Atasi budaya hedon perlu pendekatan agama
Senin, 10 Juni 2013 - 18:33 WIB
Atasi budaya hedon perlu pendekatan agama
A
A
A
Sindonews.com - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengatakan, untuk mengatasi persoalan hedonisme pada masyarakat Indonesia, dibutuhkan energi spiritual dan intelektual manusia.
"Sehingga menghasilkan pemahaman bersama untuk menciptakan perdamaian dan menghadapi dunia modern secara tepat tanpa terseret arus konsumerisme dan hedonisme," ucap Syafii Maarif dalam kuliah umum bertajuk Ethics, Interreligious Dialogue, War and Peace di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Senin (10/6/2013).
Menurut Syafii, agama dalam hal ini tidak hanya berperan secara relevan untuk menciptakan energi spiritual tersebut, namun juga memiliki nilai lebih untuk menggantikan paradigma tentang dunia modern yang tak lepas dari hedonisme.
"Semua energi harus diciptakan untuk menghasilkan kedamaian dan memerangi perang. Manusia sebagai homo sapiens yang otentik harus membuka diri atas kehidupannya sebagai manusia nyata," jelasnya.
Syafii mengungkapkan, selain ketidakbermanfaatan hidup manusia, agama di dunia modern ini yang seharusnya menjadi alat pemersatu bangsa justru dipakai manusia untuk melakukan tindakan kekerasan.
"Sebab mereka kehilangan ketulusan dan spiritualitas diri dalam melaksanakan agamanya karena lebih banyak fokus pada kehidupan hedonis. Sains dan teknologi pun hanya diproduksi untuk mendukung perang antar manusia," ucapnya.
Akibatnya meski orang mengaku beragama, mereka justru berperilaku laiknya setan. "Orang beragama membajak Tuhan untuk melakukan kekerasan. Bahkan para pemimpin modern pun meragukan agama dalam eksitensi manusia," tandasnya.
"Sehingga menghasilkan pemahaman bersama untuk menciptakan perdamaian dan menghadapi dunia modern secara tepat tanpa terseret arus konsumerisme dan hedonisme," ucap Syafii Maarif dalam kuliah umum bertajuk Ethics, Interreligious Dialogue, War and Peace di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Senin (10/6/2013).
Menurut Syafii, agama dalam hal ini tidak hanya berperan secara relevan untuk menciptakan energi spiritual tersebut, namun juga memiliki nilai lebih untuk menggantikan paradigma tentang dunia modern yang tak lepas dari hedonisme.
"Semua energi harus diciptakan untuk menghasilkan kedamaian dan memerangi perang. Manusia sebagai homo sapiens yang otentik harus membuka diri atas kehidupannya sebagai manusia nyata," jelasnya.
Syafii mengungkapkan, selain ketidakbermanfaatan hidup manusia, agama di dunia modern ini yang seharusnya menjadi alat pemersatu bangsa justru dipakai manusia untuk melakukan tindakan kekerasan.
"Sebab mereka kehilangan ketulusan dan spiritualitas diri dalam melaksanakan agamanya karena lebih banyak fokus pada kehidupan hedonis. Sains dan teknologi pun hanya diproduksi untuk mendukung perang antar manusia," ucapnya.
Akibatnya meski orang mengaku beragama, mereka justru berperilaku laiknya setan. "Orang beragama membajak Tuhan untuk melakukan kekerasan. Bahkan para pemimpin modern pun meragukan agama dalam eksitensi manusia," tandasnya.
(maf)