Wiranto janji akan nasionalisasi aset migas

Minggu, 15 Desember 2013 - 09:02 WIB
Wiranto janji akan nasionalisasi...
Wiranto janji akan nasionalisasi aset migas
A A A
Sindonews.com - Calon Presiden (Capres) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Wiranto menyebutkan, Indonesia saat ini tengah kehilangan kedaulatan.

Salah satu penyebabnya, kekayaan minyak dan gas (migas) yang dimiliki Indonesia justru banyak dikuasai perusahaan asing.

Karena itu, jika dipercaya rakyat, dia siap malakukan nasionalisasi terhadap tambang Migas yang banyak dikuasai asing. Menurutnya, itu adalah amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33.

Karena itu, pemimpin wajib mengembalikan kedaulatan migas untuk dikelola untuk kemakmuran rakyat. “Minyak? Kita kembalikan pasal 33. Para pemangku jabatan harus melaksanakan pasal 33 tanpa ditawar. Harus benar-benar untuk kesejahteraan,” ujarnya dalam acara deklarasi Majelis Cendikiawan Republik Indonesia (MCRI) di Universitas Hasanuddin Makassar, Sabtu 14 Desember 2013.

Menurut dia, Indonesia telah kehilangan kedaulatan atas migas. Negara kaya, tetapi yang menikmati negara lain. Banyak Undang-Undang (UU) terkait migas diakali untuk kepentingan kapitalis dari luar.

Pernyataan itu dilontarkan Wiranto menanggapi tantangan Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Ugan Gandar yang juga tampil sebagai nara sumber. “Dari aspek energi, bangsa kita tidak berdaulat lagi. Saya harap kehadiran bapak (Wiranto) merebut kembali itu,” ujarnya.

Menurut Ugan, perut bumi Indonesia memproduksi minyak 830 ribu barel per hari. Namun hanya 120 ribu barel atau 15 persen yang dikelola PT Pertamina. Selebihnya dikuasai perusahaan asing.

Dalam deklarasi yang dirangkaikan dengan simposium “Membangun Karakter Pancasilais dan Kemandirian Bangsa” Wiranto menyebut hilangnya persatuan nasional. Demikian juga dengan karakter pancasila serta nasionalisme yang hilang ditelan globalisasi.

"Kemana persatuan nasional yang pernah kita miliki. Sekarang kok tidak satu lagi, polisi dan tentara berkelahi, antara suku berkelahi, aparat dan demonstran berkelahi,” ujarnya.

Mantan Panglima ABRI (TNI) ini mengemukakan, memudarnya semangat kebangsaan dan persatuan disebabkan bangsa kehilangan musuh bersama. Disaat yang sama, globalisasi melumat nilai-nilai luhur dan budaya bangsa.

“Globalisasi menjadi malapetakan bagi negara yang tidak siap karena menyebarkan budaya baru yang mereduksi nilai yang ada, membuat masyarakat merasa menjadi masyarakat dunia. Peran pemerintah dilemahkan dengan sistem liberalisasi,” ujar Ketua Umum DPP Partai Hanura ini.
(maf)
Berita Terkait
DPP Diminta Pertimbangkan...
DPP Diminta Pertimbangkan Dukungan 16 DPC untuk Amsal Pimpin Hanura Sulsel
Didorong jadi Ketua...
Didorong jadi Ketua DPD Hanura Sulsel, Amsal Sowan ke DPP
Jika Diminta DPP, 16...
Jika Diminta DPP, 16 DPC Hanura Siap Berkumpul untuk Amsal
Biarkan Konflik Internal...
Biarkan Konflik Internal Berkepanjangan, DPP Sandera Hanura Sulsel
Amsal Sampetondok Selangkah...
Amsal Sampetondok Selangkah Lagi Pimpin Hanura Sulsel
Tiga Bakal Calon Ketua...
Tiga Bakal Calon Ketua Berebut Kursi 01 Hanura Sinjai
Berita Terkini
Penjelasan Menteri PU...
Penjelasan Menteri PU Dody Hanggodo tentang Isu Tak Mau Salaman dengan Bawahan dan Pakai Private Jet
Kuntadi Jadi Jampidsus,...
Kuntadi Jadi Jampidsus, Yusril: Tugas Pokoknya Selesaikan Kasus Febrie Adriansyah
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Ditjen Imigrasi Siapkan...
Ditjen Imigrasi Siapkan Satu Jenis Paspor Nasional, Nomor Tak Berubah Seumur Hidup
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Infografis
Negara NATO Ini Klaim...
Negara NATO Ini Klaim akan Diinvasi Rusia dalam Beberapa Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved