Dana kampanye parpol dipertanyakan

Senin, 26 Agustus 2013 - 22:30 WIB
Dana kampanye parpol...
Dana kampanye parpol dipertanyakan
A A A
Sindonews.com - Besarnya biaya politik dalam pemilihan umum (pemilu), membuat masyarakat harus mewaspadai perburuan rente atau uang oleh para aktor politik, pasalnya biaya politik kian meningkat.

Pengamat psikologi politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk mengatakan, kewaspadaan ini tidaklah lepas dari budaya politik Indonesia yang belum memiliki budaya menyumbang dari para konstituen.

Menurutnya, saat ini sedikit sekali kontituen yang memberikan sumbangan terhadap partai politik (parpol). Padahal jumlah biaya yang dibutuhkan cukup besar. Sehingga tentunya menimbulkan pertanyaan dari mana dan bagaimana pendanaan para aktor politik diperoleh.

"Kalau kita kebalik. Bukan disumbang tetapi ada juga malah bagi-bagi kaos," kata Hamdi dalam Dialog Empat Pilar yang bertema Pengamalan Nilai-Nilai 4 Pilar dalam Meredam Berbagai Konflik di Tubuh NKRI di Gedung MPR, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (26/8/2013).

Dia mengatakan, dalam teorinya, parpol merupakan milik publik. Seharusnya pembiayaannya pun seperti negara yang saat ini juga berasal dari pajak rakyat. Namun demikian, hal tersebut tentunya digunakan untuk publik juga nantinya.

"Negara juga dari publik ke publik. Parpol juga harus begitu. Walau sekarang parpol ada oligarki yakni partai merasa dimiliki oleh seseorang. Padahal teorinya parpol itu tidak ada milik individu," ucapnya.

Terkait dengan kerawanan konflik, Hamdi menilai jika menengok pemilihan legislatif (Pileg) maupun pemilihan presiden (Pilpres) tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasalnya dalam pileg maupun pilpres tidak terlalu membara. "Di pilkada (Pemilihan Kepala Daera) ada, tetapi kausitik. Dua periode relatif aman," katanya.

Dia mengatakan konflik politik memang berpotensi terjadi dari masa pencalonan hingga penentapan hasil. Jika melihat masa pencalonan, konflik akan terjadi dalam internal partai. Kemudian terkait ketegangan masa kampanye yang melibatkan masyarakat, Hamdi menilai masyarakat sudah cukup dewasa.

"Hari pencoblosan dan pasca pemilihan. Semua rangkaian dari pencalonan hingga pasca itu akan terjadi konflik jika KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) tidak profesional," katanya.
(maf)
Berita Terkait
Pemerintah Belum Tuntaskan...
Pemerintah Belum Tuntaskan Hak 2.747 Penyelenggara Pemilu 2014
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Bayar Uang Penghargaan Penyelenggara Pemilu 2014
Kebocoran Data Pemilih...
Kebocoran Data Pemilih Pemilu 2014, Ini Kata KPU DIY
Capaian Partai Gerindra...
Capaian Partai Gerindra di Pemilu 2009, 2014, dan 2019
Peretas Diduga Bobol...
Peretas Diduga Bobol Data Pemilih Pemilu 2014 Melalui KPU
Data Pemilih Pemilu...
Data Pemilih Pemilu 2014 Diduga Dibobol, Termasuk DPT Bantul
Berita Terkini
Kejagung: Proyek Motor...
Kejagung: Proyek Motor Listrik BGN Rp1 Triliun Jatuh ke Vendor yang Tak Penuhi Syarat
Dadan Hindayana Tersangka...
Dadan Hindayana Tersangka Dugaan Korupsi MBG, PDIP Minta Pengawasan Diperketat
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi...
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi K3, Noel: Kalau Saya Terbukti Peras Pengusaha Hukum Mati
Berkas Roy Suryo Cs...
Berkas Roy Suryo Cs P21, Polda Metro Diminta Segera Lakukan Pelimpahan Tahap Dua
Dadan Hindayana Cs Terjerat...
Dadan Hindayana Cs Terjerat Korupsi, DPR Perketat Pengawasan Tata Kelola di BGN
Infografis
Mahkamah Konstitusi:...
Mahkamah Konstitusi: Foto Kampanye Tidak Boleh Dipoles Pakai AI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved