Hampir 100 persen pemilih tak kenal calegnya
Rabu, 30 Oktober 2013 - 11:48 WIB
Hampir 100 persen pemilih tak kenal calegnya
A
A
A
Sindonews.com - Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan hampir mencapai 100 persen pemilih dinilai tak mengenal Calon Legislatif (Caleg) yang bakal dipilihnya nanti pada pemilu 2014 mendatang.
Peneliti Senior CSIS, Philips Jusario Vermonte menilai, tak dikenalnya para caleg karena tingkat kedekatan secara personal antara pemilih dan caleg kurang erat. Sehingga, hal itu bisa berakibat buruk terhadap sistem keterwakilan untuk daerah pemilihannya nanti.
"97 persen pemilih kita enggak kenal calonnya. Jadi itu memang menunjukkan politikus kita enggak berhasil dikonstituen," kata Philip kepada Sindonews, Jakarta, Rabu (30/10/2013).
Akhirnya, kata Philip, jalan yang ditempuh para caleg adalah melalui pendekatan uang atau politik transaksional. Hal itu justru membuat pendidikan politik bagi masyarakat semakin mundur.
"Disitu letak politik transaksional terus berkembang," ujar Philip.
Dikatakan dia, politik dengan pendekatakan uang memang susah dihapus untuk konteks saat ini. Tetapi, baginya pendekatan terhadap pemilih dengan modal sosial jauh lebih murah biayanya ketimbang pendekatan uang.
"Politikus yang bisa membangun komunikasi dengan konstituen saya kira akan lebih murah biaya politiknya," tutupnya.
Baca berita:
Pemilih terbelah antara figur caleg atau parpol
Peneliti Senior CSIS, Philips Jusario Vermonte menilai, tak dikenalnya para caleg karena tingkat kedekatan secara personal antara pemilih dan caleg kurang erat. Sehingga, hal itu bisa berakibat buruk terhadap sistem keterwakilan untuk daerah pemilihannya nanti.
"97 persen pemilih kita enggak kenal calonnya. Jadi itu memang menunjukkan politikus kita enggak berhasil dikonstituen," kata Philip kepada Sindonews, Jakarta, Rabu (30/10/2013).
Akhirnya, kata Philip, jalan yang ditempuh para caleg adalah melalui pendekatan uang atau politik transaksional. Hal itu justru membuat pendidikan politik bagi masyarakat semakin mundur.
"Disitu letak politik transaksional terus berkembang," ujar Philip.
Dikatakan dia, politik dengan pendekatakan uang memang susah dihapus untuk konteks saat ini. Tetapi, baginya pendekatan terhadap pemilih dengan modal sosial jauh lebih murah biayanya ketimbang pendekatan uang.
"Politikus yang bisa membangun komunikasi dengan konstituen saya kira akan lebih murah biaya politiknya," tutupnya.
Baca berita:
Pemilih terbelah antara figur caleg atau parpol
(kri)