Iklan politik PDIP gambaran kondisi bangsa saat ini
Kamis, 13 Maret 2014 - 17:20 WIB
Iklan politik PDIP gambaran kondisi bangsa saat ini
A
A
A
Sindonews.com - Iklan politik yang disajikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) jelang Pemilu 2014 dinilai cukup kreatif.
Iklan berdurasi sekira 60 detik itu digambarkan bahwa bahan pokok yang dikonsumsi masyarakat Indonesia sebagian besar didatangkan dari luar negeri.
Misalnya, jagung dari India, beras dari Vietnam, dan bahan pokok lainnya. Termasuk daging yang juga diimpor dari negara tetangga. Hal ini dinilai mencerminkan kondisi bangsa Indonesia sekarang.
"PDIP kan mengacu pada Bung Karno. Jadi sebenarnya itu memang sudah selaras dengan kondisi negeri ini. Iklan itu cerminan dari kondisi bangsa," ujar pengamat periklanan Iman Brotoseno kepada wartawan, Jakarta, Kamis (13/3/2014).
Menurutnya, kondisi bangsa saat ini sangat bertolak belakang dengan keinginan para pendiri bangsa seperti Soekarno. Para tokoh yang disebut Bapak Bangsa itu menginginkan Indonesia menjadi negara dengan kedaulatan pangan dan tidak ada intervensi dari negara luar.
"Sebenarnya masih banyak yang impor. Tapi perlu disikapi ini bagian dari kedaulatan pangan yang harus dijalankan," tukasnya.
Iklan berdurasi sekira 60 detik itu digambarkan bahwa bahan pokok yang dikonsumsi masyarakat Indonesia sebagian besar didatangkan dari luar negeri.
Misalnya, jagung dari India, beras dari Vietnam, dan bahan pokok lainnya. Termasuk daging yang juga diimpor dari negara tetangga. Hal ini dinilai mencerminkan kondisi bangsa Indonesia sekarang.
"PDIP kan mengacu pada Bung Karno. Jadi sebenarnya itu memang sudah selaras dengan kondisi negeri ini. Iklan itu cerminan dari kondisi bangsa," ujar pengamat periklanan Iman Brotoseno kepada wartawan, Jakarta, Kamis (13/3/2014).
Menurutnya, kondisi bangsa saat ini sangat bertolak belakang dengan keinginan para pendiri bangsa seperti Soekarno. Para tokoh yang disebut Bapak Bangsa itu menginginkan Indonesia menjadi negara dengan kedaulatan pangan dan tidak ada intervensi dari negara luar.
"Sebenarnya masih banyak yang impor. Tapi perlu disikapi ini bagian dari kedaulatan pangan yang harus dijalankan," tukasnya.
(kur)