Masyarakat harus hilangkan diskriminasi kusta
Minggu, 30 Maret 2014 - 13:14 WIB
Masyarakat harus hilangkan diskriminasi kusta
A
A
A
Sindonews.com - Diskriminasi kepada penderita kusta masih sangat terlihat di tengah masyarakat. Hal itu juga ditandai dengan minimnya akses dan informasi terkait penyakit kusta.
Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengatakan, tantangan yang dihadapi ialah tingginya stigma dan diksriminasi terhadap pengidap kusta. Saat ini, beban penyakit kusta yang dihadapi tidak hanya pada tingginya angka penderita. Namun, besarnya kecacatan yang diakibatkan.
"Mereka yang sudah cacat akan sangat bergantung pada fisik dan finansial kepada orang lain yang akhirnya berdampak pada kemiskinan," tandasnya saat ditemui di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu (30/03/2014)
Menurut Nafsiah, kusta merupakan penyakit menular yang sulit terdeteksi penularannya. Hal ini dikarenakan masa inkubasi yang terbilang lama yaitu 2-5 tahun untuk dapat terserang kusta.
Dari pengamatan 100 orang yang terpapar virus kusta, 95 orang kebal, tiga orang sembuh dengan sendiri dan dua orang lainnya membutuhkan pengobatan. "Ini penyakit penyumbang kasus baru. Kusta nomor tiga terbesar di dunia," katanya.
Dari data yang dimiliki pada 2013 dilaporkan terdapat 18.994 kasus kusta baru di Indonesia dan 2.131 penderita atau 11,2 persen. Diantara mereka sudah ditemukan dengan kecatatan tingkat dua, yaitu kecacatan penglihatan dan 2.191 penderita sebanyak 11,5 persen diantaranya adalah anak-anak.
Faktor utama timbulnya kusta seperti timbulnya bercak putih dan mati rasa. Jika sudah ada tanda seperti itu maka harus cepat diperiksa ke puskesmas. Ia mengklaim, saat ini Puskesmas sudah cukup handal untuk mengobati pasien kusta.
"Pengobatan tidak tersentral di beberapa RS saja. Pemeriksaan bukan hanya si penderita tapi kontak dengan sekitar," ujarnya.
Perumahan yang kumuh, terlalu berjejal dan lingkungan yang tidak sehat menjadi faktor utama. Untuk itu perumahan-perumahan kumuh tersebut harus diganti dengan rumah dan lingkungan yang sehat.
Perwakilan World Health Organization (WHO) untuk Indonesia, Khancit Limpakarnjanarat mengatakan, sebanyak 16 juta penduduk di dunia yang menderita kusta berhasil disembuhkan. Ia menegaskan, kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan.
Menurut dia, setiap dua menit terdapat satu kasus kusta baru. Dari 100 kasus baru tujuh diantaranya diderita anak-anak. "Tetapi sampai saat ini penderita kusta masih mengalami diskriminasi. Maka Indonesia harus dapat bebas penyakit kusta," kata dia.
Penyebaran informasi yang tepat menjadi kunci pemahaman masyarakat, sehingga masyarakat yang mengetahui tanda-tanda kusta dapat di diagnosa dan diobati. Hal ini bukan hanya dapat dilakukan oleh petugas kesehatan tetapi juga dengan kegiatan masyarakat.
"Obat kusta sudah gratis dan tersedia di fasilitas kesehatan layanan primer. Mereka yang sudah terkena harus sembuh agar mendapat kehidupan lebih baik di tengah masyarakat lain," tegasnya.
Baca berita:
Masyarakat harus tanggap dengan penyakit tuberkulosis
Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengatakan, tantangan yang dihadapi ialah tingginya stigma dan diksriminasi terhadap pengidap kusta. Saat ini, beban penyakit kusta yang dihadapi tidak hanya pada tingginya angka penderita. Namun, besarnya kecacatan yang diakibatkan.
"Mereka yang sudah cacat akan sangat bergantung pada fisik dan finansial kepada orang lain yang akhirnya berdampak pada kemiskinan," tandasnya saat ditemui di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu (30/03/2014)
Menurut Nafsiah, kusta merupakan penyakit menular yang sulit terdeteksi penularannya. Hal ini dikarenakan masa inkubasi yang terbilang lama yaitu 2-5 tahun untuk dapat terserang kusta.
Dari pengamatan 100 orang yang terpapar virus kusta, 95 orang kebal, tiga orang sembuh dengan sendiri dan dua orang lainnya membutuhkan pengobatan. "Ini penyakit penyumbang kasus baru. Kusta nomor tiga terbesar di dunia," katanya.
Dari data yang dimiliki pada 2013 dilaporkan terdapat 18.994 kasus kusta baru di Indonesia dan 2.131 penderita atau 11,2 persen. Diantara mereka sudah ditemukan dengan kecatatan tingkat dua, yaitu kecacatan penglihatan dan 2.191 penderita sebanyak 11,5 persen diantaranya adalah anak-anak.
Faktor utama timbulnya kusta seperti timbulnya bercak putih dan mati rasa. Jika sudah ada tanda seperti itu maka harus cepat diperiksa ke puskesmas. Ia mengklaim, saat ini Puskesmas sudah cukup handal untuk mengobati pasien kusta.
"Pengobatan tidak tersentral di beberapa RS saja. Pemeriksaan bukan hanya si penderita tapi kontak dengan sekitar," ujarnya.
Perumahan yang kumuh, terlalu berjejal dan lingkungan yang tidak sehat menjadi faktor utama. Untuk itu perumahan-perumahan kumuh tersebut harus diganti dengan rumah dan lingkungan yang sehat.
Perwakilan World Health Organization (WHO) untuk Indonesia, Khancit Limpakarnjanarat mengatakan, sebanyak 16 juta penduduk di dunia yang menderita kusta berhasil disembuhkan. Ia menegaskan, kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan.
Menurut dia, setiap dua menit terdapat satu kasus kusta baru. Dari 100 kasus baru tujuh diantaranya diderita anak-anak. "Tetapi sampai saat ini penderita kusta masih mengalami diskriminasi. Maka Indonesia harus dapat bebas penyakit kusta," kata dia.
Penyebaran informasi yang tepat menjadi kunci pemahaman masyarakat, sehingga masyarakat yang mengetahui tanda-tanda kusta dapat di diagnosa dan diobati. Hal ini bukan hanya dapat dilakukan oleh petugas kesehatan tetapi juga dengan kegiatan masyarakat.
"Obat kusta sudah gratis dan tersedia di fasilitas kesehatan layanan primer. Mereka yang sudah terkena harus sembuh agar mendapat kehidupan lebih baik di tengah masyarakat lain," tegasnya.
Baca berita:
Masyarakat harus tanggap dengan penyakit tuberkulosis
(kri)