Manfaatkan konvensi raih kekuasaan, ciri pemimpin pragmatis
Jum'at, 30 Agustus 2013 - 08:35 WIB
Manfaatkan konvensi raih kekuasaan, ciri pemimpin pragmatis
A
A
A
Sindonews.com - Beberapa tokoh non partai sudah membulatkan tekadnya ikut dalam konvensi penjaringan calon presiden (Capres) Partai Demokrat. Mereka diantaranya adalah Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, Dino Patti Djalal, Irman Gusman, dan Anies Baswedan.
Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengatakan, pada prinsipnya mengikuti konvensi merupakan hak masing-masing orang.
Akan tetapi, para kandidat itu harus sadar bahwa untuk menjadi seorang kepala negara, kemampuan atau pengalaman manajerial saja tak cukup memadai untuk kekuasaan besar.
"Sebagai jabatan politik, jabatan presiden didesain untuk tokoh yang tak saja punya kemampuan teknis managerial, akan tetapi juga punya spirit ideologis yang menentukan arah bangsa di bawah kepemimpinanya," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Kamis (29/8/2013) malam.
Menurutnya, calon presiden (Capres) tak bisa lahir dengan keputusan sekejap hanya karena modal sudah dikenal orang. Mimpi atau cita-cita menjadi presiden harus diikuti dengan semangat untuk mengenal dunia politik melalui pengalaman berpolitik berjenjang di tubuh partai politik.
"Atau bidang lain yang bisa membuktikan karakter kepemimpinan serta visi kepemimpinan macam apa yang menjadi ciri khasnya," paparnya
Dirinya menilai, memanfaatkan konvensi untuk menggapai kekuasaan tanpa berjuang panjang menapaki jagad politik merupakan ciri pemimpin pragmatis. Pasalnya, jabatan presiden bukan jabatan coba-coba.
"Karenanya konvensi ini, jika kandidat yang berintegritas harusnya dibaca sebagai cara instan untuk meraih kekuasaan. Dari keputusan untuk menentukan ikut atau tidak konvensi saja sudah terbaca sesungguhnya karakter pemimpin seperti apa jika seseorang ikut di dalamnya," tandasnya.
Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengatakan, pada prinsipnya mengikuti konvensi merupakan hak masing-masing orang.
Akan tetapi, para kandidat itu harus sadar bahwa untuk menjadi seorang kepala negara, kemampuan atau pengalaman manajerial saja tak cukup memadai untuk kekuasaan besar.
"Sebagai jabatan politik, jabatan presiden didesain untuk tokoh yang tak saja punya kemampuan teknis managerial, akan tetapi juga punya spirit ideologis yang menentukan arah bangsa di bawah kepemimpinanya," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Kamis (29/8/2013) malam.
Menurutnya, calon presiden (Capres) tak bisa lahir dengan keputusan sekejap hanya karena modal sudah dikenal orang. Mimpi atau cita-cita menjadi presiden harus diikuti dengan semangat untuk mengenal dunia politik melalui pengalaman berpolitik berjenjang di tubuh partai politik.
"Atau bidang lain yang bisa membuktikan karakter kepemimpinan serta visi kepemimpinan macam apa yang menjadi ciri khasnya," paparnya
Dirinya menilai, memanfaatkan konvensi untuk menggapai kekuasaan tanpa berjuang panjang menapaki jagad politik merupakan ciri pemimpin pragmatis. Pasalnya, jabatan presiden bukan jabatan coba-coba.
"Karenanya konvensi ini, jika kandidat yang berintegritas harusnya dibaca sebagai cara instan untuk meraih kekuasaan. Dari keputusan untuk menentukan ikut atau tidak konvensi saja sudah terbaca sesungguhnya karakter pemimpin seperti apa jika seseorang ikut di dalamnya," tandasnya.
(kri)