Demokrasi di era internet

Rabu, 19 Maret 2014 - 17:32 WIB
Demokrasi di era internet
Demokrasi di era internet
A A A
PERKEMBANGAN teknologi informasi saat ini semakin pesat menerjang batasan-batasan geografis. Pada tahun 1960-an, seorang pemikir, Marshall McLuhan memperkenalkan “Global Village”. Konsep ini ditulis dalam bukunya yang berjudul Understanding Media: Extension of A Man. Ternyata prediksi Marshall McLuhan bahwa suatu saat nanti informasi akan sangat terbuka dan dapat diakses oleh semua orang menjadi kenyataan.

Kemudian, apakah ada relevansinya perkembangan teknologi (internet) dengan sistem demokrasi di Indonesia? Tentu ada, salah satu penggunaan internet juga merambah ke domain politik, baik dilakukan kandidat atau partai politik yang tengah bersosialisasi maupun masyarakat untuk mengakses berita-berita politik.

Bukan rahasia lagi, bahwa semua kandidat dan partai politik untuk menjaring konstituen pada Pemilu 2014 menggunakan strategi komunikasi politik melalui internet. Apalagi sejak web 1.0 bertransformasi menjadi web 2.0 semakin menambah intensitas karena internet mampu menyediakan ruang publik yang bersifat partisipatoris. Pengembangan dan evolusi komunitas berbasis web dan hosting, seperti Facebook, Twitter, Wiki, video sharing, blog dan beragam situs lainnya mampu menjadi perekat sosial antara partai politik dan khalayak. Sehingga hubungan keduanya mennjadi lebih komunikatif.

Dari sanalah, era internet bermetamorfis menjadi cyberdemokrasi. Sistem demokrasi yang dibangun melalui kehadiran internet. Sudah dibuktikan munculnya berbagai kasus sosial maupun politik melibatkan kehadiran internet (social media) seperti gerakan facebooker untuk dukungan kepada Prita Mulyasari, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah sampai kampanye politik berbasis social media yang dilakukan partai politik dan kandidat untuk memenangkan Pemilu 2014.

Jejaring sosial pada Pemilu 2014

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Ada beberapa pendekatan yang perlu dilakukan untuk menjaring pemilih pada Pemilu 2014. Pertama, kandidat dan partai politik harus intensif menggunakan jejaring sosial secara konsisten. Artinya khalayak tidak hanya dijadikan obyek tapi juga disentuh sesuai dengan kebutuhan dan keperluannya. Kedua, membangun jejaring sosial berbasis komunitas dengan konstituennya. Komunitas ini menjadi ruang organisasi kelompok yang sangat intensif untuk berbagai keperluan pada Pemilu 2014.

ketiga, sosialisai yang terbangun dari jejaring sosial perlu disikapi dan ditindaklanjuti secara nyata melalui pertemuan dan pelatihan. Sehingga terjalin komunikasi interpersonal antara kandidat dan konstituennya. Keempat, interaksi dengan konstituen dilakukan secara kontinuitas dan konsisten, sehingga hubungan mereka tidak hanya sekedar menjelang pemilu.

Dengan demikian, di era internet para kandidat dan partai politik harus cerdas dalam melakukan strategi komunikasi politik. Mari kita gunakan internet menjadi ruang publik (public sphere) yang mencerahkan sebegai bentuk penguatan literasi politik warga.

M ROSYID
Peneliti The Political Literacy Institute
(hyk)
Berita Terkait
Ketahuan Nyoblos 2 Kali...
Ketahuan Nyoblos 2 Kali dalam Pilkada, Penjual Tempe di Jembrana Bali Diperiksa
Rano Karno Bersama Keluarga...
Rano Karno Bersama Keluarga Nyoblos di TPS 65 Cilandak Jaksel
Ditanya Nyoblos Siapa,...
Ditanya Nyoblos Siapa, Prabowo Subianto: Rahasia
Angela Tanoesoedibjo...
Angela Tanoesoedibjo Turut Nyoblos di TPS Menteng
KPU Tangsel: Jangan...
KPU Tangsel: Jangan Lupa Besok Nyoblos Ya
Megawati Nyoblos Pilkada...
Megawati Nyoblos Pilkada Jakarta di Kebagusan Jaksel
Berita Terkini
Minta Dasco hingga Prabowo...
Minta Dasco hingga Prabowo Beri Atensi Kasus Ijazah Palsu, Ade Darmawan: Jokowi Telah Didiskriminasi
Jumhur Bertemu Co-Chair...
Jumhur Bertemu Co-Chair IAPB, Dukung Indonesia Kembangkan Biodiversity Credit
Pengacara: Penangkapan...
Pengacara: Penangkapan Roy Suryo-Tifa seperti Penculikan para Jenderal di Film
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Kami Sudah Siapkan Bukti-bukti Kuat di Sidang Kasus Ijazah Jokowi
Jokowi Bakal Hadir di...
Jokowi Bakal Hadir di Sidang Roy Suryo-Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Kalau 100% Terlalu Dini
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved