SBY diminta tak usah khawatir berlebihan
Jum'at, 15 Maret 2013 - 18:17 WIB
SBY diminta tak usah khawatir berlebihan
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta tidak perlu merasa khawatir yang berlebihan, lantaran santernya isu yang ingin melengserkannya belakangan ini.
Hal demikian dikatakan Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Amanat Nasional (PAN), Viva Yoga Mauladi usai mengisi acara diskusi dengan tema 'Dibalik Merger Parpol, Siapa di Untungkan', di Gedung Bawaslu, Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (15/3/2013).
"Tidak boleh khawatir. Presiden kok khawatir. Ya khawatir yang berlebihan, tidak boleh lah,"ujar anggota Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) itu.
Menurut Anggota Komisi IV DPR RI ini, rencana pelengseran SBY berdasarkan kondisi di lapangan saat ini sebenarnya tidak akan terjadi. "Kondisi objektif itu untuk melakukan makar itu tidak ada,"katanya.
hal itu dikemukakannya menanggapi sejumlah pertemuan yang dilakukan SBY bersama sejumlah tokoh belakangan ini, mulai dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto, tujuh jenderal purnawirawan TNI, 13 pimpinan organisasi Islam dan para Pimpinan Redaksi (Pimred) media nasional.
Hal demikian dikatakan Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Amanat Nasional (PAN), Viva Yoga Mauladi usai mengisi acara diskusi dengan tema 'Dibalik Merger Parpol, Siapa di Untungkan', di Gedung Bawaslu, Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (15/3/2013).
"Tidak boleh khawatir. Presiden kok khawatir. Ya khawatir yang berlebihan, tidak boleh lah,"ujar anggota Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) itu.
Menurut Anggota Komisi IV DPR RI ini, rencana pelengseran SBY berdasarkan kondisi di lapangan saat ini sebenarnya tidak akan terjadi. "Kondisi objektif itu untuk melakukan makar itu tidak ada,"katanya.
hal itu dikemukakannya menanggapi sejumlah pertemuan yang dilakukan SBY bersama sejumlah tokoh belakangan ini, mulai dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto, tujuh jenderal purnawirawan TNI, 13 pimpinan organisasi Islam dan para Pimpinan Redaksi (Pimred) media nasional.
(kri)