Ikut Konvensi Demokrat, Anies Baswedan tak khawatir dicibir
Kamis, 05 September 2013 - 17:20 WIB
Ikut Konvensi Demokrat, Anies Baswedan tak khawatir dicibir
A
A
A
Sindonews.com - Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengaku keikutsertaan dalam Konvensi Partai Demokrat dalam rangka untuk memenuhi undangan dari Komite Konvensi. Diakuinya masyarakat mengkritisi langkah yang diambilnya tersebut.
"Mereka mengundang warga negara untuk berkontribusi pada Republik. Sebagai warga negara, saya memenuhi undangan itu. Semoga ini menjadi tradisi politik yang baik dan sehat,” ujar Anies di UGM, Yogyakarta, Kamis (5/9/2013).
Anies mengaku siap menghadapi resiko atas tindakannya tersebut, termasuk mendapat cibiran dan kritik dari masyarakat. Ia pun sudah siap jika dinyatakan menang atau kalah dari konvensi tersebut.
“Saya tidak ingin dikenang oleh putra-putri saya, hanya karena ayahnya mundur (dari konvensi) karena takut dicaci-maki dan dicibir,” tuturnya.
Dalam seminar peringatan Dies Natalis Sekolah Pascasarjana UGM, Anies mengatakan, perguruan tinggi harus mampu membentuk lulusan yang menjadi agen perubahan di masyarakat, bukan lulusan pencari kerja. Ia mengajak para sarjana untuk mau turun ke desa.
“Perguruan tinggi itu harus menghasilkan agen perubahan, bukan penyedia tenaga kerja. Di tengah tantangan dunia modern sekarang ini perguruan tinggi juga harus mengemban perannya sebagai "eskalator" yang menjembatani kesuksesan mahasiswa, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu," ujarnya.
Sementara Diretur SPS UGM Prof Dr Hartono mengatakan, masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah ketimpangan infrastruktur, sarana dan prasarana dan ketersediaan energi.
Menurutnya, dukungan yang dapat diberikan perguruan tinggi dalam rangka ikut serta memecahkan permasalahan bangsa tersebut adalah menghasilkan lulusan yang menguasai iptek dengan pendekatan ilmu monodisiplin, multidisplin, interdisiplin dan transdisiplin.
"Kami sadar akan pentingnya peranan perguruan tinggi mencetak lulusan yang bisa berbuat bagi bangsa ini. Karenanya, kami berusaha mencetak lulusan yang memiliki keahlian ilmu, khususnya memecahkan persoalan bangsa yang ada saat ini," tuturnya.
"Mereka mengundang warga negara untuk berkontribusi pada Republik. Sebagai warga negara, saya memenuhi undangan itu. Semoga ini menjadi tradisi politik yang baik dan sehat,” ujar Anies di UGM, Yogyakarta, Kamis (5/9/2013).
Anies mengaku siap menghadapi resiko atas tindakannya tersebut, termasuk mendapat cibiran dan kritik dari masyarakat. Ia pun sudah siap jika dinyatakan menang atau kalah dari konvensi tersebut.
“Saya tidak ingin dikenang oleh putra-putri saya, hanya karena ayahnya mundur (dari konvensi) karena takut dicaci-maki dan dicibir,” tuturnya.
Dalam seminar peringatan Dies Natalis Sekolah Pascasarjana UGM, Anies mengatakan, perguruan tinggi harus mampu membentuk lulusan yang menjadi agen perubahan di masyarakat, bukan lulusan pencari kerja. Ia mengajak para sarjana untuk mau turun ke desa.
“Perguruan tinggi itu harus menghasilkan agen perubahan, bukan penyedia tenaga kerja. Di tengah tantangan dunia modern sekarang ini perguruan tinggi juga harus mengemban perannya sebagai "eskalator" yang menjembatani kesuksesan mahasiswa, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu," ujarnya.
Sementara Diretur SPS UGM Prof Dr Hartono mengatakan, masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah ketimpangan infrastruktur, sarana dan prasarana dan ketersediaan energi.
Menurutnya, dukungan yang dapat diberikan perguruan tinggi dalam rangka ikut serta memecahkan permasalahan bangsa tersebut adalah menghasilkan lulusan yang menguasai iptek dengan pendekatan ilmu monodisiplin, multidisplin, interdisiplin dan transdisiplin.
"Kami sadar akan pentingnya peranan perguruan tinggi mencetak lulusan yang bisa berbuat bagi bangsa ini. Karenanya, kami berusaha mencetak lulusan yang memiliki keahlian ilmu, khususnya memecahkan persoalan bangsa yang ada saat ini," tuturnya.
(kri)