Dokter belum terbiasa dengan JKN

Senin, 27 Januari 2014 - 16:31 WIB
Dokter belum terbiasa...
Dokter belum terbiasa dengan JKN
A A A
Sindonews.com - Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) merupakan cara mendidik masyarakat menjadi lebih baik dalam memilih pelayanan kesehatan.

Hal itu dikatakan qnggota Seksi Diklat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, Tammy Siarif. Menurutnya, banyak masyarakat selama ini langsung pergi ke rumah sakit untuk berobat, tidak ke puskesmas atau klinik.

Selain itu merupakan era bagi dokter bertindak profesional. Karena itu diperlukan organisasi profesi untuk membenahi sistem ini. "JKN buat seorang dokter itu kan suatu barang baru," kata Tammy kepada wartawan, di Depok, Jawa Barat, Senin (27/1/2014).

"Sehingga tak aneh kalau terjadi ada perbedaan persepsi, masing-masing persepsi berbeda, kita harus akui dokter itu paling malas belajar di luar kedokterannya. Begitu aturan ini diterapkan, para dokter terkaget-kaget, seharusnya mempelajari," imbuhnya.

Tammy meyakini, setiap sistem yang baru pasti terdapat masalah, bahkan di luar negeri, perubahan sampai 100 tahun. Namun ia yakin, target pemerintah dalam penerapan BPJS ini secara optimal akan sampai di 2019.

"Banyak yang mengeluh soal tarif atau kapitasi, misalnya setiap klinik dibayar Rp10 ribu, banyak yang mengeluh dapat apa, yang namanya kapitasi, bukan berarti, dibayar 10 ribu tidak. Arealnya berapa misalnya, satu dokter akan melayani tiga ribu pasien, berarti Rp30 juta akan didapat, 20 persen saja masih punya sisa," tegasnya.

Dalam era JKN ini, kata Tammy, seorang dokter tak hanya melakukan terapi, tetapi memberikan penyuluhan hidup sehat dan benar. Bagaimana mampu mengubah persepsi masyarakat.

"Banyak masyarakat bilang, saya punya spesialis, maka saya mau ke RS (rumah sakit) saja. Namun sekarang semua masyarakat harus ikut ke dalam BPJS. Idealnya ini akan rapi dalam lima tahun. Wajarlah, orang pengantin baru saja satu hari bisa ribut," tukasnya.

Ketakutan dan perbedaan persepsi tentang BPJS yang belum dipahami masyarakat ini yang perlu disosialisasikan. "Rumah sakit pemerintah kan beda. SDM (Sumber Daya Manusia) dibayar oleh pemerintah. Nah kalau rumah sakit swasta cari sendiri, kalau berjalan sesuai clinical pathway pasti berhasil," tegasnya.

IDI minta dokter BPJS dapat insentif tetap
(maf)
Berita Terkait
Saleh Husin: Kerukunan...
Saleh Husin: Kerukunan Warga Dapat dan Olahraga juga Dapat
Buka Cabang di GDC,...
Buka Cabang di GDC, Satu Dental Ingin Kesehatan Gigi Masyarakat Terjaga
Kondisi Kesehatan Dinilai...
Kondisi Kesehatan Dinilai Sangat Mempengaruhi Kualitas Fokus Otak
Fenomena Bocah Disunat...
Fenomena Bocah Disunat Jin, Begini Penjelasan Ketua IDI Tangsel
Menjaga Kesehatan Masyarakat...
Menjaga Kesehatan Masyarakat Indonesia
Pentingnya Upaya Peningkatan...
Pentingnya Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat
Berita Terkini
Dharma Pongrekun Minta...
Dharma Pongrekun Minta MK Kaji Ulang UU Kesehatan Demi Jaga Kedaulatan Bangsa
Selain Penjara 4,5 Tahun,...
Selain Penjara 4,5 Tahun, Eks Wamenaker Noel Diminta Bayar Uang Pengganti Rp3,4 Miliar
Ribuan Pekerja Rokok...
Ribuan Pekerja Rokok Tembakau Tolak Rancangan Aturan Kemasan Kemenkes
Divonis 4,5 Tahun Penjara...
Divonis 4,5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Ganti Pengganti Rp3,4 Miliar, Noel: Saya Menerima Hukuman Itu
GREAT Institute Dorong...
GREAT Institute Dorong Program MBG Tetap Berjalan dan Semakin Berkualitas
Silmy Karim Ditahan...
Silmy Karim Ditahan KPK, Yusril Ungkap Modus 'Permainan' di Jajaran Imigrasi
Infografis
10 Negara dengan Tingkat...
10 Negara dengan Tingkat Pendidikan Tertinggi di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved