Hanya 6 daerah punya alat deteksi darah tercemar

Rabu, 23 Oktober 2013 - 05:03 WIB
Hanya 6 daerah punya...
Hanya 6 daerah punya alat deteksi darah tercemar
A A A
Sindonews.com - Kepala Unit Donor Darah PMI DKI Jakarta Sahlimar Salim membenarkan ditemukannya kantong darah yang sudah terkontaminasi HIV/AIDS di beberapa daerah belakangan ini. Hal ini bukan hanya terjadi di daerah, tapi juga pernah ditemukan di Jakarta.

Menurut dia, proses screening hanya dapat dilakukan setelah pendonor melakukan transfusi darah. Sebelum pendonor melakukan transfusi darah, PMI melakukan pemeriksaan seperti Hemoglobin (hb).

“Saat pemeriksaan hb HIV dan penyakit menular lainya tidak terdeteksi. Setelah diambil darahnya dan dilakukan screening barulah terlihat apakah terdapat empat penyakit yaitu HIV, hepatitis B dan C dan sipilis,” tandasnya saat dihubungi SINDO, Selasa 22 Oktober 2013.

Sahlimar mengatakan, darah yang tercemar oleh empat penyakit tersebut dipastikan tidak akan diberikan kepada rumah sakit untuk diberikan ke pasien. Proses screening ini sangat membantu dan menentukan apakah darah tersebut terbebas dari penyakit menular.

Maka, proses pembuangan darah yang tercemar tersebut dilakukan bersama pihak ketiga dengan pendampingan dan pengawasan untuk memastikan darah tersebut benar-benar dimusnahkan dengan cara dibakar.

“Kita selalu melakukan screening sebelum darah kita distribusikan. ini bentuk pengamanan yang kami lakukan. PMI tidak akan memberikan darah yang tercemar virus-virus tersebut,” ujar dia.

Selama ini proses screening dilakukan pada dua tabung 5cc untuk melakukan penyaringan darah di laboratorium serologi dengan dua alat yaitu elisa dan nucleic acid amplification technologies (NAT).

NAT merupakan alat baru yg sangat membantu PMI untuk dapat mendeteksi darah yang tercemar virus. Sayangnya hanya beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Semarang dan Bali dikarenakan alat tersebut sangatlah mahal.

“Darah yang baru tercemar HIV/AIDS dapat deteksi dengan pemeriksaan NAT. Jika dengan pemeriksaan Elisa maka hal tersebut belum bisa,” ungkap dia.

Pengamanan darah juga menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemda, hal ini tertuang pada PP Nomor 7 Tahun 2011. Untuk itu diharapkan pemerintah dapat menyediakan NAT untuk setiap daerah. Hal ini dinilai perlu guna meningkatkan kualitas darah.

Saat ini presentase dari darah yang tercemar HIV/AIDS hanya sekitar 0,2 persen dan darah yang tercemar hepatitis B sekitar 1,4 persen. Paling tinggi ialah hepatitis B menepati urutan pertama lalu hepatitis C, sipilis lalu HIV AIDS.

Baca berita:
Pemerintah ajak tingkatkan deteksi dini kanker
(kri)
Berita Terkait
Saleh Husin: Kerukunan...
Saleh Husin: Kerukunan Warga Dapat dan Olahraga juga Dapat
Buka Cabang di GDC,...
Buka Cabang di GDC, Satu Dental Ingin Kesehatan Gigi Masyarakat Terjaga
Kondisi Kesehatan Dinilai...
Kondisi Kesehatan Dinilai Sangat Mempengaruhi Kualitas Fokus Otak
Fenomena Bocah Disunat...
Fenomena Bocah Disunat Jin, Begini Penjelasan Ketua IDI Tangsel
Menjaga Kesehatan Masyarakat...
Menjaga Kesehatan Masyarakat Indonesia
Pentingnya Upaya Peningkatan...
Pentingnya Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat
Berita Terkini
Eks Jubir KPK Febri...
Eks Jubir KPK Febri Diansyah Resmi Jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK: Gak Pakai Rompi Ye!
Breaking News! Febrie...
Breaking News! Febrie Adriansyah Ditahan Kejagung
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Selesai Diperiksa, 2 Mobil Tahanan Siaga di Kejagung
Pemeriksaan Febrie Adriansyah...
Pemeriksaan Febrie Adriansyah di Kejagung, Eks Penyidik KPK: Penahanan Penting agar Penyidikan Tak Diintervensi
Kritisi Rapat Pleno...
Kritisi Rapat Pleno IX AMPI, Wasekjen Leriadi: Produknya Cacat Hukum
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved