Suara pemilih muda potensial
Kamis, 27 Maret 2014 - 01:50 WIB
Suara pemilih muda potensial
A
A
A
Sindonews.com - Pemilih muda menjadi kelompok pemilih yang potensial pada pemilihan umum (pemilu) 2014 mendatang. Karena selain jumlahnya cukup besar, pemilih muda berkarakter cerdas, kritis dan idealis.
Pelaksana Tugas (plt) Ketua DPRD Jawa Tengah, Rukma Setyabudi, mengatakan memang tidak mudah untuk menarik minat mereka, tak terkecuali untuk partai politik dalam hal ini adalah calon pemimpin bahkan membuat pemilih muda tidak apatis dalam pemilu.
"Suara pemilih muda ini sangat penting. Karakter mereka seperti itu, tentu kontestan pemilu harus pintar - pintar menarik simpati. Tentu tidak hanya janji - janji, harus visi dan misi yang cerdas dan tegas," katanya, kemarin.
Para pemilih muda, kata dia, merupakan calon - calon pemimpin bangsa Indonesia. Dengan total jumlah 53 juta pemilih muda saat pemilu mendatang, suara mereka tentu sangat signifikan.
"Jika sampai mereka tidak memilih, itu awal keterpurukan bangsa kita," lanjutnya.
Rukma membeberkan, berdasarkan informasi yang diterimanya termasuk dari beberapa survei, menyebut ada sekira 67 persen pemilh muda ini belum tahu kapan Pemilu akan dilaksanakan.
Tak hanya itu ada sekira 76 persen bahkan tidak tahu berapa jumlah kontestan pemilu nanti. "Sosialisasi ke sekolah - sekolah tentu sangat penting dilakukan. Karena selain informasi seputar pemilu bisa didapat, juga tak terkecuali bagi yang usianya belum bisa ikut. Ini untuk pendidikan
politik sejak dini," bebernya.
Terpisah, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro Semarang, Marten Hanura, mengatakan pihaknya juga aktif melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pendidikan politik bagi pemilih muda. Baik kalangan pelajar SMA maupun mahasiswa.
"Memberikan pendidikan kepada pemilih muda diharapkan bisa menjadikan mereka sebagai pemilih cerdas dan generasi yang tidak mudah terbeli," katanya.
Berbagai kegiatan yang dilakukan, kata Marten, mengupas mengenai demokrasi, politik, partai politik termasuk pemilu.
Pelaksana Tugas (plt) Ketua DPRD Jawa Tengah, Rukma Setyabudi, mengatakan memang tidak mudah untuk menarik minat mereka, tak terkecuali untuk partai politik dalam hal ini adalah calon pemimpin bahkan membuat pemilih muda tidak apatis dalam pemilu.
"Suara pemilih muda ini sangat penting. Karakter mereka seperti itu, tentu kontestan pemilu harus pintar - pintar menarik simpati. Tentu tidak hanya janji - janji, harus visi dan misi yang cerdas dan tegas," katanya, kemarin.
Para pemilih muda, kata dia, merupakan calon - calon pemimpin bangsa Indonesia. Dengan total jumlah 53 juta pemilih muda saat pemilu mendatang, suara mereka tentu sangat signifikan.
"Jika sampai mereka tidak memilih, itu awal keterpurukan bangsa kita," lanjutnya.
Rukma membeberkan, berdasarkan informasi yang diterimanya termasuk dari beberapa survei, menyebut ada sekira 67 persen pemilh muda ini belum tahu kapan Pemilu akan dilaksanakan.
Tak hanya itu ada sekira 76 persen bahkan tidak tahu berapa jumlah kontestan pemilu nanti. "Sosialisasi ke sekolah - sekolah tentu sangat penting dilakukan. Karena selain informasi seputar pemilu bisa didapat, juga tak terkecuali bagi yang usianya belum bisa ikut. Ini untuk pendidikan
politik sejak dini," bebernya.
Terpisah, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro Semarang, Marten Hanura, mengatakan pihaknya juga aktif melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pendidikan politik bagi pemilih muda. Baik kalangan pelajar SMA maupun mahasiswa.
"Memberikan pendidikan kepada pemilih muda diharapkan bisa menjadikan mereka sebagai pemilih cerdas dan generasi yang tidak mudah terbeli," katanya.
Berbagai kegiatan yang dilakukan, kata Marten, mengupas mengenai demokrasi, politik, partai politik termasuk pemilu.
(lns)