Caleg Hanura rela tunggangi kuda sapa warga terpencil
Senin, 03 Maret 2014 - 22:10 WIB
Caleg Hanura rela tunggangi kuda sapa warga terpencil
A
A
A
Sindonews.com - Beragam cara dilakukan calon anggota legislatif (caleg) untuk meraih simpati dan dekat dengan konstituennya. Namun boleh jadi, cara yang dilakukan oleh Saleh Husin, Caleg DPR-RI untuk daerah pemilihan (Dapil) NTT II, dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menjadi sesuatu yang langka dilakukan.
Saleh Husin yang hingga kini masih menjabat sebagai anggota DPR-RI Komisi V juga menjabat sebagai sekretaris Fraksi dan Ketua DPP Hanura itu rela menunggangi kuda khas Sumba yang dikenal sebagai Kuda Sandelwood untuk bisa menyapa konstituen di desa terpencil.
Menunggang kuda bukan untuk gaya-gayaan. Namun, karena kondisi medan jalan yang sulit ditembus oleh kendaraan roda empat, menjadi kesan tersendiri baginya.
"Saya pernah naik kuda, namun menyusuri padang sabana seperti ini baru kali pertama saya lakukan. Dengan ini, saya bisa meresapi kondisi dan keluhan warga terkait keterbatasan yang menjadi menu harian warga," jelasnya kala dimintai pendapatnya dalam perjalanan pergi dan pulang ke desa Mbatapuhu, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Senin (3/3/2014).
Tak heran jika kedatangannya disambut suka cita warga. Para tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat bahkan menyambut secara adat.
"Ini sejarah bagi kami, jangankan anggota DPR-RI, anggota DPRD dan pejabat daerah saja hampir tidak pernah ke sini. Maklum, daerah kami ini terkategori tertinggal juga kami sudah jenuh dengan aneka janji muluk, poster dan baliho yang justru kami tak pernah lihat langsung orangnya," tandas Ama Nai Nita salah seorang warga yang dimintai pendapatnya.
Dalam kesempatan itu, Saleh Husin juga menegaskan komitmen Partai Hanura bagi pemerataan pembagunan. Bahwa, Hanura akan terus memperjuangkan pemerataan pembangunan daerah tertinggal. Seperti halnya Desa Mbatapuhu ini, sejatinya bagian tak terpisahkan dari NKRI.
"Namun sayang, kesannya terabaikan, padahal warga di sini sangat mencintai bangsanya dan merindukan rasa peduli para petinggi dan penyelenggara negara. Kita butuh pimpinan dan wakil rakyat yang punya kepekaan hati dan kepedulian nurani," tegas Saleh Husein yang sontak disambut pekikan "hidup Hanura, hidup Win-HT".
Sekira seribu warga yang hadir kala itu, terlihat sangat antusias dengan kehadiran Saleh Husin. Dalam sambutannya di hadapan warga Desa Mbatapuhu, ia berkali-kali disambut pekikan khas ibu-ibu yang lazim disebut dengan istilah kakalaku.
Saleh Husin yang hingga kini masih menjabat sebagai anggota DPR-RI Komisi V juga menjabat sebagai sekretaris Fraksi dan Ketua DPP Hanura itu rela menunggangi kuda khas Sumba yang dikenal sebagai Kuda Sandelwood untuk bisa menyapa konstituen di desa terpencil.
Menunggang kuda bukan untuk gaya-gayaan. Namun, karena kondisi medan jalan yang sulit ditembus oleh kendaraan roda empat, menjadi kesan tersendiri baginya.
"Saya pernah naik kuda, namun menyusuri padang sabana seperti ini baru kali pertama saya lakukan. Dengan ini, saya bisa meresapi kondisi dan keluhan warga terkait keterbatasan yang menjadi menu harian warga," jelasnya kala dimintai pendapatnya dalam perjalanan pergi dan pulang ke desa Mbatapuhu, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Senin (3/3/2014).
Tak heran jika kedatangannya disambut suka cita warga. Para tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat bahkan menyambut secara adat.
"Ini sejarah bagi kami, jangankan anggota DPR-RI, anggota DPRD dan pejabat daerah saja hampir tidak pernah ke sini. Maklum, daerah kami ini terkategori tertinggal juga kami sudah jenuh dengan aneka janji muluk, poster dan baliho yang justru kami tak pernah lihat langsung orangnya," tandas Ama Nai Nita salah seorang warga yang dimintai pendapatnya.
Dalam kesempatan itu, Saleh Husin juga menegaskan komitmen Partai Hanura bagi pemerataan pembagunan. Bahwa, Hanura akan terus memperjuangkan pemerataan pembangunan daerah tertinggal. Seperti halnya Desa Mbatapuhu ini, sejatinya bagian tak terpisahkan dari NKRI.
"Namun sayang, kesannya terabaikan, padahal warga di sini sangat mencintai bangsanya dan merindukan rasa peduli para petinggi dan penyelenggara negara. Kita butuh pimpinan dan wakil rakyat yang punya kepekaan hati dan kepedulian nurani," tegas Saleh Husein yang sontak disambut pekikan "hidup Hanura, hidup Win-HT".
Sekira seribu warga yang hadir kala itu, terlihat sangat antusias dengan kehadiran Saleh Husin. Dalam sambutannya di hadapan warga Desa Mbatapuhu, ia berkali-kali disambut pekikan khas ibu-ibu yang lazim disebut dengan istilah kakalaku.
(kri)