Tingkat pendidikan pengaruhi tingginya kematian ibu
Senin, 01 April 2013 - 22:12 WIB
Tingkat pendidikan pengaruhi tingginya kematian ibu
A
A
A
Sindonews.com - Persoalan pendidikan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan selain keterjangkauan akses sarana kesehatan.
Hal ini dikarenakan sebanyak 33 persen wanita di Indonesia tidak tamat sekolah dasar. Seperti yang diungkapkan oleh utusan Presiden untuk MDGs Indonesia Prof Dr Nila F Moeloek di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gajah Mada (UGM).
Nila mengatakan, rata-rata ibu di Indonesia tidak mengerti jika saat kehamilan harus menjaga kesehatannya. "Kasus kematian ibu tertinggi disebabkan akibat pendarahan, lalu kasus kejang, infeksi serta anemia. Paling banyak karena bleeding, rata-rata 70 persen hemoglobin mereka rendah,” katanya dalam orasi ilmiah Tantangan dan hambatan MGDs Indonesia, di Yogyakarta, Senin (1/4/2013).
Nila menyebutkan, saat ini angka kematian ibu mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu tersebut telah dilakukan oleh pemerintah melalui program jaminan persalinan (jampersal).
Namun yang tidak kalah lebih penting menurutnya, ibu-ibu harus mengubah cara pandang mereka untuk menjaga kesehatan mereka. ”Wanita harus pandai menentukan hidupnya sendiri, mampu menjaga kesehatan mereka jangan sampai kurang gizi, terkena infeksi penyakit seperti TBC, Malaria, cacingan,” ucapnya.
Untuk mengurangi angka kematian ibu tidak cukup bergantung pada program kerja Kementerian kesehatan namun menjadi tanggungjawab lintas sektor. Dia menyebutkan Kemendiknas dan Kemnterian Pekerjaan Umum memiliki tanggungjawab yang sama.
“Harus lintas sektor, terkait infrastruktur dan sarana pelayanan kesehatan terutama di daerah marginal,” ujarnya.
Hal ini dikarenakan sebanyak 33 persen wanita di Indonesia tidak tamat sekolah dasar. Seperti yang diungkapkan oleh utusan Presiden untuk MDGs Indonesia Prof Dr Nila F Moeloek di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gajah Mada (UGM).
Nila mengatakan, rata-rata ibu di Indonesia tidak mengerti jika saat kehamilan harus menjaga kesehatannya. "Kasus kematian ibu tertinggi disebabkan akibat pendarahan, lalu kasus kejang, infeksi serta anemia. Paling banyak karena bleeding, rata-rata 70 persen hemoglobin mereka rendah,” katanya dalam orasi ilmiah Tantangan dan hambatan MGDs Indonesia, di Yogyakarta, Senin (1/4/2013).
Nila menyebutkan, saat ini angka kematian ibu mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu tersebut telah dilakukan oleh pemerintah melalui program jaminan persalinan (jampersal).
Namun yang tidak kalah lebih penting menurutnya, ibu-ibu harus mengubah cara pandang mereka untuk menjaga kesehatan mereka. ”Wanita harus pandai menentukan hidupnya sendiri, mampu menjaga kesehatan mereka jangan sampai kurang gizi, terkena infeksi penyakit seperti TBC, Malaria, cacingan,” ucapnya.
Untuk mengurangi angka kematian ibu tidak cukup bergantung pada program kerja Kementerian kesehatan namun menjadi tanggungjawab lintas sektor. Dia menyebutkan Kemendiknas dan Kemnterian Pekerjaan Umum memiliki tanggungjawab yang sama.
“Harus lintas sektor, terkait infrastruktur dan sarana pelayanan kesehatan terutama di daerah marginal,” ujarnya.
(maf)