Korbannya adalah bocah

Rabu, 07 Mei 2014 - 06:31 WIB
Korbannya adalah bocah
Korbannya adalah bocah
A A A
DALAM beberapa pekan ini, kita semua disuguhi peristiwa yang menjadikan anak-anak atau bocah menjadi korban. Sungguh miris, bahwa peristiwa demi peristiwa menempatkan para bocah menjadi korban. Pertama adalah kasus seksual di sekolah internasional Jakarta International School (JIS).

Beberapa anak taman kanak-kanak menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh petugas cleaning service. Berikutnya adalah kasus Emon dari Sukabumi. Puluhan bahkan banyak yang memperkirakan korban mencapai ratusan. Lagi-lagi yang menjadi korban Emon adalah anak-anak.

Sedangkan di Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), kasus seksual mirip kasus di JIS juga terjadi. Siswa SD Charitas Batam menjadi korban kekerasan seksual oleh petugas kebersihan sekolah. Dan yang terakhir adalah Renggo Khadafi, yang tewas setelah dipukuli kakak kelasnya yang juga masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Belum lagi kekerasan yang justru dilakukan oleh orang terdekat di keluarga terhadap anak. Anak-anak memang rentan menjadi korban karena posisinya, baik secara fisik maupun nonfisik lebih inferior dibandingkan orang yang lebih dewasa. Kasarnya, anak-anak lebih berpeluang menjadi objek penderita karena memang posisinya yang sulit untuk melakukan perlawanan.

Dalam beberapa kasus di atas, anak-anak yang menjadi korban seolah hanya bisa pasrah terhadap tindakan kekerasan maupun pelecehan seksual. Pertanyaannya siapa yang bisa melindungi anak-anak agar tidak menjadi korban? Tentu yang utama menjadi pelindung anak-anak adalah orang terdekatnya.

Orang tua, saudara, ataupun guru mereka di sekolah adalah garda paling depan untuk melindungi anak-anak menjadi korban. orang-orang terdekat menjadi pelindung utama, karena anak-anak tidak akan lepas dari lingkungan sosial.

Mencegah anak-anak untuk tidak berinteraksi dengan lingkungan sosial bukan sebuah tindakan yang tepat juga karena anak-anak bertumbuh kembang di lingkungan sosial. Akan sulit mendidik anak-anak dengan cara mengarantina mereka di rumah dan sekolah saja. Pengawasan terhadap anak-anak oleh orang-orang terdekat menjadi penting karena berinteraksi dengan lingkungan sosial tak bisa dihindarkan.

Orang tua maupun guru harus pintar-pintar memberikan pengawasan secara teliti agar anak-anak yang melakukan interaksi sosial terhindar dari tindak kekerasan. Bak mengikat anak-anak dengan tali namun tidak menariknya secara kuat.

Tali terkadang harus dikendurkan dan bisa ditarik kencang sesuai kebutuhan pengawasan. Terlalu kencang menarik berarti terlalu menjauhkan anak-anak dari lingkungan sosial. Tetapi terlalu mengendurkan tali juga, berarti sekadar memasrahkan anak-anak kita dibentuk hanya oleh lingkungan sosial.

Pengawasan penting yang dilakukan oleh orang tua dan guru adalah bentuk komunikasi dua arah. Meluangkan waktu beberapa saat untuk melakukan komunikasi intens dengan anak-anak menjadi modal penting untuk pengawasan. Bahkan jika perlu, anakanak dilibatkan dalam keputusan-keputusan kecil dalam keluarga.

Dengan sedikit melibatkan anak-anak dalam persoalan keluarga, seolah menjadikan anak-anak seperti sosok yang dibutuhkan dalam keluarga. ”Mengorangkan” anak-anak menjadi penting agar mereka juga sesuatu yang dilakukan di rumah. Hal yang sepele untuk pengambilan keputusan ketika mengajak anak-anak jalan ke luar rumah, akan lebih baik jika anak-anak juga dimintai pendapat.

Dan masih banyak hal kecil yang bisa dilakukan. Namun, saat ini banyak yang terjadi justru orang tua sibuk dengan kegiatannya sendiri dan sekadar memberikan kebutuhan jasmani kepada anak-anak. Akibatnya, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan luar tanpa kendali orang tua.

Anak-anak justru merasa bahagia keluar dari lingkungan rumah atau lebih banyak menghabiskan waktunya bermain di lingkungan luar. Akibatnya pengawasan menjadi lemah, sedangkan di sisi lain anakanak masih belum mampu melindungi diri mereka secara baik.
(nfl)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Pakar Hukum Tegaskan...
Pakar Hukum Tegaskan Karya Jurnalistik Tak Bisa Dijadikan Barang Bukti Persidangan Dokter Tifa
Di Rakernas APEKSI,...
Di Rakernas APEKSI, Menko AHY: Wali Kota Adalah Duta Terbaik untuk Tarik Investasi dan Layani Rakyat Perkotaan
KPK Tahan Tersangka...
KPK Tahan Tersangka Kasus Suap Audit BPK di Muara Enim
1 Abad Kelahiran Rahmi...
1 Abad Kelahiran Rahmi Hatta Momen Refleksi Nilai Keteladanan bagi Generasi Muda
Menhut Raja Juli Bakal...
Menhut Raja Juli Bakal Kooperatif soal Pengusutan Kasus Bupati Kuansing
Presiden Lukashenko...
Presiden Lukashenko Sebut Indonesia Mitra Penting Belarus di Asia Tenggara
Infografis
AS Mengakui Perang Ukraina...
AS Mengakui Perang Ukraina Adalah Perang Proksi AS dengan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved