Politik rasis Demokrat dinilai nodai demokrasi
Senin, 09 Desember 2013 - 16:05 WIB
Politik rasis Demokrat dinilai nodai demokrasi
A
A
A
Sindonews.com - Perbedaan pendapat dijamin dalam negara demokrasi. Tapi tak satu pun negara demokrasi di muka bumi bisa menerima garis politik “perbedaan warna kulit” sebagaimana disampaikan Partai Demokrat lewat Juru Bicaranya, Ruhut Sitompul saat berdialog dengan analis politik UI Boni Hargens di di salah satu televisi swasta, Kamis 5 Desember 2013 lalu.
Menurut Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi, pernyataan Jubir Partai Demokrat Ruhut Sitompul di merupakan racial abuse, penistaan terhadap ras kulit hitam.
“Mumpung belum meluas menjadi paham yang berbahaya, kita harus bersatu dan bergerak menolak dan melawan siapa saja yang hendak mengembangkan politik rasis. Tidak ada tempat bagi rasisme dan perilaku intoleran di negara-negara beradab, apalagi di bumi Pancasila yang kita cintai ini,” katanya melalui rilis yang diterima Sindonews, Senin (9/12/2013).
Untuk membendung dan menetralisir politik rasis ala Partai Demokrat, mantan Jubir Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, bersama Boni Hargens, Neta S Pane, Bambang Soesatyo dan tokoh gerakan sipil (civil society) lainnya, kemarin mendeklarasikan Granad (Gerakan Anti-Diskriminasi) di Jakarta.
“Kita memang masih bermasalah dengan kelompok-kelompok intoleran yang secara laten muncul di berbagai daerah. Tapi itu belum menjadi ancaman serius. Namun menjadi sangat berbahaya ketika hal itu disuarakan secara resmi oleh (jubir) partai politik (Demokrat) yang juga anggota DPR seperti Ruhut Sitompul. Untuk meredamnya, harus ada gerakan yang nyata dan masif dari masyarakat di seluruh Indonesia!”
Adhie menambahkan, di AS dan Eropa hal yang sama juga terus dilakukan. Bahkan ketika racial abuse juga muncul di dunia sepakbola, Presiden FIFA Sepp Blatter mengancam akan mengeluarkan tim yang ada pemain rasisnya dari kompetisi.
Makanya, Granad juga akan minta Badan Kehormatan DPR mencari cara untuk mengeluarkan anggota DPR yang melakukan racial abuse. Atau KPU mengeluarkan parpol yang demikian itu sebagai peserta pemilu.
"Hanya dengan keputusan semacam itu kita bisa melawan rasisme dan diskriminasi. Jika kita tidak melakukan itu, persoalan ini akan terus terjadi dan terjadi lagi. Kita harus menghentikannya. Kita butuh keberanian untuk melakukannya," pungkas Adhie mengutip pernyataan Sepp Blatter.
Baca berita:
Boni Hargens laporkan Ruhut Sitompul ke BK DPR
Menurut Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi, pernyataan Jubir Partai Demokrat Ruhut Sitompul di merupakan racial abuse, penistaan terhadap ras kulit hitam.
“Mumpung belum meluas menjadi paham yang berbahaya, kita harus bersatu dan bergerak menolak dan melawan siapa saja yang hendak mengembangkan politik rasis. Tidak ada tempat bagi rasisme dan perilaku intoleran di negara-negara beradab, apalagi di bumi Pancasila yang kita cintai ini,” katanya melalui rilis yang diterima Sindonews, Senin (9/12/2013).
Untuk membendung dan menetralisir politik rasis ala Partai Demokrat, mantan Jubir Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, bersama Boni Hargens, Neta S Pane, Bambang Soesatyo dan tokoh gerakan sipil (civil society) lainnya, kemarin mendeklarasikan Granad (Gerakan Anti-Diskriminasi) di Jakarta.
“Kita memang masih bermasalah dengan kelompok-kelompok intoleran yang secara laten muncul di berbagai daerah. Tapi itu belum menjadi ancaman serius. Namun menjadi sangat berbahaya ketika hal itu disuarakan secara resmi oleh (jubir) partai politik (Demokrat) yang juga anggota DPR seperti Ruhut Sitompul. Untuk meredamnya, harus ada gerakan yang nyata dan masif dari masyarakat di seluruh Indonesia!”
Adhie menambahkan, di AS dan Eropa hal yang sama juga terus dilakukan. Bahkan ketika racial abuse juga muncul di dunia sepakbola, Presiden FIFA Sepp Blatter mengancam akan mengeluarkan tim yang ada pemain rasisnya dari kompetisi.
Makanya, Granad juga akan minta Badan Kehormatan DPR mencari cara untuk mengeluarkan anggota DPR yang melakukan racial abuse. Atau KPU mengeluarkan parpol yang demikian itu sebagai peserta pemilu.
"Hanya dengan keputusan semacam itu kita bisa melawan rasisme dan diskriminasi. Jika kita tidak melakukan itu, persoalan ini akan terus terjadi dan terjadi lagi. Kita harus menghentikannya. Kita butuh keberanian untuk melakukannya," pungkas Adhie mengutip pernyataan Sepp Blatter.
Baca berita:
Boni Hargens laporkan Ruhut Sitompul ke BK DPR
(kri)