bersangkutan.

"Kita sering dengar kandidat yang bisa kuasai suara di media sosial akan kuasai suara riil. Tapi pandangan ini keliru. Sia-sia saja kalau linimasa orang-orang malah dijejali dengan kampanye serba melebih-lebihkan atau fitnah tak berdasar yang menimbulkan antipati," imbuh Adi.

Terlebih, Adi menambahkan, dengan perbedaan suara yang tipis serta swing voter yang tak sedikit, jauh lebih penting bagi masing-masing kandidat untuk meraih suara konstituen yang masih terombang-ambing alih-alih yang sudah punya kecenderungan kuat memilih kandidat tertentu.

Lanjut menurut Adi, penguasaan perbincangan di media sosial tak hanya mensyaratkan kuantitas namun juga kualitas. Pada saat tim bisa mengirimkan profil sang capres tanpa menjejali publik dengan informasi-informasi yang tak mereka butuhkan, informasi tersebut akan lebih efektif mempengaruhi preferensi publik. Penerimaan akan berlangsung sebelum disadari.

"Konten tertentu viral bukan kebetulan tetapi juga karena menghibur atau mengena. Artinya, konten itu relevan sehingga disebarkan bahkan pemilih yang netral," ungkap Adi.

Ke depan, Adi berharap agar politik semakin cerdas dalam berkomunikasi dengan para konstituennya.
(ysw)
Berita Terkait
Dosen Fisip Kalsel:...
Dosen Fisip Kalsel: Bahas Dana Alutsista 700 Triliun, Penampilan Anies Terkesan Cari Panggung
Sarat Indikasi Pelanggaran,...
Sarat Indikasi Pelanggaran, Aktivis Ciputat Kampanyekan Tagar Lawan Pemilu Curang
Gara-gara Covid-19,...
Gara-gara Covid-19, Pilpres Polandia Jadi 'Pilpres Hantu'
Jazz dan Pilpres
Jazz dan Pilpres
Gagahnya Ganjar-Mahfud...
Gagahnya Ganjar-Mahfud Kompak Pakai Jaket Bomber ala Pilot Top Gun
Potret Tiga Capres Ikuti...
Potret Tiga Capres Ikuti Debat Ketiga Pilpres 2024
Berita Terkini
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Pengadilan Tinggi Singapura...
Pengadilan Tinggi Singapura Tolak Gugatan Paulus Tanos, Menkum Koordinasi KPK dan Polri
Eks Wakil Kepala BGN...
Eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Masih Syok setelah Jadi Tersangka Korupsi
Bahas RUU Polri, Habiburokhman...
Bahas RUU Polri, Habiburokhman Soroti Polisi Aktif di Ormas
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved