Jadi Waketum Demokrat, Yenny akan timbulkan friksi

Rabu, 10 April 2013 - 06:03 WIB
Jadi Waketum Demokrat,...
Jadi Waketum Demokrat, Yenny akan timbulkan friksi
A A A
Sindonews.com - Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Profesor Iberamsjah berpendapat, bergabungnya Zanuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid ke Partai Demokrat akan menghadirkan friksi. Apalagi, jika putri KH Abdurrahman Wahid ini langsung menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Demokrat.

"Kehadiran Yenny akan mengecewakan orang-orang yang ada di Demokrat sekarang. Kader-kadernya merasa dilangkahi dong, masa baru masuk langsung jadi waketum. Yang benar aja," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Selasa (9/4/2013) malam.

Menurutnya, kedatangan Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) dan langsung diberi jabatan strategis akan menghadirkan kecemburuan. Sebab, lanjutnya, banyak kader Partai Demokrat yang lebih memiliki kemampuan mumpuni dan jam terbang tinggi dalam berpolitik dibandingkan Yenny Wahid.

"Pasti akan terjadi friksi dan gesekan baru di internal. Banyak yang senior dan lebih handal dari Yenny di internal Demokrat untuk dijadikan Waketum, kenapa mesti mengambil orang luar," katanya.

Ia menambahkan, akan ada pemakluman dari internal partai berlambang mercy ini jika yang diajak bergabung dan diberikan posisi strategis adalah tokoh besar. Namun, jika levelnya masih setingkat hal itu akan menjadi bahan pergunjingan kader yang sudah banyak berkeringat bersama Partai Demokrat.

"Andaikata yang diambil Mahfud MD, yang lebih berkharisma mungkin bolehlah. Tapi Yenny siapa sih? Jadi Stafsus Presiden SBY dulu gagal total, enggak bia kerja apa-apa. Enggak ada prestasi Yenny, cuma menyandang nama besar Gusdur aja," pungkasnya.

Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua mengatakan, tak ada jaminan Yenny Wahid bakal mengisi posisi Waketum Partai Demokrat. Namun, Yenny dikatakan akan menduduki posisi strategis.

"Saya kira tidak, dipikirkan lagi banyak kader yang sudah sekian tahun, ada keinginan di posisi puncak Partai Demokrat, Ibu Yenny masuk di posisi strategis tapi bukan Waketum," ujar Max di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa 9 April 2013.

Menurut Max, posisi Waketum akan diisi Nurhayati Alie Assegaf selanjutnya Wasekjen digantikan Andi Nurpati yang sebelumnya Ketua DPP Partai Demokrat bidang Eksternal dan LSM.

"Struktur partai tidak banyak mengalami perubahan dan belum resmi, belum definitif mungkin ada rapat beberapa kali, baru kita akan umumkan ke pers," ujarnya.

Mengenai posisi waketum, anggota Komisi I DPR RI ini menjamin akan diisi oleh orang-orang berasal dari Jawa. "Saya kira dari Jawa ada, waketum sekarang disebut tidak ada di Jawa, nanti diisi, Pak SBY akan memilih secara cermat," pungkasnya.
(kri)
Berita Terkait
Tolak KLB Sibolangit,...
Tolak KLB Sibolangit, Demokrat Sumut Tetap Loyal Pada AHY
Pesan Moeldoko ke AHY:...
Pesan Moeldoko ke AHY: Jadi Pemipin Harus Kuat, Jangan Baperan
Makin Panas, Moeldoko...
Makin Panas, Moeldoko Disebut Bagi-bagi Uang dan Ponsel saat KLB Demokrat di Deli Serdang
Kader Muda Demokrat...
Kader Muda Demokrat Dukung KLB Partai Demokrat
Penyerahan Surat Rekomendasi...
Penyerahan Surat Rekomendasi Partai Demokrat untuk Pilkada 2024
Partai Demokrat Keluarkan...
Partai Demokrat Keluarkan 60 Rekomendasi Pilkada 2024, Ada Marshel Widianto dan Gilang Dirga
Berita Terkini
Hery Susanto Diberhentikan...
Hery Susanto Diberhentikan Tidak Hormat dari Ketua Ombudsman, Mensesneg: Nanti Kita Tindak Lanjuti
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved